Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Bazar UMKM Pandawa IV Sukosewu dan Ujian “Bazar Berdaulat”: Menuju UMKM Naik Kelas

By On September 14, 2026


Bazar UMKM Pandawa IV manfaatkan jalan Pandawa sepanjang 500 meter 

BLITAR, JAWA TIMUR | JNO — Bazar Pandawa IV di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, telah berakhir pada Minggu malam (13/9/2026). Ribuan warga datang, puluhan stan UMKM memenuhi Jalan Pandawa, 16 lembaga pendidikan ikut tampil, dan panggung ditutup dengan campursari Suko Budoyo.


Mengusung tema “Indonesia Adil dan Makmur, Bazar Berdaulat” dengan slogan “Bazar Pandowo... Gak Mampir Rugi!”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang promosi dan pengembangan UMKM sekaligus wadah bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas.


Penutupan Bazar Pandawa IV pada Minggu malam (13/9/2026) dihadiri Bupati Blitar Drs. Rijanto, M.M., Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar yang sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Guntur Wahono, S.E, jajaran Forkopimcam, tokoh masyarakat, Pemerintah Desa Sukosewu, Karang Taruna, pelaku UMKM, serta masyarakat dari berbagai lapisan.


Bazar tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.


Bazar Pandawa IV diikuti peserta dari 16 lembaga pendidikan di Desa Sukosewu. Puluhan stan UMKM dan stan pendidikan memenuhi kawasan bazar sepanjang sekitar 500 meter di Jalan Pandawa. Para peserta memamerkan berbagai produk, kreativitas warga, serta karya peserta didik.


Bupati: Gotong Royong Sukosewu Harus Dipertahankan


Dalam sambutannya, Bupati Blitar Rijanto memberikan apresiasi terhadap semangat gotong royong masyarakat Desa Sukosewu yang dinilainya tetap terjaga.


Ia mengingat kembali keberhasilan Desa Sukosewu meraih penghargaan tingkat Provinsi Jawa Timur dalam kegiatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, yang menurutnya menjadi salah satu bukti kuat semangat kebersamaan masyarakat desa.


“Dan kenyataannya, suasana gotong royong Desa Sukosewu itu sampai sekarang tetap luar biasa, tetap baik semangatnya,” ujar Rijanto.


Menurutnya, semangat tersebut juga terlihat dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.


Rijanto bahkan menyinggung karakter masyarakat Sukosewu yang mampu tetap meriah tanpa harus mengandalkan hiburan dengan sound horeg.


“Kalau desa lain ada sound horeg, Sukosewu enggak ada sound horeg pun enggak masalah, tetap semangat, tetap luar biasa,” katanya.


Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir.


Rijanto juga menyampaikan bahwa Bazar Pandawa akan terus didorong menjadi kegiatan tahunan. Ia berharap agenda tersebut tetap berjalan meskipun nantinya terjadi pergantian kepemimpinan di tingkat desa.


“Ini nanti akan diadakan setiap tahun. Sampai enggak tahu Pak Mardi Basuki nanti selesai jadi kepala desa pun harus tetap ada,” ujarnya.


UMKM Sepanjang Jalan, Bahkan Stan Disebut Masih Kurang


Menurut Rijanto, salah satu manfaat penting Bazar Pandawa adalah memberikan ruang kepada pelaku UMKM di berbagai wilayah Desa Sukosewu untuk memasarkan produknya.


Ia menyebut keterlibatan UMKM bahkan terlihat hampir di sepanjang Jalan Pandawa.


“UMKM-nya sepanjang jalan ini nampaknya per RT tampil,” kata Rijanto.


Bupati juga menyebut jumlah pelaku UMKM yang ingin berpartisipasi cukup besar. Berdasarkan laporan yang diterimanya, sejumlah pelaku usaha bahkan belum mendapatkan tempat stan.


“Masih kekurangan tempat stan-stannya, masih banyak yang belum kebagian,” ujarnya.


Karena itu, Rijanto meminta kualitas produk UMKM Sukosewu terus ditingkatkan, terutama dari sisi rasa, kemasan, dan packing (pengemasan).


Ia berharap produk-produk lokal tersebut tidak berhenti dikenal di tingkat Kabupaten Blitar, tetapi mampu berkembang hingga pasar nasional.


“Kualitasnya, termasuk kalau enggak salah ini ada batik yang ada dari Sukosewu ini paling bagus. Batik ciri khasnya Kabupaten Blitar, batik Cakra ini dibuat dari Sukosewu juga ada,” ungkapnya.


Menurut Rijanto, keberadaan bazar semacam ini secara langsung ikut mendorong pergerakan ekonomi masyarakat.


“Dengan adanya bazar ini pergerakan ekonomi masyarakat akan semakin baik,” tegasnya.


Panggung Kreativitas Pelajar


Selain UMKM, Bazar Pandawa IV juga memberikan ruang bagi pelajar untuk tampil di hadapan masyarakat.


Pada 11–12 September, panggung utama diisi pentas seni pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, RA, SD, MI hingga MTsN di wilayah Desa Sukosewu.


Beragam tari tradisional dan penampilan religi ditampilkan dalam rangkaian acara tersebut.


Rijanto menilai keterlibatan pelajar memiliki manfaat penting, terutama dalam membangun kepercayaan diri sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat.


“Ini juga memberikan ruang untuk kesempatan anak-anak kita ini tampil, untuk melatih percaya diri dan menyalurkan bakat. Ini sangat bagus sekali,” katanya.


Ia pun menyampaikan apresiasi kepada panitia, Pemerintah Desa Sukosewu, serta seluruh masyarakat yang telah bekerja sama menyukseskan kegiatan tersebut.


Bupati: Bazar Pandawa Harus Terus Digelar


Dalam wawancara seusai acara, Rijanto kembali menegaskan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Bazar Pandawa IV.


“Ya, sangat baik sekali. Ini Bazar Pandawa 4 yang diselenggarakan oleh Desa Sukosewu. Tentunya ini bentuk gotong royong,” ujarnya.


Menurutnya, mempertahankan semangat gotong royong di tengah perkembangan zaman bukan sesuatu yang mudah. Namun, Desa Sukosewu dinilai mampu mempertahankan tradisi tersebut melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.


“Ini mengangkat UMKM, terus kemudian juga memberikan wadah anak-anak sekolah untuk tampil, ini bagus sekali,” katanya.


Rijanto berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun.


“Harapan kami kegiatan semacam ini terus diadakan tiap tahun,” tegasnya.


Guntur Wahono: Pengembangan UMKM Harus Mendapat Dukungan 



Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Guntur Wahono, S.E., yang turut hadir dalam penutupan, juga memberikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat.

Ia menilai Bazar Pandawa IV menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam mengembangkan UMKM.


“Sangat luar biasa. Antusias masyarakat untuk menjajakan UMKM-nya sangat bagus sekali,” kata Guntur.


Menurutnya, konsistensi kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu indikator bergeraknya ekonomi masyarakat desa.


“Kalau ini jalan terus, berarti kesejahteraan masyarakat luar biasa meningkat. Ini yang kita harapkan,” ujarnya.


Sebagai wakil rakyat, Guntur mengatakan pihaknya berkepentingan untuk melihat secara langsung aktivitas ekonomi masyarakat. Jika dalam pengembangan UMKM terdapat kebutuhan fasilitasi melalui APBD Provinsi Jawa Timur, ia menyatakan siap membantu mengkomunikasikannya.


“Manakala nanti di dalam pengembangan UMKM kira-kira perlu sesuatu yang perlu difasilitasi melalui APBD Provinsi Jawa Timur, maka kami akan fasilitasi,” katanya.


Ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi secara langsung agar kebutuhan masyarakat dapat diketahui secara nyata.


“Pentingnya kita sering melakukan komunikasi, koordinasi, dan melihat secara nyata apa yang dilakukan masyarakat, terutama dalam rangka pengembangan ekonomi yang berbasis kerakyatan,” ujar Guntur.


Posko Relawan PDIP Buka Layanan Sosial Gratis


Selain memberikan dukungan terhadap pengembangan UMKM, Posko Relawan PDIP turut membuka layanan sosial selama pelaksanaan Bazar Pandawa IV.


Layanan tersebut meliputi pijat gratis, potong rambut, serta cek kesehatan gratis bagi masyarakat yang hadir.


Menurut Guntur, layanan tersebut merupakan ben tuk perhatian organisasi politik terhadap kebutuhan dasar masyarakat.


“Kami dari PDI Perjuangan DPR Kabupaten Blitar itu membuka posko pengobatan gratis. Ada pijat gratis, pengobatan gratis, tes kesehatan gratis, yang ini dibiayai oleh partai,” ungkapnya.


Guntur menegaskan bahwa organisasi politik tidak seharusnya hanya hadir ketika membutuhkan dukungan masyarakat.


“Inilah kewajiban organisasi politik, tidak hanya mikir cari dukungan pada saat mau maju atau mencalonkan, tetapi pada saat masyarakat berkebutuhan menginginkan sesuatu, ini harus kita pegang,” katanya.


Ia menyebut kesehatan dan pendidikan sebagai bagian dari kebutuhan mendasar masyarakat yang perlu mendapat perhatian.


“Terutama hal-hal yang sifatnya mendasar. Apa itu? Ya kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya,” ujar Guntur.


Ditutup Campursari Suko Budoyo


Setelah dua hari diisi pentas seni pelajar, puncak Bazar Pandawa IV pada Minggu malam ditutup dengan pagelaran seni tradisional campursari oleh grup lokal Suko Budoyo.


Penampilan tersebut menghibur ratusan warga yang memadati kawasan festival hingga penghujung acara.


Kepala Desa Sukosewu sebelumnya menyampaikan apresiasi terhadap seluruh masyarakat dan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Bazar Pandawa IV.


Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata-mata hiburan rakyat, melainkan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui UMKM dan semangat gotong royong.


Ke depan, Pemerintah Desa Sukosewu berkomitmen mempertahankan Bazar Pandawa sebagai agenda tahunan sekaligus terus melakukan inovasi agar manfaatnya semakin luas.


Rijanto maupun Guntur Wahono sama-sama berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang dan menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, UMKM, pendidikan, seni budaya, serta berbagai unsur pembangunan desa.


Bagi Sukosewu, Bazar Pandawa IV bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan tahunan. Festival tersebut menjadi gambaran bagaimana gotong royong, ekonomi kerakyatan, kreativitas generasi muda, dan potensi lokal dapat dipertemukan dalam satu ruang di tengah masyarakat desa.

Merdeka!

*(Red)

Festival Kresnayana XIII di Penataran, Pentahelix Perkuat Budaya dan UMKM Blitar

By On Agustus 29, 2026


Festival Kresnayana XIII “Tresna Tinali Dharma” berlangsung di Amphitheater Penataran, Kabupaten Blitar, Sabtu (29/8/2026) malam. (*Red)

Blitar, Jawa Timur | JNO — Amphitheater Penataran, Kabupaten Blitar, Sabtu (29/8/2026) malam, menjadi panggung perayaan seni dan budaya melalui Festival Kresnayana XIII. Mengusung tema “Tresna Tinali Dharma” yang bermakna Antara Cinta, Kebenaran, dan Pengabdian, pagelaran ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga mempertemukan unsur pemerintah, pelaku budaya, masyarakat, hingga sektor ekonomi kreatif dalam satu ruang kolaborasi.

Pagelaran kebudayaan tersebut dihadiri Bupati Blitar, Drs. Rijanto, M.M., bersama Ibu Ninik Rijanto. Hadir pula Guntur Wahono, S.E., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur sekaligus Sekretaris Badan Kebudayaan Nasional Jawa Timur, serta Sri Sugiharta, S.S., M.P.A., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur.

Festival Kresnayana XIII menjadi momentum penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Blitar. Konsistensi penyelenggaraan hingga tahun ke-13 menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan proses panjang, kesinambungan program, serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat.

Guntur Wahono mengapresiasi kemampuan Kabupaten Blitar mempertahankan Festival Kresnayana secara berkelanjutan.

“Saya sangat bangga, ternyata Blitar mampu menjaga satu tradisi yang sangat luar biasa. Kresnayana ini sudah berjalan selama 13 tahun dan ini selalu berkelanjutan.”

Menurut Guntur, keberlanjutan tersebut merupakan salah satu bentuk nyata pemerintah daerah dalam merawat, melestarikan, dan melindungi kebudayaan.

“Inilah yang harus kita kembangkan terus hingga terwarisi kepada anak-anak cucu kita. Bahkan pada pawai budaya tahun ini, banyak semua daerah menggunakan tema-tema budaya, tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Ini ada satu kemajuan. Inilah tugas kita melakukan pemajuan tentang kebudayaan.”

Pentahelix: Budaya, Masyarakat dan Ekonomi Kreatif

Lebih jauh, Festival Kresnayana XIII dapat menjadi gambaran penerapan pendekatan Pentahelix dalam pemajuan kebudayaan. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, serta media memiliki ruang dan peran masing-masing untuk membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan.

Pemerintah berperan melalui kebijakan, fasilitasi dan dukungan program kebudayaan. Komunitas, seniman, budayawan dan masyarakat menjadi pelaku utama yang menjaga tradisi tetap hidup. Akademisi dapat memberikan penguatan melalui kajian, edukasi dan dokumentasi, sementara dunia usaha turut membuka ruang pengembangan ekonomi kreatif. Media kemudian berperan memperluas publikasi sekaligus mendokumentasikan kekayaan budaya agar semakin dikenal masyarakat luas.

Keterhubungan antara kebudayaan dan ekonomi kreatif juga terlihat dalam rangkaian Festival Kresnayana XIII melalui Mini Bazaar dan Street Food yang turut meramaikan kawasan kegiatan.

Sejak sekitar pukul 17.00 WIB, sejumlah pelaku UMKM telah mulai melayani pengunjung. Beragam stand kuliner lokal, jajanan tradisional khas Blitar, hingga makanan dan minuman kekinian tersedia sebagai bagian dari aktivitas pendukung festival.

Kehadiran bazaar tidak sekadar menjadi pelengkap acara. Ruang tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk, berinteraksi langsung dengan konsumen, sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama festival berlangsung.

Selain kuliner, pengunjung juga dapat menemukan berbagai produk kreatif dan kerajinan, mulai dari handicraft, pernak-pernik, pakaian, hingga oleh-oleh khas daerah.

Dengan demikian, panggung kebudayaan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang pertemuan antara seni, budaya, kreativitas, kewirausahaan, dan ekonomi masyarakat.

Guntur Wahono juga menyampaikan dukungannya terhadap berbagai usulan masyarakat yang berkaitan dengan pengembangan kebudayaan.

“Tentu kami akan mengapresiasi semua usulan-usulan masyarakat yang terkait dalam rangka pengembangan budaya. Jadi ini merupakan satu harapan bagi kita untuk bersama-sama dengan pemerintah daerah berkolaborasi untuk menjaga budaya melalui kemampuan kami yang ada di APBD.”

Sinergi Lintas Elemen

Suksesnya penyelenggaraan Festival Kresnayana XIII juga tidak terlepas dari dukungan dan sinergi jajaran Forkopimda, Forkopimcam, kepala desa, budayawan, seniman, pelaku UMKM, komunitas, serta masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan agenda kebudayaan memiliki dampak yang lebih luas. Tidak hanya mempertahankan eksistensi kesenian tradisional, tetapi juga mendorong tumbuhnya ruang kreatif dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar penyelenggaraan.

Festival Kresnayana XIII pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan epik tahunan. “Tresna Tinali Dharma” yang disutradarai oleh Irwan Riyadi, S.Sn. menjadi pesan bahwa kecintaan terhadap budaya perlu diwujudkan melalui tindakan nyata: merawat tradisi, menjaga nilai-nilai kebenaran, membuka ruang bagi kreativitas, serta mengabdikan seluruh potensi masyarakat untuk keberlanjutan kebudayaan.

Dari panggung Amphitheater Penataran, semangat tersebut kembali ditegaskan: budaya akan tetap hidup ketika pemerintah dan masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi bersama-sama menjadi pelaku, penjaga, pengembang, sekaligus pewarisnya. *Red/

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *