Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Pradah Agung Festival 2026: Siraman Gong Kyai Pradah, Warisan Leluhur yang Menggerakkan Ekonomi Lodoyo

By On Agustus 27, 2026

Pradah Agung Festival 2026, Ritual tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah oleh Bupati Rijanto. (Kolase foto dok. Redaksi)

Blitar, Jawa Timur | JNO – Dentang tradisi kembali menggema dari Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Kamis (27/8/2026). Ribuan masyarakat dari Blitar dan luar daerah memadati kawasan Pendopo Alun-alun Lodoyo untuk mengikuti puncak Pradah Agung Festival 2026, yang ditandai dengan Upacara Jamasan atau Siraman Gong Kyai Pradah.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut bukan sekadar agenda budaya tahunan. Siraman Gong Kyai Pradah menjadi manifestasi pelestarian budaya melalui ritual sakral yang dilaksanakan setiap bulan Maulid atau Rabiul Awal, bulan ketiga dalam penanggalan Hijriah yang di dalamnya umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Bagi masyarakat Lodoyo, ritual tersebut menjadi simbol kuat hubungan masyarakat dengan leluhur, sejarah dan alam. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut juga menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus ruang tumbuh bagi ekonomi masyarakat.

Tahun ini, tradisi tersebut dikemas dalam bingkai Pradah Agung Festival 2026, dengan rangkaian kesenian, parade budaya, aktivitas UMKM dan pertunjukan wayang kulit.

Dari Tari Pembuka hingga Potong Tumpeng


Puncak kegiatan diawali dengan pertunjukan tari tradisional sebagai pembuka, dilanjutkan sambutan Bupati Blitar Drs. Rijanto, pemberian cenderamata berupa miniatur Gong Kyai Pradah, sambutan Camat Sutojayan Arinal Huda, kemudian prosesi utama Jamasan atau Siraman Gong Kyai Pradah.

Prosesi tersebut dihadiri Bupati Blitar, perwakilan Forkopimda, kepala OPD, jajaran Pemerintah Kecamatan Sutojayan, tokoh masyarakat serta ribuan warga dari Blitar maupun luar daerah.

Setelah prosesi Siraman Gong Kyai Pradah selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan potong tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus bagian dari penutup prosesi utama pada pagi hari.

Potong tumpeng juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam mengikuti rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian Pradah Agung Festival 2026 kemudian masih berlanjut pada malam hari dengan pagelaran wayang kulit di Pendopo Alun-alun Lodoyo.

Dengan demikian, ritual Siraman Gong Kyai Pradah menjadi bagian utama dari rangkaian festival yang mempertemukan tradisi, seni pertunjukan, pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Miniatur Gong Kyai Pradah Jadi Souvenir Khas Lodoyo



Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam Pradah Agung Festival 2026 adalah miniatur Gong Kyai Pradah sebagai souvenir khas Lodoyo.

Gagasan menghadirkan miniatur tersebut diinisiasi Camat Sutojayan Arinal Huda sebagai upaya mengembangkan identitas budaya lokal menjadi produk cenderamata yang dapat dikenalkan kepada masyarakat dan wisatawan.

Miniatur tersebut kemudian diperkenalkan dan diresmikan oleh Bupati Blitar Drs. Rijanto sebagai souvenir khas Lodoyo.

Karya tersebut dibuat menggunakan kayu jati pilihan dari limbah sisa produksi, sehingga material yang sebelumnya merupakan sisa produksi diberi nilai tambah melalui pengolahan menjadi karya bernilai estetika dan budaya.

Konsep desain serta pendekatan budaya miniatur tersebut digarap oleh Ricky Ardiansyah — Designer & Culture Concept, yang menerjemahkan identitas Gong Kyai Pradah ke dalam bentuk miniatur dengan tetap mempertahankan karakter visual dan nilai simboliknya.

Kehadiran miniatur tersebut memberikan dimensi baru dalam pelestarian budaya. Gong Kyai Pradah tidak hanya dikenal melalui ritual jamasan, tetapi juga dapat hadir sebagai karya budaya yang dapat dibawa pulang masyarakat dan wisatawan sebagai representasi identitas Lodoyo.

Rijanto: Tradisi Leluhur Harus Terus Dilestarikan

Bupati Blitar Drs. Rijanto mengatakan dirinya bersyukur tradisi Siraman Gong Kyai Pradah kembali dapat dilaksanakan.

“Alhamdulillah, kita semua baru saja melaksanakan tradisi Siraman Gong Kiai Pradah untuk tahun 2026 yang jatuh pada Kamis Legi. Acara ini setiap tahun kita laksanakan,” kata Rijanto.

Menurutnya, tradisi tersebut merupakan peninggalan leluhur yang harus terus dijaga.

“Ini tradisi yang baik, tinggalan para leluhur kita yang kita lestarikan. Apalagi Gong Kiai Pradah ini karena kekompakan, keguyuban, kepedulian daripada masyarakat,” ujarnya.

Rijanto mengatakan tradisi tersebut pada awalnya tumbuh dari masyarakat dan kemudian pemerintah ikut hadir memberikan dukungan.

“Tradisi ini awalnya memang muncul dari masyarakat. Terus-menerus akhirnya pemerintah juga ikut hadir,” katanya.

Ia juga menyebut Gong Kyai Pradah telah memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).

Namun, bagi Rijanto, pelestarian budaya tidak cukup hanya mempertahankan ritual.

“Tidak hanya kita melestarikan budaya, tetapi kita kemas untuk pengembangan pariwisata kita. Pariwisata budaya yang tentunya ini punya dampak untuk pengembangan ekonomi kreatif daripada masyarakat,” jelasnya.

UMKM Ikut Bergerak

Rijanto melihat pelaksanaan festival memberikan dampak langsung terhadap aktivitas perdagangan masyarakat.

“UMKM-nya juga bisa tumbuh, bisa berkembang. Alhamdulillah yang kita lihat secara langsung tadi luar biasa, UMKM-nya laris manis. Pedagang-pedagang nampaknya tersenyum puas,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi evaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan setiap tahun.

“Ini tentunya menjadi evaluasi kita. Tentunya ini tanggung jawab kita bersama untuk tiap tahun ada peningkatan kualitas,” katanya.

Ia menegaskan pelestarian budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

“Kita tidak hanya tanggung jawab untuk melestarikan budaya, tetapi kita kemas untuk pengembangan pariwisata, ekonomi kreatif, dan semuanya punya dampak pada perkembangan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Terkait dukungan anggaran, Rijanto menilai kegiatan budaya merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong perekonomian masyarakat.

“Kalau bicara efisiensi, enggak seperti ini. Kalau ini justru tanggung jawab kita bersama untuk mendorong masyarakat agar tetap bangkit ekonominya,” tegasnya.

“Ini menyentuh kehidupan masyarakat lapisan bawah.”

Ia memastikan dukungan melalui APBD tetap diberikan.

“Setiap tahun selalu kita sisihkan APBD untuk acara-acara semacam ini,” imbuh Rijanto.

Tujuh Hari Menghidupkan Seni dan Perdagangan

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar Eko Susanto, S.T., M.Si., mengatakan Pradah Agung Festival 2026 dikembangkan melalui rangkaian kegiatan selama sekitar tujuh hari.

“Yang sudah kita coba dengan Pak Camat, dengan panitia lokal selama tujuh hari full itu ada event kegiatan. Jadi rangkaian Siraman Mbah Pradah, mulai jaranan, mulai wayang, pawai budaya dan lain-lain,” jelas Eko.

Menurutnya, rangkaian tersebut juga menjadi ruang bagi komunitas seniman di Lodoyo.

“Untuk menggerakkan komunitas-komunitas seniman yang ada di Lodoyo, yang memang cukup banyak di sini sehingga kita perlu wadah itu,” ujarnya.

Namun, Eko mengakui masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, terutama penataan UMKM.

“Ke depan memang kami mencoba nanti dengan panitia penataan tentang UMKM-nya: ada keseragaman tenda, layout-nya, kebersihannya, kemudian penataan venue-venue-nya,” katanya.

Perputaran Ekonomi Akan Dipetakan

Eko mengatakan aktivitas ekonomi selama festival tidak hanya melibatkan pedagang lokal.

“Pedagangnya tidak hanya dari lokal lho ya, dari Cirebon, dari Bandung, dari Kudus. Jadi cukup banyak,” ungkapnya.

Pemerintah, kata dia, akan mencoba menghitung perputaran uang selama rangkaian kegiatan.

“Nanti memang kita akan coba data seperti apa untuk cash flow, putaran uang selama event Mbah Pradah itu,” ujarnya.

Data tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk melihat seberapa besar dampak ekonomi festival, mulai dari UMKM, parkir hingga kunjungan wisata.

“Kalau sudah terlihat potensi event budaya ini punya dampak perputaran uang, UMKM, parkir, kemudian kunjungan dan seterusnya, ini kan perlu intervensi yang lebih besar untuk penataannya,” jelas Eko.

Menurutnya, penataan ke depan harus dimulai sejak awal, termasuk jalur pengunjung dan pintu masuk.

“Kita terus berbenah. Termasuk beberapa kekurangan-kekurangan, pasti kita akan coba,” katanya.

Tradisi Tetap Berbasis Masyarakat

Meski pemerintah memberikan dukungan, Eko menegaskan tradisi Gong Kyai Pradah tetap berakar pada masyarakat.

“Base-nya kan community, masyarakat. Jadi memang hidup dari masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah berperan dalam penataan dan pengembangan tanpa mengambil alih akar tradisinya.

“Tradisi itu tetap dari bawah, kita intervensi menata saja lah. Menata, mengemas, kemudian inovasi, kolaborasi seperti itu,” tegas Eko.

Arinal Huda: Bingkai Festival Harus Diperbesar

Camat Sutojayan Arinal Huda mengatakan tradisi Gong Kyai Pradah telah berlangsung selama ratusan tahun.

“Kalau upacara ini sudah lama sekali, sudah turun-temurun. Sudah ratusan tahun yang jelas ini,” katanya.

Namun tahun ini penyelenggaraan dibuat berbeda melalui konsep Pradah Agung Festival.

“Tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena tahun ini ada beberapa rangkaian kegiatan menjelang dilaksanakan hari H seperti ini. Ada tema yang bertajuk Pradah Agung Festival,” jelas Arinal.

Rangkaian tersebut antara lain empat kali pertunjukan kesenian di pendopo dan Parade Jaranan se-Kecamatan Sutojayan pada 23 Agustus.

“Saya melihat itu sukses dan banyak penonton dari beberapa daerah atau kecamatan lain yang datang di Sutojayan waktu itu,” ujarnya.

Festival juga menghadirkan kelompok seni lokal serta undangan khusus dari ISI Surakarta.

Menurut Arinal, kegiatan tersebut memberikan hiburan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan aktivitas UMKM.

“Masyarakat merasa terhibur pertama, dan kedua diyakini para pelaku UMKM yang ada di sekitar pendopo ini menjadi lebih ramai pengunjungnya dan omzetnya juga lebih banyak dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Kisah Gong dan Harimau

Di balik ritual Gong Kyai Pradah terdapat cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Arinal menuturkan masyarakat mengenal kisah bahwa gong tersebut memiliki khodam atau kekuatan gaib.

Konon, ketika Pangeran Prabu berada di wilayah Lodoyo yang saat itu masih berupa hutan belantara dengan banyak harimau, gong tersebut pernah dititipkan kepada salah seorang penduduk.

Ketika gong dipukul untuk memanggil Pangeran Prabu, yang datang justru harimau.

Namun harimau tersebut tidak menyerang.

“Macan tersebut tidak buas. Bahkan seperti macan jinak,” tutur Arinal.

Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari narasi budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.

“Masyarakat berkesimpulan gong ini memang mempunyai kekuatan gaib atau khodam yang sampai hari ini masyarakat masih mengakui bahwa ini menjadi salah satu upaya ritual yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat Lodoyo,” katanya.

Anak Muda Perlu Mengenal Sejarahnya

Salsabila, salah seorang pengunjung asal Jingglong, mengaku menikmati Pradah Agung Festival.

“Seru. Terus bersejarah juga karena dari tahun ke tahun selalu ada seperti ini,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut terus dilaksanakan dan lebih banyak melibatkan generasi muda.

“Kalau bisa terus dilakukan setiap tahunnya karena mungkin untuk anak-anak muda yang lainnya belum tahu apa sih namanya Gong Kiai Pradah itu,” katanya.

Menurutnya, generasi muda perlu diajak melihat dan memahami sejarah Gong Kyai Pradah secara langsung.

“Kalau bisa lebih banyak anak muda yang diajak melihat bagaimana sejarahnya dari kemarin-kemarin. Jadinya untuk ke depannya mungkin bisa lebih seru lagi,” tambahnya.

Masyarakat Minta UMKM Lebih Terpusat

Di tengah antusiasme masyarakat, terdapat pula sejumlah catatan untuk penyelenggaraan berikutnya.

Masyarakat berharap area UMKM ditata lebih rapi dan dipusatkan dalam satu kawasan, sehingga tidak terlalu mengurangi ruang gerak pengunjung.

Penataan tersebut diharapkan dapat membuat arus pengunjung lebih lancar, area utama lebih leluasa serta mengurangi kepadatan.

Sutinah dan Ruang Aman bagi Lansia

Persoalan kenyamanan pengunjung juga dirasakan Sutinah, 64 tahun, salah seorang pengunjung asal Kademangan.

Sutinah tetap antusias menghadiri Siraman Gong Kyai Pradah meskipun kondisi kakinya sedang sakit. Ia berjalan menggunakan bantuan tongkat.

Namun kepadatan massa membuatnya tidak berani terlalu mendekat.

Sebagai warga lanjut usia, Sutinah khawatir terkena desakan massa, kehilangan keseimbangan atau bahkan terinjak apabila berada terlalu dekat dengan kerumunan.

Ia berharap pengunjung pada tahun-tahun berikutnya lebih ditertibkan sehingga masyarakat lanjut usia dapat mengikuti prosesi dengan aman dan nyaman.

Pengalaman tersebut menjadi masukan agar panitia mempertimbangkan area khusus lansia dan penyandang disabilitas.

Zona khusus tersebut dapat dirancang sebagai ruang menonton yang aman, mudah diakses dan tetap memungkinkan lansia maupun difabel menyaksikan prosesi utama tanpa harus berada di tengah kepadatan massa.

Festival Budaya yang Semakin Inklusif

Masukan masyarakat menunjukkan bahwa keberhasilan festival bukan hanya tentang jumlah pengunjung atau besarnya perputaran ekonomi.

Semakin besar sebuah festival, semakin penting pula aspek keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, kebersihan dan pengaturan arus massa.

Pradah Agung Festival memiliki modal budaya yang kuat karena tumbuh dari tradisi masyarakat. Karena itu, pengembangannya ke depan perlu tetap menjaga akar komunitas sekaligus memperbaiki tata kelola penyelenggaraan.

Penataan UMKM, jalur pengunjung, pintu masuk, fasilitas umum hingga ruang khusus lansia dan difabel dapat menjadi bagian dari evaluasi.

Harapan Pradah Agung Festival Terus Berkembang

Arinal Huda berharap festival tersebut terus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang.

“Saya sangat berharap Pradah Agung Festival ini terus kita tingkatkan di tahun-tahun yang akan datang karena kami sudah bisa melihat dan merasakan manfaat dari dilaksanakannya event-event tambahan ini,” katanya.

Ia menyebut respons masyarakat terhadap Parade Jaranan menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan pendukung festival mendapat sambutan.

“Kemarin saat parade jaranan itu saat MC menanyakan bagaimana kegiatan ini apa perlu diteruskan, semuanya hampir semuanya kompak untuk minta dilanjutkan di tahun-tahun yang akan datang,” ujarnya.

Arinal yakin konsistensi pengembangan kebudayaan akan membuat festival semakin besar.

“Kami yakin kalau kita terus konsisten dengan pengembangan kebudayaan di Sutojayan ini, kita yakin itu akan dilaksanakan dengan lebih besar lagi ke depannya,” pungkasnya.

Dari Ritual Leluhur Menuju Ekosistem Budaya

Pradah Agung Festival 2026 memperlihatkan bagaimana tradisi yang tumbuh dari masyarakat dapat berkembang menjadi ekosistem budaya yang mempertemukan ritual, seni, pariwisata, ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat.

Siraman Gong Kyai Pradah tetap menjadi jantung tradisi. Rangkaian pertunjukan seni, parade budaya, potong tumpeng, wayang kulit dan aktivitas UMKM memperluas ruang interaksi masyarakat.

Hadirnya miniatur Gong Kyai Pradah sebagai souvenir khas Lodoyo memberikan arah baru dalam pengembangan identitas budaya lokal. Gagasan tersebut sekaligus membuka peluang agar simbol budaya Lodoyo dapat hadir dalam bentuk produk kreatif yang memiliki nilai sejarah dan ekonomi.

Di sisi lain, semakin besarnya festival menghadirkan tanggung jawab baru untuk memastikan seluruh masyarakat dapat menikmatinya dengan aman dan nyaman.

Pemusatan UMKM, pengaturan arus pengunjung serta penyediaan area khusus lansia dan difabel menjadi sejumlah catatan penting untuk penyelenggaraan berikutnya.

Pada akhirnya, menjaga Gong Kyai Pradah bukan sekadar mempertahankan sebuah pusaka atau menjalankan ritual tahunan.

Ia adalah upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat, merawat identitas budaya Lodoyo, memperkenalkan sejarah kepada generasi muda sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Pradah Agung Festival 2026 menunjukkan bahwa tradisi dapat tetap berakar pada masa lalu, sekaligus bergerak menuju masa depan.

Tradisi tetap tumbuh dari masyarakat. Pemerintah hadir memberikan dukungan dan penataan. Seniman menerjemahkan nilai budaya melalui karya. Pelaku UMKM mendapatkan ruang ekonomi. Dan generasi muda menjadi pewaris berikutnya.

Dari Lodoyo, warisan leluhur kembali berbicara—bukan hanya melalui dentang Gong Kyai Pradah, tetapi melalui kehidupan masyarakat yang terus bergerak bersamanya. *(Red)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *