Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Mahasiswa UNISBA Blitar Kembangkan Sayuran Organik, Panen Mulai 25 Hari dan Dipasarkan Lewat Pre-Order

By On September 01, 2026



Mahasiswa UNISBA Blitar merawat bayam, selada, pakcoy, caisim dan kangkung organik di greenhouse kampus.

Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar merawat tanaman sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Blitar, Jawa Timur | JNO – Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar terus mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan melalui produksi berbagai jenis sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran dan kewirausahaan mahasiswa, khususnya melalui pengelolaan produksi pertanian yang mengedepankan metode budidaya tanpa penggunaan pestisida sintetis.

Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Salva Maynina, mengatakan sejumlah komoditas yang saat ini dibudidayakan di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 antara lain bayam, selada, pakcoy, caisim, serta kangkung.

“Untuk bulan ini, di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 ada bayam, selada, pakcoy, caisim, dan juga kangkung. Semua kita tanam menggunakan metode organik, jadi tanpa pestisida, hanya menggunakan POC,” ujar Salva.

Menurutnya, tanaman sayuran tersebut memiliki masa produksi yang relatif singkat. Dalam kondisi pertumbuhan yang baik, sebagian tanaman sudah dapat mulai dipanen pada usia sekitar 24 hingga 25 hari.

“Kurang lebih 25 sampai 30 hari. Biasanya 24 atau 25 hari sudah mulai kita panen, kemudian kita jual. Paling lambat sekitar 30 hari,” jelasnya.

Tiga Greenhouse dengan Komoditas Berbeda

Lokasi budidaya berada di area selatan Kampus Universitas Islam Balitar. Mahasiswa mengelola sedikitnya tiga greenhouse dengan komoditas yang berbeda.

Dua greenhouse digunakan untuk produksi sayuran organik, sementara Greenhouse 3 dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah dan kacang tanah.

Produksi sayuran tersebut menyasar konsumen yang memiliki perhatian terhadap pola makan sehat dan ingin mengurangi konsumsi produk pertanian yang menggunakan pestisida.

“Biasanya pembeli kami adalah orang-orang yang menyukai sayuran organik dan menghindari pestisida. Ada guru, dosen, dan juga ibu-ibu yang memang memilih sayuran yang menurut mereka lebih sehat,” kata Salva.

Harga Mulai Rp5.000 per Kemasan



Untuk pemasaran, produk sayuran organik dijual dengan harga rata-rata Rp5.000 per kemasan. Setiap kemasan memiliki berat sekitar 200 hingga 250 gram, tergantung jenis dan hasil panen.

Pemesanan dilakukan menggunakan sistem pre-order (PO) menjelang masa panen. Informasi pembukaan pemesanan disebarkan melalui pamflet digital, terutama melalui WhatsApp Story dan media sosial Instagram.

Produk tersebut diperkenalkan melalui akun Instagram @thegrowpreneur.hub, yang menjadi salah satu media promosi kegiatan produksi sayuran mahasiswa.

Sejauh ini, pemasaran masih berfokus di wilayah Blitar, terutama kawasan Kota Blitar. Distribusi ke luar kota belum menjadi prioritas karena karakter sayuran segar yang mudah mengalami penurunan kualitas apabila membutuhkan waktu pengiriman terlalu lama.

“Kalau untuk luar kota masih belum, karena produk pertanian ini mudah busuk. Jadi untuk sementara kami menghindari pengiriman yang terlalu jauh,” ungkapnya.

Sayuran Organik Dinilai Memiliki Karakter Rasa Berbeda

Selain mengedepankan metode budidaya tanpa pestisida, mahasiswa juga menilai sayuran organik memiliki karakter tekstur dan rasa yang berbeda.

Salfa mencontohkan tanaman kangkung yang dibudidayakan secara organik memiliki batang lebih lunak sehingga bagian tanaman dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal saat dikonsumsi.

“Dari testimoni yang kami terima, rasanya juga berbeda. Contohnya kangkung, kalau organik batangnya sampai bagian bawah lebih lunak dan ketika dimasak juga lebih enak,” tuturnya.

Mahasiswa pun mengajak masyarakat, khususnya warga di sekitar kampus dan wilayah Blitar, untuk mengenal pilihan produk pertanian yang dibudidayakan dengan metode lebih ramah lingkungan.

Produk hasil panen dikemas dengan baik sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Limbah Panen Diolah Menjadi Kompos

Tidak hanya berfokus pada produksi dan pemasaran, mahasiswa juga menerapkan pengelolaan sisa hasil pertanian.

Sisa-sisa tanaman dari proses panen dikumpulkan dan ditempatkan di area pengomposan yang berada di sekitar greenhouse.

Material organik tersebut kemudian dibiarkan mengalami proses dekomposisi hingga menjadi kompos yang dapat menyatu dengan tanah dan dimanfaatkan kembali.

“Biasanya ada sisa-sisa dari panen. Itu kita jadikan satu di tempat kompos di sebelah greenhouse. Lama-kelamaan akan menjadi kompos dan berbaur dengan tanah,” jelas Salva.

Kegiatan produksi tersebut mendapat pendampingan akademik, salah satunya oleh Army Dita Serdani, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar.

Pengembangan greenhouse sekaligus menjadi ruang praktik bagi mahasiswa untuk mempelajari proses pertanian secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengelolaan produk, pemasaran, hingga pengolahan limbah organik.

Langkah tersebut sejalan dengan pengembangan pendidikan pertanian berbasis praktik dan jiwa kewirausahaan yang menjadi bagian dari pembelajaran di lingkungan Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar. *Red/


Festival Kresnayana XIII di Penataran, Pentahelix Perkuat Budaya dan UMKM Blitar

By On Agustus 29, 2026


Festival Kresnayana XIII “Tresna Tinali Dharma” berlangsung di Amphitheater Penataran, Kabupaten Blitar, Sabtu (29/8/2026) malam. (*Red)

Blitar, Jawa Timur | JNO — Amphitheater Penataran, Kabupaten Blitar, Sabtu (29/8/2026) malam, menjadi panggung perayaan seni dan budaya melalui Festival Kresnayana XIII. Mengusung tema “Tresna Tinali Dharma” yang bermakna Antara Cinta, Kebenaran, dan Pengabdian, pagelaran ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga mempertemukan unsur pemerintah, pelaku budaya, masyarakat, hingga sektor ekonomi kreatif dalam satu ruang kolaborasi.

Pagelaran kebudayaan tersebut dihadiri Bupati Blitar, Drs. Rijanto, M.M., bersama Ibu Ninik Rijanto. Hadir pula Guntur Wahono, S.E., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur sekaligus Sekretaris Badan Kebudayaan Nasional Jawa Timur, serta Sri Sugiharta, S.S., M.P.A., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur.

Festival Kresnayana XIII menjadi momentum penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Blitar. Konsistensi penyelenggaraan hingga tahun ke-13 menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan proses panjang, kesinambungan program, serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat.

Guntur Wahono mengapresiasi kemampuan Kabupaten Blitar mempertahankan Festival Kresnayana secara berkelanjutan.

“Saya sangat bangga, ternyata Blitar mampu menjaga satu tradisi yang sangat luar biasa. Kresnayana ini sudah berjalan selama 13 tahun dan ini selalu berkelanjutan.”

Menurut Guntur, keberlanjutan tersebut merupakan salah satu bentuk nyata pemerintah daerah dalam merawat, melestarikan, dan melindungi kebudayaan.

“Inilah yang harus kita kembangkan terus hingga terwarisi kepada anak-anak cucu kita. Bahkan pada pawai budaya tahun ini, banyak semua daerah menggunakan tema-tema budaya, tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Ini ada satu kemajuan. Inilah tugas kita melakukan pemajuan tentang kebudayaan.”

Pentahelix: Budaya, Masyarakat dan Ekonomi Kreatif

Lebih jauh, Festival Kresnayana XIII dapat menjadi gambaran penerapan pendekatan Pentahelix dalam pemajuan kebudayaan. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, serta media memiliki ruang dan peran masing-masing untuk membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan.

Pemerintah berperan melalui kebijakan, fasilitasi dan dukungan program kebudayaan. Komunitas, seniman, budayawan dan masyarakat menjadi pelaku utama yang menjaga tradisi tetap hidup. Akademisi dapat memberikan penguatan melalui kajian, edukasi dan dokumentasi, sementara dunia usaha turut membuka ruang pengembangan ekonomi kreatif. Media kemudian berperan memperluas publikasi sekaligus mendokumentasikan kekayaan budaya agar semakin dikenal masyarakat luas.

Keterhubungan antara kebudayaan dan ekonomi kreatif juga terlihat dalam rangkaian Festival Kresnayana XIII melalui Mini Bazaar dan Street Food yang turut meramaikan kawasan kegiatan.

Sejak sekitar pukul 17.00 WIB, sejumlah pelaku UMKM telah mulai melayani pengunjung. Beragam stand kuliner lokal, jajanan tradisional khas Blitar, hingga makanan dan minuman kekinian tersedia sebagai bagian dari aktivitas pendukung festival.

Kehadiran bazaar tidak sekadar menjadi pelengkap acara. Ruang tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk, berinteraksi langsung dengan konsumen, sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama festival berlangsung.

Selain kuliner, pengunjung juga dapat menemukan berbagai produk kreatif dan kerajinan, mulai dari handicraft, pernak-pernik, pakaian, hingga oleh-oleh khas daerah.

Dengan demikian, panggung kebudayaan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang pertemuan antara seni, budaya, kreativitas, kewirausahaan, dan ekonomi masyarakat.

Guntur Wahono juga menyampaikan dukungannya terhadap berbagai usulan masyarakat yang berkaitan dengan pengembangan kebudayaan.

“Tentu kami akan mengapresiasi semua usulan-usulan masyarakat yang terkait dalam rangka pengembangan budaya. Jadi ini merupakan satu harapan bagi kita untuk bersama-sama dengan pemerintah daerah berkolaborasi untuk menjaga budaya melalui kemampuan kami yang ada di APBD.”

Sinergi Lintas Elemen

Suksesnya penyelenggaraan Festival Kresnayana XIII juga tidak terlepas dari dukungan dan sinergi jajaran Forkopimda, Forkopimcam, kepala desa, budayawan, seniman, pelaku UMKM, komunitas, serta masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan agenda kebudayaan memiliki dampak yang lebih luas. Tidak hanya mempertahankan eksistensi kesenian tradisional, tetapi juga mendorong tumbuhnya ruang kreatif dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar penyelenggaraan.

Festival Kresnayana XIII pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan epik tahunan. “Tresna Tinali Dharma” yang disutradarai oleh Irwan Riyadi, S.Sn. menjadi pesan bahwa kecintaan terhadap budaya perlu diwujudkan melalui tindakan nyata: merawat tradisi, menjaga nilai-nilai kebenaran, membuka ruang bagi kreativitas, serta mengabdikan seluruh potensi masyarakat untuk keberlanjutan kebudayaan.

Dari panggung Amphitheater Penataran, semangat tersebut kembali ditegaskan: budaya akan tetap hidup ketika pemerintah dan masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi bersama-sama menjadi pelaku, penjaga, pengembang, sekaligus pewarisnya. *Red/

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *