Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

šŸ”“ BREAKING
Memuat berita terbaru...
Jalur Pendakian Gunung Semeru Ditutup Total, 170+ Pendaki Dievakuasi akibat Karhutla Ranu Kembang

By On Agustus 28, 2026


Kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang menyebabkan jalur pendakian Gunung Semeru ditutup
Karhutla di Blok Ranu Kembang membuat jalur pendakian Gunung Semeru ditutup sementara dan lebih dari 170 pendaki dievakuasi.

Malang, Jawa Timur | JNO – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menutup total jalur pendakian Gunung Semeru menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Blok Ranu Kembang, kawasan TNBTS, Rabu (26/8/2026).

Penutupan dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan dengan pertimbangan utama keselamatan pengunjung serta untuk memberikan ruang bagi petugas melakukan pengendalian dan pemadaman kebakaran.

Kebakaran terdeteksi pada Rabu malam di kawasan Ranu Kembang yang berada di atas atau sekitar jalur menuju Ranu Kumbolo. Munculnya titik api tersebut membuat aktivitas pendakian harus dihentikan sementara. 

Keputusan penutupan dituangkan dalam Surat Pengumuman BB TNBTS Nomor PG.20/T.8/TU/HMS.01.07/B/08/2026.

170+ Pendaki Dievakuasi dari Ranu Kumbolo

Saat kebakaran terjadi, sekitar 170 pendaki diketahui masih berada di kawasan Ranu Kumbolo. Mereka kemudian dievakuasi dengan pendampingan petugas dan Pemandu Pendakian Gunung Semeru Terdaftar (PPGST).

Proses evakuasi dilakukan Kamis (27/8/2026) untuk memastikan seluruh pendaki keluar dari kawasan yang berpotensi terdampak jika api meluas. 

Perkembangan terbaru menyebutkan seluruh pendaki telah berhasil turun dan tiba di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Mereka dilaporkan tiba sekitar pukul 14.30 WIB dalam kondisi selamat dan kemudian kembali ke tempat tinggal masing-masing. 

Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan penutupan jalur diperlukan untuk mendukung kelancaran pengendalian dan pemadaman kebakaran sekaligus memastikan proses evakuasi berlangsung aman.

“Sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan penutupannya.” tegasnya.

Penutupan juga dilakukan untuk mencegah adanya pengunjung yang masuk ke wilayah berisiko selama proses penanganan karhutla berlangsung.

Ranu Kumbolo (2400 Mdpl), didokumentasikan sebelum dilanda kebakaran. Foto dok. BB TNBTS

Akses Malang–Lumajang Tetap Dibuka

Penutupan jalur pendakian Gunung Semeru tidak berarti seluruh akses kawasan TNBTS ditutup.

Akses transportasi Malang–Lumajang melalui Kecamatan Poncokusumo dan Senduro masih dapat dilalui masyarakat. Kunjungan wisata ke Ranu Regulo juga tetap diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. 

Oleh karena itu, kegiatan saat ini secara khusus diberlakukan terhadap aktivitas pendakian Gunung Semeru.

Masyarakat maupun wisatawan tetap diminta memperhatikan informasi terbaru dari pengelola sebelum melakukan perjalanan ke kawasan TNBTS.

Pendaki Diminta Waspadai Risiko Kebakaran

BB TNBTS mengimbau seluruh pengunjung turut menjaga konservasi kawasan dari potensi kebakaran.

Pengunjung dilarang melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api, termasuk menyalakan petasan, flare, kembang api, api pemanas, membakar sampah maupun kegiatan lain yang berpotensi menyebabkan kebakaran.

Imbauan tersebut menjadi semakin penting mengingat kondisi kawasan yang masih menghadapi ancaman karhutla pada musim kemarau.

Tiket Pendakian Bisa Refund atau Reschedule

Bagi calon pendaki yang telah membeli tiket melalui sistem booking online, BB TNBTS menyediakan opsi refund dan reschedule.

Mekanisme pengajuan akan diinformasikan lebih lanjut oleh pengelola sesuai perkembangan kondisi dan pembukaan kembali jalur pendakian.

Hingga saat ini, belum ada batas waktu pasti kapan pendakian Gunung Semeru akan dibuka kembali.

Pembukaan jalur akan memastikan hasil pemantauan dan evaluasi petugas serta kawasan telah dinyatakan aman bagi aktivitas pendakian.

Keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama. *Red/

Sumber: BB TNBTS

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, 1.842 Titik Panas Terdeteksi

By On Agustus 22, 2026

Karhutla Kalimantan dan ribuan titik panas di tengah kemarau 2026

Visual kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dengan asap yang menyelimuti kawasan terdampak akibat meningkatnya titik panas selama musim kemarau 2026. Foto dok. Red. JNO (Source: BMKG, BNPB)

Jakarta — JinNewsOne.com | Sabtu, 22 Agustus 2026 — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan kembali menunjukkan eskalasi serius. Pemantauan satelit mencatat ribuan titik panas (hotspot) yang tersebar di lima provinsi, sementara kondisi kemarau yang mempengaruhi fenomena El NiƱo sangat meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap.


Berdasarkan data SiPongi yang dipantau melalui satelit NASA-NOAA 20 pada 21 Agustus 2026 pukul 14.14 WIB, tercatat 1.842 titik panas di lima provinsi Kalimantan.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.832 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang (kepercayaan sedang), sedangkan 10 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (kepercayaan tinggi). Data tersebut disampaikan BNPB sebagai salah satu rujukan untuk memadukan perkembangan potensi karhutla dan menentukan kebutuhan penanganan di lapangan.


Kalimantan Tengah Dominasi Titik Panas


Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak.


Data BNPB mencatat:


- Kalimantan Tengah : 976 titik

- Kalimantan Barat: 489 titik

- Kalimantan Timur: 237 titik

- Kalimantan Selatan: 125 titik

- Kalimantan Utara: 15 titik


Dari 976 titik di Kalimantan Tengah, sebanyak 968 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang dan delapan titik pada tingkat kepercayaan tinggi.


Sementara di Kalimantan Barat terdapat 489 titik, terdiri atas 487 titik tingkat kepercayaan sedang dan dua titik tingkat kepercayaan tinggi. Adapun seluruh titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara berada pada tingkat kepercayaan sedang.


Angka tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi titik panas tidak merata. Kalimantan Tengah mencakup lebih dari separuh total titik panas yang terpantau dalam periode tersebut.


Namun hotspot tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan. Data satelit merupakan indikator awal yang perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi dan pemantauan lapangan.


Kalbar Catat 198 Hotspot Kepercayaan Tinggi


Situasi di Kalimantan Barat menjadi perhatian khusus pada 22 Agustus.


Laporan BNPB terdapat 198 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat dalam pemantauan 24 jam terakhir. Angka ini merupakan data periode pemantauan yang berbeda dengan angka 1.842 hotspot pada 21 Agustus, sehingga tidak boleh dijumlahkan.


Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (22/8/2026) juga datang langsung ke Kalimantan Barat dan memimpin rapat terbatas untuk mendapatkan gambaran kondisi karhutla di lapangan. Dalam rapat tersebut, pemerintah memaparkan kondisi terkini titik panas dan langkah penanganannya.


Perkembangan tersebut terlihat bahwa kondisi karhutla dapat berubah dengan cepat dalam hitungan jam. Oleh karena itu, data hotspot harus terus diperbarui dan tidak dibaca sebagai angka statistik.


El NiƱo Perkuat Kondisi Kering


BMKG menilai kondisi iklim kering akibat El NiƱo menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap karhutla.


Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan kondisi kering membuat lahan lebih mudah terbakar dan meningkatkan produksi asap ketika terjadi kebakaran.


“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan terbakar dan banyak asap,” kata Ardhasena kepada awak media, Jumat (21/8/2026).


Hasil pemantauan BMKG pada dasarian pertama Agustus menunjukkan nilai SSTA wilayah Nino3.4 mencapai +2,77, meningkat dari +2,20 pada Juli. BMKG menyebut kondisi tersebut menunjukkan El NiƱo dengan intensitas sangat kuat.


BMKG juga mencatat sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Di Kalimantan, sejumlah wilayah berada dalam status waspada terhadap kondisi kering dan risiko karhutla.


Risiko Karhutla Memuncak Agustus–September


Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan risiko karhutla diperkirakan meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.


BMKG juga menetapkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebagai wilayah yang memerlukan intensifikasi pemantauan dan pengawasan bersama sejumlah provinsi lainnya.


Faisal menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga ketersediaan udara.


“Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembasahan pada lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar,” ujar Faisal.


Menurut BMKG, langkah mitigasi juga mencakup pemantauan hotspot, patroli terpadu, pembasahan lahan gambut, pembangunan sekat kanal, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.


Pemerintah Perkuat Operasi Darat dan Udara


BNPB memperkuat penanganan karhutla melalui operasi udara dan darat. Operasi darat Ditempatkan untuk memastikan bagian penting untuk api dan bara yang tersisa benar-benar dapat dikendalikan.


Pemerintah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan, yaitu:


1. Kalimantan Barat

2. Kalimantan Tengah

3. Kalimantan Selatan

4. Riau

5. Sumatera Selatan

6. Jambi


Penetapan tersebut didasarkan pada tingginya risiko karhutla. Pemerintah juga memperkirakan periode Agustus–September 2026 menjadi fase dengan risiko karhutla yang tinggi.


BNPB menyebut operasi udara, termasuk dukungan water bombing, berjalan beriringan dengan penguatan operasi darat. Posko dan satuan tugas di daerah diperkuat untuk melakukan pemantauan, pengerahan personel, pengelolaan sumber daya, hingga pemadaman kebakaran.


Kabut Asap Jadi Ancaman bagi Masyarakat


Karhutla tidak hanya berdampak pada kawasan hutan dan lahan yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat menyebar ke kawasan organisasi dan menurunkan kualitas udara.


Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan, transportasi dan kegiatan ekonomi. Di Palangka Raya, misalnya, kabut asap sempat menyebabkan kualitas udara memburuk dengan indeks kualitas udara mencapai kategori berbahaya pada 19 Agustus 2026.


Masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, terutama bagi kelompok rentan.


Titik Panas Harus Menjadi Peringatan Dini


Peningkatan hotspot menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk mempercepat tindakan di lapangan.


Data 1.842 titik panas pada 21 Agustus tidak dapat dihitung sebagai 1.842 lokasi kebakaran yang seluruhnya telah terkonfirmasi. Tingkat kepercayaan hotspot, kondisi lapangan, jenis tutupan lahan, cuaca, serta hasil verifikasi menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu titik benar-benar berkaitan dengan kebakaran.


Oleh karena itu, pemantauan satelit harus diikuti dengan patroli, verifikasi lapangan dan respon cepat.


BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kejadian kebakaran kepada petugas maupun pemerintah daerah.


Ancaman Karhutla Belum Berakhir


Dengan El NiƱo yang masih kuat dan periode risiko karhutla yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus–September, ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan belum dapat dianggap selesai.


Meningkatnya titik api, kondisi lahan yang semakin kering, serta potensi penyebaran secepatnya membuat pencegahan menjadi sama pentingnya dengan pemadaman kebakaran.


Kalimantan kini menghadapi permasalahan yang tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi dan keselamatan warga.


Selama musim kemarau masih berlangsung, kecepatan mendeteksi, memverifikasi dan menangani titik api menjadi faktor penting untuk mencegah berkembangnya kebakaran menjadi bencana yang lebih luas. *(Red)


(Sumber: BNPB, BMKG)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *