Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Sosialisasi Pendidikan Blitar Menyongsong Indonesia Emas, Guru Soroti P3K hingga Kesejahteraan

By On September 29, 2026


Sosialisasi Pendidikan Blitar Menyongsong Indonesia Emas, guru soroti PPPK dan kesejahteraan

BLITAR, JAWA TIMUR | JNO — Persoalan kesejahteraan guru, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), pemerataan tenaga pendidik, fasilitas sekolah hingga nasib guru TK menjadi sorotan dalam Sowan (Sosialisasi Dewan) Pendidikan: Menyongsong Indonesia Emas, yang digelar di Pendapa Ageng Hand Asta Sih, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Senin (28/9/2026).

Kegiatan Sowan (Sosialisasi Dewan) tersebut dipelopori oleh Guntur Wahono, S.E., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan, sebagai ruang dialog untuk menyerap langsung berbagai persoalan pendidikan dari para pendidik.

Kegiatan dihadiri ratusan anggota PGRI Kabupaten Blitar, unsur pemerintah daerah, legislatif dan bidang pendidikan. Turut hadir Slamet Sutanto, Anggota Dekopindo Wilayah Jawa Timur.

Antusiasme peserta begitu terasa. Satu per satu persoalan pendidikan disampaikan langsung kepada para anggota dewan, dengan harapan aspirasi tersebut tidak berhenti sebagai catatan di ruang sosialisasi, tetapi diteruskan kepada pihak terkait dan segera menemukan jalan penyelesaian.

PGRI: Aspirasi Harus Berujung Tindak Lanjut

Plt. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Bambang Dwi Cahyono, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi PGRI yang dinilai mampu menjadi ruang kolaborasi dalam mencari solusi berbagai persoalan pendidikan.

Salah satu aspirasi yang mengemuka adalah persoalan guru TK, mulai kenaikan pangkat hingga usulan perubahan status TK swasta menjadi negeri. Bambang menyebut persoalan kepemilikan tanah dan aset masih menjadi salah satu kendala.

Pemkab Blitar, lanjutnya, menargetkan minimal satu TK negeri di setiap kecamatan.

Ketua PGRI Kabupaten Blitar Sunarto berharap Sowan tidak berhenti sebagai forum penyampaian aspirasi. Ia menyoroti persoalan kenaikan pangkat, mutasi PPPK, kesejahteraan, pemerataan tenaga pendidik hingga perlindungan hukum.

Kehadiran BKN Regional II juga diharapkan memberikan kejelasan terkait regulasi PPPK dan P3K paruh waktu, sehingga berbagai persoalan status dan kepegawaian memiliki gambaran penyelesaian yang lebih jelas.


P3K dan Guru TK Jadi Sorotan

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar Fatatoh Hironi Ulya menyoroti persoalan kesejahteraan tenaga pendidikan, termasuk P3K paruh waktu.

Keterbatasan anggaran 2026 menjadi salah satu tantangan dalam melakukan terobosan kebijakan. Ia menyebut rencana alokasi anggaran Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar pada 2027 berada di kisaran Rp995 miliar.

Fatatoh juga menyoroti aspirasi sekitar 1.350 guru TK yang membutuhkan penyelesaian secara bertahap melalui koordinasi dengan PGRI dan IGTKI.

Guntur: Pendidikan Harus Disiapkan untuk Indonesia Emas

Sebagai penggagas Sowan, Guntur Wahono, S.E., menyoroti persoalan guru TK, fasilitas pendidikan dan pemerataan tenaga pendidik.

Ia menyebut masih terdapat guru TK swasta yang menerima honor sekitar Rp100 ribu per bulan. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu mendapat perhatian dalam upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia.

Guntur juga menyoroti fasilitas pendidikan yang belum memadai serta penempatan guru yang masih jauh dari domisili. Ia menyatakan akan mendorong dukungan melalui anggaran dan dana aspirasi APBD Jawa Timur untuk fasilitas pendidikan yang membutuhkan penanganan.

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut perlu segera diurai agar sektor pendidikan mampu menopang penyiapan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Sowan: Dari Aspirasi Menuju Solusi

Sowan (Sosialisasi Dewan) yang dipelopori Guntur Wahono menjadi ruang pertemuan antara guru, pemerintah, legislatif dan pemangku kepentingan pendidikan untuk mengurai persoalan di lapangan.

Mulai dari P3K, P3K paruh waktu, kesejahteraan guru, guru TK, kenaikan pangkat, pemerataan tenaga pendidik, fasilitas sekolah hingga perlindungan hukum, seluruhnya menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan peserta.

Kini, tantangannya bukan hanya bagaimana aspirasi guru didengar, tetapi bagaimana aspirasi tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan, anggaran dan solusi nyata untuk memperkuat pendidikan Kabupaten Blitar menuju Indonesia Emas 2045. *(Red)
Blitar Parade Drum Minus-One: Panggung Drummer, Talenta Lokal dan UMKM

By On September 28, 2026


Blitar Drum Percussion Night 15 drummer tampil di Pasar Wage Kota Blitar


Blitar, Jawa Timur | JNO — Ketika panggung musik biasanya didominasi vokalis dan grup band, Kota Blitar justru membuka ruang berbeda. Blitar Parade Drum Minus-one menghadirkan sekitar 15 drummer dalam pertunjukan drum minus-one di area parkir Pasar Wage, Jalan Mastrip, Kota Blitar, Minggu malam (27/9/2026).

Konsep tersebut menempatkan permainan drum sebagai pusat pertunjukan. Para drummer tampil secara langsung dengan format play along, sementara instrumen musik lainnya menggunakan rekaman minus-one. Masing-masing drummer sedikitnya memainkan dua judul lagu.

Menurut Tito, Penasehat event Blitar Parade Drum Minus-one, konsep pertunjukan tersebut diklaim bahwa konsep parade drum dengan format minus-one sebagai orisinil 100% karya orang Blitar dan baru pertama kali ada di Indonesia, sebagai pencetus sekaligus pelaksana.

“Ini baru pertama kali digelar di Indonesia, tepatnya di Kota Blitar,” ujar Tito.

Klaim tersebut menjadi bagian dari semangat penyelenggara untuk membawa kegiatan musik berbasis komunitas menjadi agenda yang lebih berkelanjutan.

Sembilan Tahun Bergerak Secara Swadaya

Tito mengatakan, kegiatan ini tidak lahir secara tiba-tiba. Komunitas drummer di Blitar telah menjalankan parade drum dan berbagai kegiatan selama sekitar sembilan tahun.

Namun, menurut dia, kegiatan tersebut selama ini lebih banyak berjalan secara mandiri.

Pendanaan event Blitar Parade Drum Minus-One perdana juga berasal dari swadaya dan iuran sukarela atau sambatan dari para pendukung kegiatan seperti event-event yang pernah diselenggarakan sebelumnya.

Di sisi lain, antusiasme penonton, musisi, drummer serta pelaku UMKM disebut cukup positif.

Tito berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi event yang lebih besar dan memiliki jangkauan nasional.

Penyelenggara bahkan merencanakan event Blitar Parade Drum Minus-one akan digelar setiap tiga bulan sekali.

Dari sekitar 15 drummer yang tampil, sembilan berasal dari Kota Blitar dan enam lainnya dari Kabupaten Blitar.

Bukan Sekadar Parade

Tito juga menyoroti karakter yang ingin dibangun dari kegiatan drummer di Blitar.

Menurutnya, parade di sejumlah daerah sering menggunakan konsep cover lagu dengan jumlah pemain yang sangat besar, jika ada pun selama ini sebatas Minus-one vocal, melodi, guitar melody atau guitar bass. Blitar mencoba mengambil pendekatan berbeda dengan mengembangkan konsep sendiri yang belum ada di Indonesia, yaitu full exposed skill drummer.

"Untuk konsep parade drum Minus-one belum pernah ada yang menyamai di Indonesia, 100% original karya orang Blitar ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri." tegas Tito dengan penuh semangat.

Bagi penyelenggara, kreativitas tersebut merupakan bagian dari upaya membangun identitas pertunjukan musik lokal yang berpotensi viral secara nasional.

Tito juga mengingat tradisi berkumpulnya para musisi lintas generasi pada momentum tertentu, termasuk Malam Takbir.

Menurut dia, kerinduan untuk kembali berkumpul dan bermain musik menjadi salah satu latar belakang kuat berkembangnya kegiatan tersebut.

DPRD Soroti Talenta Musisi Blitar

Anggota DPRD Kota Blitar, Yasa Kurniawanto, Johan Marihot, Purwanto hadiri Blitar Drum/Percussion Night, 27/09/2026. (ki-ka).
Pertunjukan tersebut mendapat perhatian Yasa Kurniawanto, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Blitar yang hadir bersama rekan Anggota DPRD Kota Blitar Komisi lainnya.

Yasa mengatakan Blitar Raya memiliki banyak musisi dengan kemampuan di bidang masing-masing.

Ia melihat pertunjukan drummer malam itu juga menunjukkan adanya regenerasi karena pemain yang tampil berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, anak muda hingga dewasa.

“Di Blitar Raya ini saya yakini dan saya ketahui sendiri tidak kurang musisi-musisi yang hebat di bidangnya masing-masing,” kata Yasa.

Menurutnya, dukungan terhadap kegiatan semacam ini juga dapat dikaitkan dengan pengembangan talenta generasi muda.

Ia mengapresiasi kegiatan yang masih dilakukan secara swadaya serta kehadiran para pihak yang memberikan dukungan.

Musik dan UMKM Bisa Berjalan Bersama

Sementara itu, Purwanto, Anggota Komisi III DPRD Kota Blitar, menilai kegiatan tersebut memiliki potensi tidak hanya sebagai ruang kreativitas musisi, tetapi juga sebagai penggerak aktivitas UMKM.

Ia mendorong agar event serupa terus dikembangkan dan dilaksanakan pada akhir pekan sehingga lebih mudah diakses masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.

“Kalau bisa diadakan malam Minggu atau hari Minggu,” ujar Purwanto.

Menurutnya, kegiatan musik yang menghadirkan masyarakat dalam jumlah besar dapat menciptakan aktivitas ekonomi bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi.

Ia juga berharap para pencinta musik dan band terus memperoleh ruang untuk berkreativitas.

Gagasan Kawasan Kreatif Jalan Mastrip-TGP

Purwanto bahkan melihat kegiatan seni dan UMKM dapat dikembangkan lebih jauh sebagai bagian dari aktivitas kawasan.

Ia menyampaikan gagasan agar kawasan Jalan Mastrip hingga TGP secara bertahap dapat berkembang menjadi kawasan yang ramai oleh kegiatan masyarakat dan ekonomi kreatif.

“Dengan berjalannya waktu, kita berharap Jalan Mastrip sampai TGP bisa seperti Malioboro,” ungkapnya.

Purwanto juga menyebut dirinya tergabung dalam perkumpulan musik keroncong. Kondisi tersebut membuka peluang kolaborasi antara berbagai komunitas musik di Kota Blitar.

Akan Dibawa ke Forum DPRD

Dukungan, menurut Purwanto, diharapkan tidak berhenti pada kehadiran di lokasi acara.

Ia menyampaikan rencana untuk mengagendakan pembahasan kegiatan tersebut bersama Ketua Komisi III DPRD Kota Blitar, Yudi Meira yang malam tadi turut hadir dalam acara, agar dapat dibicarakan lebih lanjut dalam forum DPRD.


Dalam kesempatan yang sama, Johan Marihot, Anggota DPRD Kota Blitar sampaikan dukungannya, berharap pemerintah bisa mengakomodir para musisi yang bertalenta seperti halnya seniman musik pada kegiatan yang seperti hari ini.

"Kita di DPRD akan mendorong utamanya anggaran untuk memberikan ruang lebih kepada para musisi agar memiliki wadah atau ajang kreasi untuk bisa perform yang pada akhirnya dapat membawa nama baik kota Blitar," pungkasnya.

Salah satu gagasan yang muncul adalah membuka lebih banyak ruang pertunjukan bagi musisi sekaligus menghubungkannya dengan penguatan UMKM.

Bagi para penyelenggara, Blitar Parade Drum Minus-One menjadi pembuktian bahwa event musik dapat lahir dari inisiatif komunitas dengan dukungan swadaya.

Namun, perjalanan berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan menjaga konsistensi event, memperluas partisipasi musisi, serta membangun kolaborasi antara komunitas, UMKM dan pemerintah.

Dari panggung drum di Pasar Wage, sebuah ruang baru bagi musisi Blitar mulai diketuk. Pertanyaannya kini bukan sekadar seberapa keras suara drum terdengar, tetapi seberapa jauh ruang kreativitas itu dapat bertahan dan berkembang menjadi ekosistem musik serta ekonomi kreatif di Kota Blitar.





Apa Itu Drum Minus-One?

Drum minus-one atau drum play-along merupakan format pertunjukan ketika drummer memainkan drum secara langsung, sedangkan instrumen musik lainnya menggunakan rekaman.

Format ini memberikan ruang bagi drummer untuk menampilkan teknik, musikalitas, interpretasi dan kreativitas permainan secara lebih menonjol. 


Lima Unsur Pentahelix, Lima Peran Nyata

Blitar Parade Drum Minus-one hanyalah salah satu contoh objek kolaborasi. Event ini dapat menjadi pemantik untuk mempertemukan lima unsur Pentahelix dan menggali lebih banyak potensi yang dapat dikerjakan bersama.

- Pemerintah — menjadi regulator dan fasilitator: membuka kebijakan, ruang publik, perizinan, program, serta memastikan kolaborasi dapat berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

- Akademisi — menjadi sumber pengetahuan dan inovasi: melakukan riset, pemetaan potensi, pendidikan, pelatihan, serta pendampingan agar setiap program memiliki dasar dan arah yang jelas.

- Dunia usaha — menjadi penggerak investasi dan pasar: membuka kemitraan, sponsorship, akses pasar, peluang usaha, serta mendukung keberlanjutan kegiatan dan UMKM.

- Komunitas/masyarakat — menjadi penggerak lapangan: melahirkan kreativitas, mengembangkan talenta, menjalankan kegiatan, sekaligus memastikan program sesuai kebutuhan masyarakat.

- Media — menjadi penghubung, penguat publikasi dan pengawal informasi: mengangkat potensi lokal, mempertemukan para pihak, memperluas promosi, membuka ruang dialog publik, serta mengawal perkembangan kolaborasi secara berkelanjutan.

Jika kelima unsur ini benar-benar duduk bersama, yang dibicarakan tidak harus berhenti pada satu event. Masih banyak potensi, persoalan, talenta, UMKM, ruang publik, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga peluang usaha di Blitar yang dapat dipetakan dan dikolaborasikan.

Karena itu, mari menjadikan satu event sebagai titik awal, bukan titik akhir. Dari satu objek kolaborasi, kita dapat menggali banyak gagasan dan membangun ekosistem yang mampu menciptakan peluang, memperkuat ekonomi lokal, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pentahelix bukan sekadar lima unsur yang hadir dalam satu acara, tetapi lima kekuatan yang bekerja bersama untuk menghasilkan perubahan. *(Red)
Pendidikan Generasi Muda di Era Digital Jadi Sorotan, Bullying hingga Karakter Pancasila Dibahas

By On September 27, 2026


Blitar, Jawa Timur | JNO — Pendidikan generasi muda dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Di tengah perkembangan teknologi digital, penguatan karakter, keterampilan, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta pencegahan perundungan menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi masa depan.


Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Pendidikan Generasi Muda untuk Menghadapi Tantangan Zaman di Esteje Cafe, Desa Tulungrejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Sabtu (26/9/2026).


Kegiatan menghadirkan Guntur Wahono, S.E., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan, Rangga Bisma Aditya, S.Sosio., Ketua KPU Kota Blitar, Muhammad Yahya, Sekretaris PW IPNU Jawa Timur, serta Muhammad Miftahu Surur, Ketua PC IPNU Kabupaten Blitar, dengan puluhan peserta dari kalangan Gen Z.


Tantangan Pendidikan di Era Digital


Rangga Bisma Aditya menyoroti perubahan pendidikan di tengah peradaban digital. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai Pancasila agar karakter kebangsaan tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan.


Ia juga menilai sistem pendidikan perlu terus disesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk penguatan pendidikan keluarga, parenting, serta penanganan bullying dan cyberbullying yang kini dapat terjadi di ruang digital.


Peran komite sekolah, menurutnya, juga perlu diperluas. Tidak hanya menangani persoalan fasilitas maupun kebutuhan sekolah, tetapi turut menjadi bagian dari edukasi pengasuhan, pendidikan karakter dan pencegahan perundungan.


Aspirasi Pelajar: Bullying hingga Guru Honorer


Ketua PC IPNU Kabupaten Blitar Muhammad Miftahu Surur menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.


Sejumlah isu yang disampaikan antara lain perundungan di kalangan pelajar, akses dan fasilitas pendidikan, serta kesejahteraan guru honorer.


Ia berharap forum serupa tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat memberikan dampak lebih luas bagi pelajar di Kabupaten Blitar.


Sementara Muhammad Yahya menilai diskusi yang mempertemukan pelajar, praktisi pendidikan dan aktivis perlu terus digalakkan.


Ia juga mendorong agar aspirasi generasi muda dapat dikemas melalui ruang digital. Pelatihan pembuatan konten video di berbagai platform media sosial dinilai dapat menjadi sarana menyampaikan pesan moral dan gagasan anak muda secara kreatif.


Guntur Wahono: Perlu Tindak Lanjut

Guntur Wahono menegaskan, persoalan anak muda dan perundungan tidak cukup dibahas dalam satu pertemuan. Menurutnya, perlu ada forum lanjutan dengan melibatkan pemerintah daerah, dinas terkait dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan.


Aspirasi pelajar, kata Guntur, perlu diakomodasi agar dapat menjadi bahan dalam penyusunan kebijakan.


Ia juga mendorong pertemuan yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak kelompok pelajar dan organisasi kepemudaan. Menurutnya, sinergi antara kelompok nasionalis dan religius juga penting untuk membangun masyarakat yang maju, berwawasan dan memiliki kepedulian sosial.


Dalam forum tersebut, Guntur turut menyampaikan pandangan mengenai pentingnya generasi muda memahami kehidupan politik dan kebangsaan.


Pendidikan, Karakter dan Masa Depan Generasi Muda


Sosialisasi tersebut menjadi ruang dialog antara pelajar, organisasi kepemudaan, penyelenggara pemilu dan wakil rakyat. Berbagai persoalan mulai pendidikan karakter, transformasi digital, parenting, bullying, cyberbullying, fasilitas pendidikan hingga kesejahteraan guru honorer menjadi bagian dari pembahasan.


Forum tersebut menegaskan pentingnya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga berkarakter, kreatif, adaptif dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.


Aspirasi generasi muda pun diharapkan tidak berhenti di ruang diskusi, melainkan dapat diteruskan menjadi perhatian dan bahan pertimbangan dalam  Dari kebijakan pendidikan dan pembangunan daerah. *(Red)







Hari Tani Nasional 2026: Pertanian Modern Didorong Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

By On September 25, 2026


Sosialisasi pertanian modern dalam rangka Hari Tani Nasional 24 September 2026 di Kabupaten Blitar

Blitar, Jawa Timur | JNO — Pendidikan dan penerapan pertanian modern didorong menjadi strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas petani. Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Pendidikan Pertanian Modern untuk Menunjang Ketahanan Pangan Nasional di Rest Area Pendapa Ageng Hand Asta Sih, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Kamis (24/9/2026), bertepatan dengan Hari Tani Nasional.

Kegiatan menghadirkan Guntur Wahono, S.E., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, bersama Dekopinwil Jawa Timur Slamet Sutanto, S.E., M.M.; Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Blitar Suwito; Kabid DKPP Kabupaten Blitar Siswoyo; Ketua Gapoktan Kabupaten Blitar Maskuri, S.T.; serta ratusan perwakilan Gapoktan dari wilayah barat Kabupaten Blitar.

Forum tersebut menjadi ruang dialog antara legislatif, pemerintah dan kelompok tani untuk membahas sejumlah persoalan, mulai dari krisis air, pupuk subsidi, modernisasi teknologi, pertanian organik hingga regenerasi petani.

Hari Tani Jadi Momentum Penguatan Petani

Momentum Hari Tani Nasional menjadi perhatian Guntur Wahono. Menurutnya, peringatan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk memperkuat dukungan terhadap petani sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan.

“Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk memberikan penghargaan sekaligus memperkuat komitmen terhadap petani. Mereka adalah soko guru bangsa yang menjaga ketahanan pangan. Karena itu, petani harus mendapat dukungan melalui kebijakan, teknologi dan akses yang mampu membuat pertanian semakin maju dan berkelanjutan,”
ujar Guntur.



Guntur juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar persoalan pertanian dapat ditangani secara terpadu, mulai dari kebutuhan air, teknologi, pembiayaan hingga akses pasar.

Krisis Air Jadi Sorotan

Suwito menyampaikan, salah satu keluhan utama petani adalah keterbatasan air yang berdampak terhadap hasil panen.

Pemerintah provinsi bersama DPRD dan dinas terkait akan mendorong peninjauan lapangan untuk melihat kebutuhan infrastruktur pengairan. Salah satu opsi yang dibahas adalah peninggian atau pembendungan sumber air yang berpotensi mengairi sekitar 15 hektare lahan.

Selain itu, dibahas pula sekitar 150 titik sumur potensial, pemilihan varietas yang sesuai kondisi air, serta pemanfaatan teknologi seperti greenhouse dan irigasi tetes.

Siswoyo menyebut penanganan kekeringan juga dilakukan melalui edukasi pola tanam dan dukungan sekitar 155 unit sumur bor/irigasi perpompaan.

PM-AAS Didorong Tingkatkan Produktivitas

Siswoyo menjelaskan, pendidikan pertanian modern diarahkan selaras dengan program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS).

Implementasinya di Kabupaten Blitar ditargetkan sekitar 550 hektare hingga akhir Desember 2026, dengan sasaran peningkatan produktivitas padi dari kisaran 6–7 ton menuju 10 ton per hektare.

Modernisasi tidak hanya menyangkut mesin, tetapi juga pengelolaan air, varietas, efisiensi budidaya dan peningkatan kapasitas petani.

Pupuk Subsidi dan Perubahan Regulasi

Masalah pupuk subsidi juga menjadi perhatian.

Suwito menilai sosialisasi mengenai aturan baru perlu diperkuat. Siswoyo menjelaskan, penebusan pupuk disesuaikan dengan musim tanam dan alokasi kelompok tani.

Penebusan pada prinsipnya dilakukan secara mandiri, dengan ketentuan perwakilan kelompok maksimal 20 orang bagi anggota yang terkendala jarak. KTP asli menjadi persyaratan, sementara ahli waris dapat mewakili anggota kelompok tani yang meninggal dunia sesuai ketentuan.

Apabila terjadi kekurangan, pupuk dapat direlokasi antarwilayah sesuai kewenangan. Siswoyo juga menyebut alokasi 2026 meningkat, dengan angka yang disampaikan dalam forum sekitar 92 persen untuk urea dan 72 persen untuk NPK.

Pertanian Organik Harus Dibangun Bertahap

Selain air dan pupuk, pengembangan pertanian organik menjadi bagian pembahasan.

Suwito menekankan bahwa pertanian organik tidak cukup hanya melalui kampanye, tetapi membutuhkan sistem kelembagaan dan pendampingan yang berkelanjutan.

“Pertanian organik tidak bisa dilakukan secara instan. Harus ada pendampingan bertahap, mulai dari kelembagaan, proses budidaya, sertifikasi hingga pemasaran dan pembiayaan, sehingga produk organik benar-benar memiliki nilai tambah dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.” terang Suwito, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Blitar



Pendekatan tersebut diarahkan agar petani tidak hanya mampu menghasilkan produk organik, tetapi juga memiliki kepastian standar, akses pasar dan peluang pembiayaan.

Regenerasi Petani Jadi Tantangan

Guntur juga menyoroti persoalan regenerasi. Sebagian besar petani saat ini telah berusia lanjut, sementara minat generasi muda terhadap pertanian tradisional relatif rendah.

Karena itu, pertanian perlu menawarkan teknologi, efisiensi dan nilai ekonomi yang lebih menarik bagi anak muda.

Hidroponik dan greenhouse, termasuk budidaya melon serta komoditas hortikultura lainnya, menjadi salah satu peluang yang disoroti.

Dukungan pemerintah dan lembaga keuangan diperlukan dalam bentuk teknologi, pengetahuan, pembiayaan hingga akses pasar.

Gapoktan Dituntut Visioner

Slamet Sutanto menilai sosialisasi dewan memberi ruang bagi Gapoktan untuk menyampaikan persoalan langsung kepada wakil rakyat.

Menurutnya, petani menghadapi tantangan berupa perubahan regulasi, persaingan pasar bebas dan digitalisasi.

Karena itu, organisasi tani perlu berpikir visioner dan membangun komunikasi lintas lembaga dengan pemerintah, DPRD, masyarakat maupun organisasi lainnya.

Dari Sosialisasi Menuju Aksi

Rangkaian pembahasan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan produksi.

Air membutuhkan infrastruktur, pupuk membutuhkan tata kelola, produktivitas membutuhkan teknologi, pertanian organik membutuhkan pendampingan, sedangkan regenerasi membutuhkan model pertanian yang menarik dan bernilai ekonomi.

Momentum Hari Tani Nasional 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan aspirasi petani dengan kebijakan pemerintah dan legislatif.

Guntur Wahono berharap petani sebagai soko guru bangsa terus memperoleh dukungan dalam menjaga keberlanjutan pertanian Indonesia.

Ketahanan pangan tidak cukup dibangun dengan slogan. Ia membutuhkan air, teknologi, kebijakan yang terintegrasi, akses pembiayaan dan pasar, serta petani yang ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan pertanian.
 *(Red)
Rumah Roboh, Keluarga Pra Sejahtera di Doko Blitar Dapat Bantuan Kemanusiaan

By On September 14, 2026


Penyerahan bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh perwakilan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar kepada keluarga pra sejahtera yang terkena musibah rumah roboh. (14/9)

BLITAR, JAWA TIMUR | JNO — Kondisi keluarga Boiran, warga Dusun Bebekan, Desa Doko, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, mendapat perhatian setelah rumah yang ditempatinya roboh beberapa waktu lalu. Kondisi ekonomi keluarga yang disebut sangat terbatas membuat proses pemulihan tempat tinggal menjadi persoalan yang tidak mudah.


Kepedulian terhadap keluarga tersebut ditunjukkan oleh DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar bersama Badan Penanggulangan Bencana (Baguna). Bantuan diberikan dalam bentuk sembako dan dana, disertai dukungan psikososial bagi keluarga yang terdampak.


Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Sariati, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan kepada masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.


“Karena rumahnya roboh dan beliau juga dalam kondisi kurang mampu, kita dari DPC PDI Perjuangan memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan,” ujar Sariati.


Menurutnya, bantuan berupa dana dipilih agar keluarga Boiran dapat menggunakannya sesuai kebutuhan, termasuk untuk membeli material yang diperlukan dalam proses pembangunan kembali rumah.


Selain dana, bantuan sembako juga diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.


Tak Hanya Material, Perhatian Psikososial Juga Diberikan


Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Jaminan Sosial DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Retno Puji Astuti, mengatakan kehadiran mereka tidak hanya ditujukan untuk memberikan bantuan material.


Menurut Retno, kondisi rumah yang roboh dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi penghuni. Karena itu, dukungan secara psikososial juga dinilai penting dalam proses pemulihan pascakejadian.


“Dalam kebencanaan ini kita tidak semata-mata hanya memberikan bantuan material, tetapi juga memberikan support agar mereka tidak trauma. Istilahnya trauma healing atau layanan psikososial pascabencana,” kata Retno.


Ia menjelaskan, kasus rumah Boiran berbeda dengan bencana alam pada umumnya. Rumah tersebut disebut roboh karena kondisinya sudah rapuh dan telah lama dihuni, sementara kemampuan ekonomi keluarga untuk melakukan perbaikan sangat terbatas.


Retno berharap bantuan tersebut dapat menggugah kepedulian masyarakat lainnya sehingga proses pembangunan kembali rumah Boiran dapat segera dilakukan dan keluarga tersebut dapat kembali menempati hunian yang lebih aman.


Gotong Royong Warga Jadi Kekuatan Utama

Bentuk kepedulian warga sekitar dengan gotong-royong atau soyo untuk membangun kembali rumah roboh milik Boiran.

Di tengah keterbatasan keluarga Boiran, warga sekitar turut mengambil bagian dalam upaya membangun kembali rumah tersebut. Masyarakat membantu melalui tenaga dan pikiran secara gotong royong atau soyo, istilah yang lazim digunakan masyarakat Jawa untuk kegiatan membantu pekerjaan bersama.


Keterlibatan warga menunjukkan bahwa persoalan tempat tinggal keluarga kurang mampu tidak hanya menjadi persoalan pribadi, tetapi juga dapat menjadi tanggung jawab sosial masyarakat di sekitarnya.


Warga menyampaikan bahwa bantuan dan kepedulian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, mengingat kondisi ekonomi keluarga Boiran yang disebut sangat tidak mampu.


Bagi warga, hadirnya bantuan secara nyata dinilai memberikan dorongan moral sekaligus membantu mempercepat proses pemulihan rumah yang roboh.


Warga Soroti Respons Pemerintah Desa


Di sisi lain, berdasarkan keterangan sejumlah warga yang diterima wartawan, hingga saat ini Kepala Desa Doko disebut belum datang ke lokasi maupun memberikan bantuan kepada keluarga Boiran.


Keterangan tersebut menjadi perhatian warga karena keluarga Boiran berada dalam kondisi ekonomi yang sulit dan membutuhkan dukungan untuk membangun kembali tempat tinggalnya.


Namun, informasi mengenai belum hadirnya Kepala Desa Doko tersebut merupakan keterangan dari warga dan masih memerlukan konfirmasi langsung dari Pemerintah Desa Doko. JNO belum memperoleh penjelasan resmi dari Kepala Desa Doko terkait kondisi tersebut pada saat berita ini disusun.


Dalam konteks penanganan masyarakat rentan, kehadiran pemerintah di tingkat desa menjadi penting, terutama ketika persoalan yang dihadapi menyangkut kebutuhan dasar berupa tempat tinggal yang layak dan aman.


Kepedulian Sosial Perlu Berkelanjutan


Sariati mengatakan kegiatan kepedulian terhadap masyarakat terdampak telah dilakukan di sejumlah tempat. Menurutnya, ketika terjadi kondisi darurat atau musibah yang menimpa masyarakat, pihaknya berupaya turun langsung memberikan bantuan.


Retno juga menegaskan bahwa kepedulian terhadap masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas akan terus dilakukan.


“Ini menjadi perhatian kami selaku DPC PDI Perjuangan yang merupakan partainya wong cilik. Ini memang sudah kami lakukan dari dulu dan nanti seterusnya tetap kita lakukan,” ujarnya.


Terlepas dari latar belakang organisasi maupun politik pihak yang memberikan bantuan, kebutuhan keluarga Boiran saat ini tetap menjadi persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian bersama.


Gotong royong warga, bantuan organisasi, serta kepedulian masyarakat luas diharapkan dapat menjadi kekuatan bersama agar rumah keluarga Boiran segera kembali berdiri dan dapat ditempati secara layak serta aman.


Bagi keluarga yang berada dalam kondisi pra sejahtera, sebuah rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat untuk berlindung, menjalani kehidupan, dan mempertahankan martabat keluarga.


Karena itu, kepedulian yang hadir secara nyata menjadi sangat berarti bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi paling membutuhkan. *(Red)

Bazar UMKM Pandawa IV Sukosewu dan Ujian “Bazar Berdaulat”: Menuju UMKM Naik Kelas

By On September 14, 2026


Bazar UMKM Pandawa IV manfaatkan jalan Pandawa sepanjang 500 meter 

BLITAR, JAWA TIMUR | JNO — Bazar Pandawa IV di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, telah berakhir pada Minggu malam (13/9/2026). Ribuan warga datang, puluhan stan UMKM memenuhi Jalan Pandawa, 16 lembaga pendidikan ikut tampil, dan panggung ditutup dengan campursari Suko Budoyo.


Mengusung tema “Indonesia Adil dan Makmur, Bazar Berdaulat” dengan slogan “Bazar Pandowo... Gak Mampir Rugi!”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang promosi dan pengembangan UMKM sekaligus wadah bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas.


Penutupan Bazar Pandawa IV pada Minggu malam (13/9/2026) dihadiri Bupati Blitar Drs. Rijanto, M.M., Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar yang sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Guntur Wahono, S.E, jajaran Forkopimcam, tokoh masyarakat, Pemerintah Desa Sukosewu, Karang Taruna, pelaku UMKM, serta masyarakat dari berbagai lapisan.


Bazar tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.


Bazar Pandawa IV diikuti peserta dari 16 lembaga pendidikan di Desa Sukosewu. Puluhan stan UMKM dan stan pendidikan memenuhi kawasan bazar sepanjang sekitar 500 meter di Jalan Pandawa. Para peserta memamerkan berbagai produk, kreativitas warga, serta karya peserta didik.


Bupati: Gotong Royong Sukosewu Harus Dipertahankan


Dalam sambutannya, Bupati Blitar Rijanto memberikan apresiasi terhadap semangat gotong royong masyarakat Desa Sukosewu yang dinilainya tetap terjaga.


Ia mengingat kembali keberhasilan Desa Sukosewu meraih penghargaan tingkat Provinsi Jawa Timur dalam kegiatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, yang menurutnya menjadi salah satu bukti kuat semangat kebersamaan masyarakat desa.


“Dan kenyataannya, suasana gotong royong Desa Sukosewu itu sampai sekarang tetap luar biasa, tetap baik semangatnya,” ujar Rijanto.


Menurutnya, semangat tersebut juga terlihat dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.


Rijanto bahkan menyinggung karakter masyarakat Sukosewu yang mampu tetap meriah tanpa harus mengandalkan hiburan dengan sound horeg.


“Kalau desa lain ada sound horeg, Sukosewu enggak ada sound horeg pun enggak masalah, tetap semangat, tetap luar biasa,” katanya.


Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir.


Rijanto juga menyampaikan bahwa Bazar Pandawa akan terus didorong menjadi kegiatan tahunan. Ia berharap agenda tersebut tetap berjalan meskipun nantinya terjadi pergantian kepemimpinan di tingkat desa.


“Ini nanti akan diadakan setiap tahun. Sampai enggak tahu Pak Mardi Basuki nanti selesai jadi kepala desa pun harus tetap ada,” ujarnya.


UMKM Sepanjang Jalan, Bahkan Stan Disebut Masih Kurang


Menurut Rijanto, salah satu manfaat penting Bazar Pandawa adalah memberikan ruang kepada pelaku UMKM di berbagai wilayah Desa Sukosewu untuk memasarkan produknya.


Ia menyebut keterlibatan UMKM bahkan terlihat hampir di sepanjang Jalan Pandawa.


“UMKM-nya sepanjang jalan ini nampaknya per RT tampil,” kata Rijanto.


Bupati juga menyebut jumlah pelaku UMKM yang ingin berpartisipasi cukup besar. Berdasarkan laporan yang diterimanya, sejumlah pelaku usaha bahkan belum mendapatkan tempat stan.


“Masih kekurangan tempat stan-stannya, masih banyak yang belum kebagian,” ujarnya.


Karena itu, Rijanto meminta kualitas produk UMKM Sukosewu terus ditingkatkan, terutama dari sisi rasa, kemasan, dan packing (pengemasan).


Ia berharap produk-produk lokal tersebut tidak berhenti dikenal di tingkat Kabupaten Blitar, tetapi mampu berkembang hingga pasar nasional.


“Kualitasnya, termasuk kalau enggak salah ini ada batik yang ada dari Sukosewu ini paling bagus. Batik ciri khasnya Kabupaten Blitar, batik Cakra ini dibuat dari Sukosewu juga ada,” ungkapnya.


Menurut Rijanto, keberadaan bazar semacam ini secara langsung ikut mendorong pergerakan ekonomi masyarakat.


“Dengan adanya bazar ini pergerakan ekonomi masyarakat akan semakin baik,” tegasnya.


Panggung Kreativitas Pelajar


Selain UMKM, Bazar Pandawa IV juga memberikan ruang bagi pelajar untuk tampil di hadapan masyarakat.


Pada 11–12 September, panggung utama diisi pentas seni pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, RA, SD, MI hingga MTsN di wilayah Desa Sukosewu.


Beragam tari tradisional dan penampilan religi ditampilkan dalam rangkaian acara tersebut.


Rijanto menilai keterlibatan pelajar memiliki manfaat penting, terutama dalam membangun kepercayaan diri sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat.


“Ini juga memberikan ruang untuk kesempatan anak-anak kita ini tampil, untuk melatih percaya diri dan menyalurkan bakat. Ini sangat bagus sekali,” katanya.


Ia pun menyampaikan apresiasi kepada panitia, Pemerintah Desa Sukosewu, serta seluruh masyarakat yang telah bekerja sama menyukseskan kegiatan tersebut.


Bupati: Bazar Pandawa Harus Terus Digelar


Dalam wawancara seusai acara, Rijanto kembali menegaskan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Bazar Pandawa IV.


“Ya, sangat baik sekali. Ini Bazar Pandawa 4 yang diselenggarakan oleh Desa Sukosewu. Tentunya ini bentuk gotong royong,” ujarnya.


Menurutnya, mempertahankan semangat gotong royong di tengah perkembangan zaman bukan sesuatu yang mudah. Namun, Desa Sukosewu dinilai mampu mempertahankan tradisi tersebut melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.


“Ini mengangkat UMKM, terus kemudian juga memberikan wadah anak-anak sekolah untuk tampil, ini bagus sekali,” katanya.


Rijanto berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun.


“Harapan kami kegiatan semacam ini terus diadakan tiap tahun,” tegasnya.


Guntur Wahono: Pengembangan UMKM Harus Mendapat Dukungan 



Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Guntur Wahono, S.E., yang turut hadir dalam penutupan, juga memberikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat.

Ia menilai Bazar Pandawa IV menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam mengembangkan UMKM.


“Sangat luar biasa. Antusias masyarakat untuk menjajakan UMKM-nya sangat bagus sekali,” kata Guntur.


Menurutnya, konsistensi kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu indikator bergeraknya ekonomi masyarakat desa.


“Kalau ini jalan terus, berarti kesejahteraan masyarakat luar biasa meningkat. Ini yang kita harapkan,” ujarnya.


Sebagai wakil rakyat, Guntur mengatakan pihaknya berkepentingan untuk melihat secara langsung aktivitas ekonomi masyarakat. Jika dalam pengembangan UMKM terdapat kebutuhan fasilitasi melalui APBD Provinsi Jawa Timur, ia menyatakan siap membantu mengkomunikasikannya.


“Manakala nanti di dalam pengembangan UMKM kira-kira perlu sesuatu yang perlu difasilitasi melalui APBD Provinsi Jawa Timur, maka kami akan fasilitasi,” katanya.


Ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi secara langsung agar kebutuhan masyarakat dapat diketahui secara nyata.


“Pentingnya kita sering melakukan komunikasi, koordinasi, dan melihat secara nyata apa yang dilakukan masyarakat, terutama dalam rangka pengembangan ekonomi yang berbasis kerakyatan,” ujar Guntur.


Posko Relawan PDIP Buka Layanan Sosial Gratis


Selain memberikan dukungan terhadap pengembangan UMKM, Posko Relawan PDIP turut membuka layanan sosial selama pelaksanaan Bazar Pandawa IV.


Layanan tersebut meliputi pijat gratis, potong rambut, serta cek kesehatan gratis bagi masyarakat yang hadir.


Menurut Guntur, layanan tersebut merupakan ben tuk perhatian organisasi politik terhadap kebutuhan dasar masyarakat.


“Kami dari PDI Perjuangan DPR Kabupaten Blitar itu membuka posko pengobatan gratis. Ada pijat gratis, pengobatan gratis, tes kesehatan gratis, yang ini dibiayai oleh partai,” ungkapnya.


Guntur menegaskan bahwa organisasi politik tidak seharusnya hanya hadir ketika membutuhkan dukungan masyarakat.


“Inilah kewajiban organisasi politik, tidak hanya mikir cari dukungan pada saat mau maju atau mencalonkan, tetapi pada saat masyarakat berkebutuhan menginginkan sesuatu, ini harus kita pegang,” katanya.


Ia menyebut kesehatan dan pendidikan sebagai bagian dari kebutuhan mendasar masyarakat yang perlu mendapat perhatian.


“Terutama hal-hal yang sifatnya mendasar. Apa itu? Ya kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya,” ujar Guntur.


Ditutup Campursari Suko Budoyo


Setelah dua hari diisi pentas seni pelajar, puncak Bazar Pandawa IV pada Minggu malam ditutup dengan pagelaran seni tradisional campursari oleh grup lokal Suko Budoyo.


Penampilan tersebut menghibur ratusan warga yang memadati kawasan festival hingga penghujung acara.


Kepala Desa Sukosewu sebelumnya menyampaikan apresiasi terhadap seluruh masyarakat dan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Bazar Pandawa IV.


Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata-mata hiburan rakyat, melainkan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui UMKM dan semangat gotong royong.


Ke depan, Pemerintah Desa Sukosewu berkomitmen mempertahankan Bazar Pandawa sebagai agenda tahunan sekaligus terus melakukan inovasi agar manfaatnya semakin luas.


Rijanto maupun Guntur Wahono sama-sama berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang dan menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, UMKM, pendidikan, seni budaya, serta berbagai unsur pembangunan desa.


Bagi Sukosewu, Bazar Pandawa IV bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan tahunan. Festival tersebut menjadi gambaran bagaimana gotong royong, ekonomi kerakyatan, kreativitas generasi muda, dan potensi lokal dapat dipertemukan dalam satu ruang di tengah masyarakat desa.

Merdeka!

*(Red)

Gubernur Khofifah Turun Langsung Droping Air Bersih untuk Warga Blitar Terdampak Kekeringan Ekstrem

By On September 06, 2026



Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Blitar Rijanto turun langsung dalam kegiatan dropping air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan ekstrem di Kabupaten Blitar, Sabtu (5/9/2026).

BLITAR, Jawa Timur | JNO — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung mendistribusikan bantuan air bersih atau dropping bagi masyarakat terdampak kekeringan ekstrem di wilayah Kabupaten Blitar.


Langkah tersebut menjadi bagian dari percepatan penanganan krisis air bersih yang melanda puluhan daerah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Blitar, akibat musim kemarau panjang.


Gubernur Khofifah mengungkapkan, hingga saat ini telah tercatat sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur yang resmi menerbitkan Surat Keputusan (SK) Tanggap Darurat Bencana Kekeringan.


“Hari ini yang kita lakukan adalah bagian dari upaya penguatan dan substitusi suplai air bersih untuk menyokong langkah yang sudah dilakukan Pak Bupati Blitar dan kepala daerah lainnya. Kekeringan ekstrem dan panjang ini berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar air bersih masyarakat,” ujar Khofifah saat meninjau lokasi dropping air bersih di Blitar, Sabtu (5/9/2026).


Khofifah menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperluas jangkauan distribusi air bersih ke sejumlah titik krisis. Selain penanganan darurat melalui jalur darat, Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah teknis dan mengajak masyarakat melakukan ikhtiar spiritual untuk menghadapi kondisi kekeringan berkepanjangan.


Secara spiritual, Khofifah mengimbau masyarakat bersama pemerintah daerah untuk menggelar Salat Istisqa secara berjamaah. Sementara dari sisi teknis dan ilmiah, Pemprov Jatim telah melakukan koordinasi untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).


“Jika pada musim hujan OMC dilakukan untuk memecah atau mengarahkan awan ke laut, kali ini sebaliknya. Berdasarkan deteksi meteorologi, ada potensi pergerakan awan potensial. Begitu awan terdeteksi masuk wilayah daratan Jatim, kita siapkan OMC agar awan tersebut bisa optimal diturunkan menjadi hujan,” terangnya.


Selain menangani krisis air bersih, Pemprov Jawa Timur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga bekerja ekstra keras menghadapi meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur akibat dampak kemarau ekstrem.


Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, yang mendampingi Gubernur Khofifah, menyampaikan bahwa operasi pemadaman udara atau water bombing terus dimaksimalkan di sejumlah titik rawan.


Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Gunung Butak, Gunung Semeru, Gunung Arjuno, hingga Gunung Ijen.


“Untuk hari ini fokus water bombing kita alihkan ke Gunung Butak karena cuaca dan angin kencang di Semeru cukup berisiko bagi penerbangan heli. Di Semeru sendiri luasan lahan terbakar sudah mencapai sekitar 1.888 hektare,” ungkap Gatot.


Gatot menambahkan, helikopter water bombing bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga disiagakan untuk merespons permintaan pemadaman di kawasan Gunung Ijen.


Permintaan tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan dari Bupati Banyuwangi, Bupati Bondowoso, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).


Meski demikian, faktor keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan operasi pemadaman dari udara.


“Tantangan utama pemadaman udara adalah angin kencang, jarak pandang pilot yang terbatas akibat kabut awan, serta topografi tebing pegunungan yang sangat curam. Karena itu, pemadaman udara ini terus kita kombinasikan dengan tim pemadaman darat yang melibatkan unsur gabungan TNI, Polri, OPD teknis, dan relawan,” pungkas Gatot.


Penanganan kekeringan ekstrem dan Karhutla tersebut menjadi tantangan besar bagi Jawa Timur di tengah musim kemarau panjang. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota, BPBD, TNI, Polri, serta berbagai unsur relawan terus melakukan langkah terpadu untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan dampak bencana di berbagai wilayah.


JNO | Redaksi

Kendalikan Inflasi, Pemkab Blitar Gelar Operasi Pasar Murah di Kecamatan Wlingi

By On September 02, 2026


Operasi Pasar Disperindag
Gelaran Operasi Pasar Murah Disperindag Kabupaten Blitar di Halaman Kantor Kecamatan Wlingi, Rabu (2/9/2026).

Blitar, Jawa Timur | JNO — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menggelar kegiatan Operasi Pasar Murah yang dipusatkan di Halaman Kantor Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni Rabu hingga Kamis, 2–3 September 2026 tersebut digelar mulai pukul 08.30 WIB guna menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah tren fluktuasi harga komoditas.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Darmadi, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa operasi pasar ini diselenggarakan sebagai langkah proaktif pemerintah daerah dalam mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergiliran di berbagai kawasan, di mana sebelum menyasar Kecamatan Wlingi, program serupa telah digelar di Kecamatan Srengat.

"Hari ini dari Disperindag Kabupaten Blitar mengadakan kegiatan Operasi Pasar Murah dalam rangka pengendalian inflasi dan stabilisasi harga barang-barang kebutuhan pokok," ujar Darmadi.

Bermitra langsung dengan Perum Bulog dan berbagai penyedia bahan pangan, Disperindag menyalurkan komoditas pangan utama yang dijual sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET):

Beras SPHP (Bulog): Disiapkan sebanyak 2 ton dengan harga Rp58.000 per kemasan 5 kg.

Minyak goreng dalam kemasan: Disiapkan sebanyak 20 karton dengan harga Rp15.700 per liter.

Gula Pasir: Disediakan dengan harga Rp16.000 per kg.

Produk UMKM Lokal: Berbagai produk olahan dari pelaku UMKM di wilayah Kecamatan Wlingi.

Darmadi menjelaskan bahwa pembatasan kuota pembelian diterapkan agar distribusi barang merata ke seluruh masyarakat yang membutuhkan. Pembelian beras dibatasi maksimal 2 pak (10 kg) per warga, sementara Minyak goreng dalam kemasan dibatasi 1 bungkus per pembeli.

Menyinggung kondisi pasar terkini, Darmadi mengungkapkan bahwa kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok pada bulan September merupakan hal yang relatif lumrah terjadi akibat pasokan yang terbatas di tengah tingginya permintaan. Namun, pihak Disperindag memastikan ketersediaan barang di pasaran tetap aman dan rantai distribusi berjalan lancar.

"Secara umum kenaikannya masih terkendali. Kami memastikan semua komoditas sembako seperti beras, minyak, dan gula tersedia di pasar sehingga masyarakat bisa langsung membeli saat membutuhkan. Operasi pasar ini menjadi salah satu bagian dari upaya stabilisasi harga tersebut," jelasnya.

Antusiasme masyarakat menyambut gelaran ini terlihat dari kehadiran para warga setempat. Susi Jayanti, 38 tahun, salah seorang pembeli dari Kampung Baru, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding harga pasaran.

"Harganya lumayan miring. Saya beli minyak sama gula, kalau beras tidak beli karena di rumah masih ada stok," ungkap Susi.

Operasi pasar murah ini terbuka untuk seluruh masyarakat umum dan diharapkan dapat terus menjaga stabilitas pasokan serta harga komoditas pangan di wilayah Kabupaten Blitar. *Red/

Mahasiswa UNISBA Blitar Kembangkan Sayuran Organik, Panen Mulai 25 Hari dan Dipasarkan Lewat Pre-Order

By On September 01, 2026



Mahasiswa UNISBA Blitar merawat bayam, selada, pakcoy, caisim dan kangkung organik di greenhouse kampus.

Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar merawat tanaman sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Blitar, Jawa Timur | JNO – Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar terus mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan melalui produksi berbagai jenis sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran dan kewirausahaan mahasiswa, khususnya melalui pengelolaan produksi pertanian yang mengedepankan metode budidaya tanpa penggunaan pestisida sintetis.

Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Salva Maynina, mengatakan sejumlah komoditas yang saat ini dibudidayakan di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 antara lain bayam, selada, pakcoy, caisim, serta kangkung.

“Untuk bulan ini, di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 ada bayam, selada, pakcoy, caisim, dan juga kangkung. Semua kita tanam menggunakan metode organik, jadi tanpa pestisida, hanya menggunakan POC,” ujar Salva.

Menurutnya, tanaman sayuran tersebut memiliki masa produksi yang relatif singkat. Dalam kondisi pertumbuhan yang baik, sebagian tanaman sudah dapat mulai dipanen pada usia sekitar 24 hingga 25 hari.

“Kurang lebih 25 sampai 30 hari. Biasanya 24 atau 25 hari sudah mulai kita panen, kemudian kita jual. Paling lambat sekitar 30 hari,” jelasnya.

Tiga Greenhouse dengan Komoditas Berbeda

Lokasi budidaya berada di area selatan Kampus Universitas Islam Balitar. Mahasiswa mengelola sedikitnya tiga greenhouse dengan komoditas yang berbeda.

Dua greenhouse digunakan untuk produksi sayuran organik, sementara Greenhouse 3 dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah dan kacang tanah.

Produksi sayuran tersebut menyasar konsumen yang memiliki perhatian terhadap pola makan sehat dan ingin mengurangi konsumsi produk pertanian yang menggunakan pestisida.

“Biasanya pembeli kami adalah orang-orang yang menyukai sayuran organik dan menghindari pestisida. Ada guru, dosen, dan juga ibu-ibu yang memang memilih sayuran yang menurut mereka lebih sehat,” kata Salva.

Harga Mulai Rp5.000 per Kemasan



Untuk pemasaran, produk sayuran organik dijual dengan harga rata-rata Rp5.000 per kemasan. Setiap kemasan memiliki berat sekitar 200 hingga 250 gram, tergantung jenis dan hasil panen.

Pemesanan dilakukan menggunakan sistem pre-order (PO) menjelang masa panen. Informasi pembukaan pemesanan disebarkan melalui pamflet digital, terutama melalui WhatsApp Story dan media sosial Instagram.

Produk tersebut diperkenalkan melalui akun Instagram @thegrowpreneur.hub, yang menjadi salah satu media promosi kegiatan produksi sayuran mahasiswa.

Sejauh ini, pemasaran masih berfokus di wilayah Blitar, terutama kawasan Kota Blitar. Distribusi ke luar kota belum menjadi prioritas karena karakter sayuran segar yang mudah mengalami penurunan kualitas apabila membutuhkan waktu pengiriman terlalu lama.

“Kalau untuk luar kota masih belum, karena produk pertanian ini mudah busuk. Jadi untuk sementara kami menghindari pengiriman yang terlalu jauh,” ungkapnya.

Sayuran Organik Dinilai Memiliki Karakter Rasa Berbeda

Selain mengedepankan metode budidaya tanpa pestisida, mahasiswa juga menilai sayuran organik memiliki karakter tekstur dan rasa yang berbeda.

Salfa mencontohkan tanaman kangkung yang dibudidayakan secara organik memiliki batang lebih lunak sehingga bagian tanaman dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal saat dikonsumsi.

“Dari testimoni yang kami terima, rasanya juga berbeda. Contohnya kangkung, kalau organik batangnya sampai bagian bawah lebih lunak dan ketika dimasak juga lebih enak,” tuturnya.

Mahasiswa pun mengajak masyarakat, khususnya warga di sekitar kampus dan wilayah Blitar, untuk mengenal pilihan produk pertanian yang dibudidayakan dengan metode lebih ramah lingkungan.

Produk hasil panen dikemas dengan baik sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Limbah Panen Diolah Menjadi Kompos

Tidak hanya berfokus pada produksi dan pemasaran, mahasiswa juga menerapkan pengelolaan sisa hasil pertanian.

Sisa-sisa tanaman dari proses panen dikumpulkan dan ditempatkan di area pengomposan yang berada di sekitar greenhouse.

Material organik tersebut kemudian dibiarkan mengalami proses dekomposisi hingga menjadi kompos yang dapat menyatu dengan tanah dan dimanfaatkan kembali.

“Biasanya ada sisa-sisa dari panen. Itu kita jadikan satu di tempat kompos di sebelah greenhouse. Lama-kelamaan akan menjadi kompos dan berbaur dengan tanah,” jelas Salva.

Kegiatan produksi tersebut mendapat pendampingan akademik, salah satunya oleh Army Dita Serdani, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar.

Pengembangan greenhouse sekaligus menjadi ruang praktik bagi mahasiswa untuk mempelajari proses pertanian secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengelolaan produk, pemasaran, hingga pengolahan limbah organik.

Langkah tersebut sejalan dengan pengembangan pendidikan pertanian berbasis praktik dan jiwa kewirausahaan yang menjadi bagian dari pembelajaran di lingkungan Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar. *Red/


Kebersihan Lingkungan MTsN 4 Blitar Disorot Warga, Keluhan Disebut Belum Mendapat Tindak Lanjut

By On Agustus 28, 2026



Lingkungan MTsN 4 Blitar disorot warga karena ketidakpedulian kebersihannya. 28/08/2026.

Blitar, Jawa Timur | JNO — Persoalan kebersihan lingkungan di sekitar MTsN 4 Blitar kembali menjadi perhatian warga. Kondisi sejumlah area di sisi luar sekolah yang berbatasan langsung dengan lingkungan organisasi warga dinilai memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih serius dari pihak sekolah.

Berdasarkan dokumentasi yang diterima JinNewsOne (JNO), terlihat sejumlah titik di sekitar bagian luar lingkungan sekolah masih dipenuhi sampah, terutama daun kering, rumput liar, serta berbagai material dan sampah yang berserakan. Pada salah satu bagian terlihat pula saluran atau area sempit di antara bangunan dan dinding sekolah yang terdapat sampah plastik serta material lainnya.

Warga menyampaikan bahwa persoalan tersebut bukan hal baru yang pertama kali dikeluhkan. Pada tanggal 7 Agustus 2026, warga disebut telah menyampaikan keluhan dan laporan mengenai kondisi kebersihan lingkungan kepada pihak MTsN 4 Blitar. Namun, menurut keterangan warga, hingga berita ini diterbitkan belum terlihat adanya tindakan penanganan yang signifikan terhadap area yang dikeluhkan.

Warga juga menyebut telah berupaya melakukan komunikasi dengan pihak sekolah, termasuk berdiskusi dengan Kepala MTsN 4 Blitar, Tati Farida, S.Pd., M.Si. Namun, saat warga datang, kepala sekolah disebut sedang tidak berada di tempatnya.

Warga Pernah Berswadaya Membersihkan

Kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan sebenarnya telah dilakukan melalui tindakan nyata. Sebelumnya, warga sekitar secara swadaya turut membersihkan bagian lingkungan di sisi utara dinding luar sekolah.

Namun, upaya tersebut dinilai semakin berat karena banyaknya daun kering yang terus berjatuhan dari pohon besar yang berada di lingkungan sekolah. Volume daun yang terus bertambah membuat warga menginginkan apabila harus melakukan pembersihan secara mandiri.

Kondisi ini kemudian memunculkan harapan agar terdapat pembagian tanggung jawab yang jelas antara pihak sekolah dan masyarakat sekitar, mengingat area tersebut berada tepat di sisi lingkungan sekolah sekaligus berdampingan dengan rumah warga.

Sekolah Bukan Hanya Tempat Belajar

Kebersihan pribadi mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi warga, hal tersebut memiliki dimensi yang lebih luas karena lingkungan sekolah merupakan bagian dari ruang pendidikan.

MTsN 4 Blitar sebagai lembaga pendidikan tidak hanya memiliki fungsi memberikan fungsi akademik, tetapi juga menjadi salah satu pembelajaran tempat pembentukan karakter peserta didik. Nilai-nilai kebersihan, kedisiplinan, kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan aslinya dapat tercermin dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Oleh karena itu, warga menilai sangat buruk jika persoalan kebersihan di bagian luar lingkungan sekolah terjadi dengan organisasi yang justru berlarut-larut tanpa penyelesaian yang terlihat.

Semangat membangun generasi muda yang ber-Akhlakul Karimah tentu tidak berhenti pada pembelajaran di kelas. Kepedulian terhadap kebersihan, lingkungan dan kenyamanan masyarakat sekitar juga merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.

Kontrol Sosial, Bukan Sekadar Kritik

JNO memandang persoalan ini sebagai bagian dari kontrol sosial dan kritik yang membangun, bukan untuk menyudutkan pihak sekolah. Keluhan masyarakat patut menjadi ruang evaluasi agar persoalan sederhana tidak berkembang menjadi persoalan hubungan antara lembaga pendidikan dengan lingkungan sekitarnya.

Di sisi lain, pihak MTsN 4 Blitar juga memiliki ruang untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi tersebut, termasuk langkah-langkah yang telah, sedang, atau akan dilakukan untuk menangani kebersihan lingkungan yang dikeluhankan warga.

JNO membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak MTsN 4 Blitar maupun Kepala Sekolah Tati Farida, S.Pd., M.Si., sehingga informasi yang berkembang dapat disampaikan secara berimbang kepada publik.

Sebab, menjaga kebersihan lingkungan sekolah pada akhirnya bukan hanya persoalan estetika. Ia merupakan cermin kepedulian, keteladanan, dan tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan dan masyarakat yang hidup berdampingan di sekitarnya. *(Merah)

Festival Es Campur Indonesia, dari Lomba Kuliner hingga Rencana Bisnis

By On Agustus 25, 2026


Festival Es Campur Indonesia di Istana Gaujari Blitar

Festival Es Campur Indonesia digelar di Aula Gaujari Palace, Desa Kerjen, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Selasa (25/8/2026).

Blitar, Jawa Timur — JinNewsOne.com | Selasa, 25 Agustus 2026 — Festival Es Campur Indonesia yang digelar Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Nurhadi, di Gaujari Palace, Desa Kerjen, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, mengusung konsep lomba “Penyaji Es Campur Terlezat.”

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Puluhan peserta mengikuti kompetisi dengan menghadirkan berbagai racikan es campur yang dinilai dari aspek rasa, penampilan, dan kreativitas.

Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat umum. Sejumlah media awak juga ikut ambil bagian dalam kompetisi, sehingga suasana festival berlangsung semakin meriah dan interaktif.

Nurhadi saat memberikan apresiasi kepada pemenang lomba. Foto dok. *Red.

Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat umum. Sejumlah media awak juga ikut ambil bagian dalam kompetisi, sehingga suasana festival berlangsung semakin meriah dan interaktif.

Di balik kegiatan yang bernuansa hiburan tersebut, terdapat pula rencana pengembangan bisnis kuliner. Nurhadi menyampaikan bahwa festival menjadi salah satu sarana untuk melihat secara langsung kreativitas peserta sekaligus mendapatkan inspirasi bagi rencana usaha resto es campur yang akan dikembangkan.

“Festival ini dalam ikut rangka memeriahkan HUT RI. Di samping itu, saya juga punya niat membuka usaha resto es campur, dengan rencana launching pertama di Kediri,” kata Nurhadi.

Menurut Nurhadi, berbagai racikan yang disajikan peserta berpotensi memberikan inspirasi terhadap pengembangan menu. Bahkan, ia membuka kemungkinan resep dari peserta dapat menjadi bagian dari menu resto yang direncanakannya.

Selain potensi pengembangan resep, festival tersebut juga membuka peluang bagi peserta yang memenuhi kriteria untuk terlibat dalam usaha kuliner tersebut. Mereka berpeluang direkrut sebagai pramusaji maupun tenaga pembuat es campur ketika resto mulai beroperasi.

Dengan demikian, Festival Es Campur Indonesia tidak sekadar menjadi lomba kuliner dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan kreativitas masyarakat, potensi kuliner, dan peluang pengembangan usaha.

Rencana tersebut sekaligus memberikan dimensi berbeda pada festival yang digelar di Istana Gaujari. Dari sebuah kompetisi penyajian es campur, kegiatan ini diarahkan untuk menggali ide, menemukan potensi sumber daya manusia, serta melihat peluang bisnis kuliner yang dapat dikembangkan lebih lanjut. *(Red)


Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat Diikuti Sekitar 5.000 Peserta

By On Agustus 23, 2026


Peserta Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat melepas burung merpati di Blitar Antusiasme peserta mengikuti Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat Blitar, Minggu (23/8/2026).

Blitar, Jawa Timur | JNO  — Ribuan masyarakat mengikuti Jalan Sehat dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-12 Kampung Coklat, Minggu (23/8/2026). Kegiatan yang terbuka untuk masyarakat umum tersebut mengusung tema “Sehatkan Raga, Cerahkan Rasa” dan dipusatkan di kawasan Wisata Edukasi Kampung Coklat, Kabupaten Blitar.


Jalan sehat dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dengan rute sejauh kurang lebih 2 kilometer. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Harlah ke-12 sekaligus menjadi sarana olahraga, rekreasi, dan silaturahmi masyarakat.


Kampung Coklat, Destinasi Wisata Keluarga dari Blitar untuk Indonesia


Kampung Coklat bukan sekadar lokasi penyelenggaraan kegiatan Harlah. Kawasan ini telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di Kabupaten Blitar yang dikenal dengan konsep wisata berbasis kakao, rekreasi keluarga, kuliner, serta edukasi pengolahan cokelat.


Konsep tersebut membuat Kampung Coklat menjadi tujuan wisata bagi masyarakat dari berbagai daerah, tidak hanya dari Blitar. Pemerintah Kabupaten Blitar sebelumnya juga mencatat bahwa pengunjung Kampung Coklat datang tidak hanya dari masyarakat setempat, tetapi juga dari luar daerah.


Popularitasnya sebagai destinasi wisata keluarga juga didukung oleh beragam fasilitas yang tersedia di dalam kawasan, mulai dari paket wisata edukasi, wahana permainan, area kuliner, galeri produk cokelat, area wisata, hingga fasilitas untuk berbagai kegiatan dan acara.


Melalui paket wisata edukasi, pengunjung tidak hanya menikmati suasana rekreasi, tetapi juga dapat mengenal tanaman kakao serta proses pengolahan cokelat dari hulu hingga hilir. Konsep inilah yang menjadikan Kampung Coklat memiliki daya tarik tersendiri bagi wisata keluarga maupun kegiatan edukasi.


Kampung Coklat berlokasi di Jl. Banteng–Blorok No. 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur 66161.


Dengan konsep wisata yang memadukan edukasi, rekreasi, kuliner, dan produk olahan cokelat, Kampung Coklat terus menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Pada sejumlah periode liburan, kawasan ini juga dikenal ramai dikunjungi wisatawan dan pemudik yang datang ke Blitar.


Jalan Sehat Diikuti Sekitar 5.000 Peserta


Ketua Pelaksana Harlah ke-12 Kampung Coklat, Abdul Haris Fauzan, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Berdasarkan jumlah kupon yang terjual hingga sehari sebelum pelaksanaan, peserta yang mengikuti jalan sehat diperkirakan mencapai sekitar 5.000 orang.


“Alhamdulillah sudah ada 5.000 peserta terdaftar untuk melaksanakan bersama-sama agenda jalan sehat hari ini,” kata Abdul Haris.


Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan memberikan manfaat dan keberkahan bagi Kampung Coklat serta menjadi momentum untuk mengapresiasi masyarakat yang telah ikut menyukseskan seluruh rangkaian Harlah ke-12.


Selain berolahraga bersama, peserta juga mendapatkan kesempatan memenangkan berbagai hadiah. Hadiah utama yang disiapkan panitia berupa satu unit sepeda motor Honda Beat, dengan pajak hadiah ditanggung oleh pihak penyelenggara.


Selain sepeda motor, panitia juga menyediakan sepeda gunung, mesin cuci, serta puluhan hadiah lainnya.


Abdul Haris menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, termasuk sejumlah sponsor dari sektor perbankan dan pihak lainnya.


“Hadiah utama ada motor Beat, ada sepeda gunung, ada mesin cuci, dan juga ada puluhan hadiah lainnya,” ujarnya.


Tiket Rp5.000, Peserta Dapat Kupon Berhadiah


Dari sisi biaya, peserta cukup membayar Rp5.000 untuk mendapatkan kupon jalan sehat berhadiah. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya yang mencapai Rp10.000.


“Untuk tiket sangat terjangkau, malah turun harga. Tahun lalu Rp10.000, hari ini tiketnya cukup dengan Rp5.000 saja. Peserta sudah mendapatkan kupon jalan sehat berhadiah,” jelas Abdul Haris.


Ia menambahkan, rute jalan sehat yang ditempuh relatif ringan, yakni sekitar 2 kilometer atau kurang lebih 4.000 langkah. Jarak tersebut dipilih agar kegiatan dapat diikuti masyarakat dari berbagai kelompok usia.


“Yang penting peserta berjalan sehat, kira-kira ada 4.000 langkah dan itu sesuai kriteria untuk menyehatkan kita sehari-hari,” katanya.


Peserta: Bisa Olahraga, Berkumpul, Sekaligus Berpeluang Mendapat Hadiah


Antusiasme juga dirasakan langsung oleh peserta. Salah satunya Muji Cahyono, 49 tahun, warga Desa Plosorejo yang mengikuti jalan sehat bersama masyarakat lainnya.


Muji mengaku kegiatan tersebut menarik karena tidak hanya menjadi kesempatan untuk berolahraga, tetapi juga menjadi ajang berkumpul bersama masyarakat.


“Bagus sekali. Bagusnya itu kita bisa kumpul, bisa olahraga bersama, terus siapa tahu dapat hadiah,” ujarnya.


Pada pelaksanaan tahun ini, Muji membeli delapan kupon, masing-masing seharga Rp5.000. Ia juga mengaku sebelumnya pernah mengikuti kegiatan serupa pada perayaan Harlah Kampung Coklat tahun lalu dan sempat mendapatkan hadiah doorprize, meskipun bukan hadiah utama.


Bagi Muji, keberadaan hadiah menjadi salah satu daya tarik tambahan bagi masyarakat untuk berpartisipasi. Ia berharap jumlah hadiah pada kegiatan serupa ke depan dapat semakin banyak sehingga lebih banyak peserta berkesempatan mendapatkannya.


Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat pun tidak hanya menjadi agenda olahraga bersama. Kegiatan tersebut sekaligus menghadirkan ruang interaksi masyarakat dalam suasana perayaan, mempererat kebersamaan, serta memperkuat posisi Kampung Coklat sebagai destinasi wisata edukasi dan rekreasi keluarga yang menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Blitar. *(Red)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *