Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Kendalikan Inflasi, Pemkab Blitar Gelar Operasi Pasar Murah di Kecamatan Wlingi

By On September 02, 2026


Operasi Pasar Disperindag
Gelaran Operasi Pasar Murah Disperindag Kabupaten Blitar di Halaman Kantor Kecamatan Wlingi, Rabu (2/9/2026).

Blitar, Jawa Timur | JNO — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menggelar kegiatan Operasi Pasar Murah yang dipusatkan di Halaman Kantor Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni Rabu hingga Kamis, 2–3 September 2026 tersebut digelar mulai pukul 08.30 WIB guna menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah tren fluktuasi harga komoditas.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Darmadi, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa operasi pasar ini diselenggarakan sebagai langkah proaktif pemerintah daerah dalam mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergiliran di berbagai kawasan, di mana sebelum menyasar Kecamatan Wlingi, program serupa telah digelar di Kecamatan Srengat.

"Hari ini dari Disperindag Kabupaten Blitar mengadakan kegiatan Operasi Pasar Murah dalam rangka pengendalian inflasi dan stabilisasi harga barang-barang kebutuhan pokok," ujar Darmadi.

Bermitra langsung dengan Perum Bulog dan berbagai penyedia bahan pangan, Disperindag menyalurkan komoditas pangan utama yang dijual sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET):

Beras SPHP (Bulog): Disiapkan sebanyak 2 ton dengan harga Rp58.000 per kemasan 5 kg.

Minyak goreng dalam kemasan: Disiapkan sebanyak 20 karton dengan harga Rp15.700 per liter.

Gula Pasir: Disediakan dengan harga Rp16.000 per kg.

Produk UMKM Lokal: Berbagai produk olahan dari pelaku UMKM di wilayah Kecamatan Wlingi.

Darmadi menjelaskan bahwa pembatasan kuota pembelian diterapkan agar distribusi barang merata ke seluruh masyarakat yang membutuhkan. Pembelian beras dibatasi maksimal 2 pak (10 kg) per warga, sementara Minyak goreng dalam kemasan dibatasi 1 bungkus per pembeli.

Menyinggung kondisi pasar terkini, Darmadi mengungkapkan bahwa kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok pada bulan September merupakan hal yang relatif lumrah terjadi akibat pasokan yang terbatas di tengah tingginya permintaan. Namun, pihak Disperindag memastikan ketersediaan barang di pasaran tetap aman dan rantai distribusi berjalan lancar.

"Secara umum kenaikannya masih terkendali. Kami memastikan semua komoditas sembako seperti beras, minyak, dan gula tersedia di pasar sehingga masyarakat bisa langsung membeli saat membutuhkan. Operasi pasar ini menjadi salah satu bagian dari upaya stabilisasi harga tersebut," jelasnya.

Antusiasme masyarakat menyambut gelaran ini terlihat dari kehadiran para warga setempat. Susi Jayanti, 38 tahun, salah seorang pembeli dari Kampung Baru, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding harga pasaran.

"Harganya lumayan miring. Saya beli minyak sama gula, kalau beras tidak beli karena di rumah masih ada stok," ungkap Susi.

Operasi pasar murah ini terbuka untuk seluruh masyarakat umum dan diharapkan dapat terus menjaga stabilitas pasokan serta harga komoditas pangan di wilayah Kabupaten Blitar. *Red/

Gerakan Serang Raya Desak Kejaksaan Tinggi Banten Audit 8 PKBM di Kabupaten Serang, Temukan Banyak Kejanggalan

By On September 02, 2026



Serang — jinnewsone@gmail.com | 2 September 2026 Aliansi Gerakan Serang Raya kembali melangkah dalam upaya pengawasan anggaran pendidikan masyarakat. Setelah sebelumnya melaporkan dugaan penyimpangan pada 10 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Serang kepada Polda Banten, kini organisasi tersebut mendesak Kejaksaan Tinggi Banten untuk melakukan pemeriksaan dan audit secara menyeluruh terhadap 8 lembaga sejenis yang beroperasi di wilayah Kabupaten Serang, Provinsi Banten,Kedelapan PKBM yang dimaksud adalah:

 

1. PKBM Bina Bangsa

2. PKBM Sinangka Sumber Daya, Ciomas

3. PKBM Prestasi Unggul

4. PKBM Sinar Purnama, Padarincang

5. PKBM Sekar, Kabupaten Serang Timur

6. PKBM Insan Banten Madani

7. PKBM Puyuh Koneng

8. PKBM Bakti Warga


Berdasarkan hasil pemantauan dan verifikasi lapangan yang dilakukan Aliansi Gerakan Serang Raya, ditemukan sejumlah hal yang tidak wajar dan patut ditindaklanjuti. Ketua Aliansi, Baharudin, menjelaskan bahwa data peserta didik yang tercatat tidak sesuai dengan kenyataan di lokasi. Selain itu, fasilitas pembelajaran banyak yang tidak layak pakai — ada bangunan yang plafonnya sudah runtuh — padahal dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) telah diterima secara rutin dalam kurun waktu tahun anggaran 2002 hingga 2005.

 

"Yang lebih memprihatinkan, di beberapa tempat sama sekali tidak ada proses belajar mengajar yang berlangsung, padahal anggaran sudah dicairkan setiap tahunnya," ujar Baharudin.


Melihat kondisi tersebut, Aliansi Gerakan Serang Raya meminta Kejaksaan Tinggi Banten tidak tinggal diam. Pihaknya mendesak dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pengelolaan keuangan maupun operasional kedelapan PKBM tersebut.

 

"Kami meminta sikap tegas. Jika ditemukan bukti penyalahgunaan anggaran maupun dugaan tindak pidana korupsi, harap segera diproses sesuai hukum yang berlaku tanpa pandang bulu," tegas Baharudin.

 

Langkah ini diambil sebagai bentuk pengawasan masyarakat agar dana pendidikan rakyat benar-benar digunakan secara jujur, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Red*

Mahasiswa UNISBA Blitar Kembangkan Sayuran Organik, Panen Mulai 25 Hari dan Dipasarkan Lewat Pre-Order

By On September 01, 2026



Mahasiswa UNISBA Blitar merawat bayam, selada, pakcoy, caisim dan kangkung organik di greenhouse kampus.

Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar merawat tanaman sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Blitar, Jawa Timur | JNO – Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar terus mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan melalui produksi berbagai jenis sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran dan kewirausahaan mahasiswa, khususnya melalui pengelolaan produksi pertanian yang mengedepankan metode budidaya tanpa penggunaan pestisida sintetis.

Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Salva Maynina, mengatakan sejumlah komoditas yang saat ini dibudidayakan di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 antara lain bayam, selada, pakcoy, caisim, serta kangkung.

“Untuk bulan ini, di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 ada bayam, selada, pakcoy, caisim, dan juga kangkung. Semua kita tanam menggunakan metode organik, jadi tanpa pestisida, hanya menggunakan POC,” ujar Salva.

Menurutnya, tanaman sayuran tersebut memiliki masa produksi yang relatif singkat. Dalam kondisi pertumbuhan yang baik, sebagian tanaman sudah dapat mulai dipanen pada usia sekitar 24 hingga 25 hari.

“Kurang lebih 25 sampai 30 hari. Biasanya 24 atau 25 hari sudah mulai kita panen, kemudian kita jual. Paling lambat sekitar 30 hari,” jelasnya.

Tiga Greenhouse dengan Komoditas Berbeda

Lokasi budidaya berada di area selatan Kampus Universitas Islam Balitar. Mahasiswa mengelola sedikitnya tiga greenhouse dengan komoditas yang berbeda.

Dua greenhouse digunakan untuk produksi sayuran organik, sementara Greenhouse 3 dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah dan kacang tanah.

Produksi sayuran tersebut menyasar konsumen yang memiliki perhatian terhadap pola makan sehat dan ingin mengurangi konsumsi produk pertanian yang menggunakan pestisida.

“Biasanya pembeli kami adalah orang-orang yang menyukai sayuran organik dan menghindari pestisida. Ada guru, dosen, dan juga ibu-ibu yang memang memilih sayuran yang menurut mereka lebih sehat,” kata Salva.

Harga Mulai Rp5.000 per Kemasan



Untuk pemasaran, produk sayuran organik dijual dengan harga rata-rata Rp5.000 per kemasan. Setiap kemasan memiliki berat sekitar 200 hingga 250 gram, tergantung jenis dan hasil panen.

Pemesanan dilakukan menggunakan sistem pre-order (PO) menjelang masa panen. Informasi pembukaan pemesanan disebarkan melalui pamflet digital, terutama melalui WhatsApp Story dan media sosial Instagram.

Produk tersebut diperkenalkan melalui akun Instagram @thegrowpreneur.hub, yang menjadi salah satu media promosi kegiatan produksi sayuran mahasiswa.

Sejauh ini, pemasaran masih berfokus di wilayah Blitar, terutama kawasan Kota Blitar. Distribusi ke luar kota belum menjadi prioritas karena karakter sayuran segar yang mudah mengalami penurunan kualitas apabila membutuhkan waktu pengiriman terlalu lama.

“Kalau untuk luar kota masih belum, karena produk pertanian ini mudah busuk. Jadi untuk sementara kami menghindari pengiriman yang terlalu jauh,” ungkapnya.

Sayuran Organik Dinilai Memiliki Karakter Rasa Berbeda

Selain mengedepankan metode budidaya tanpa pestisida, mahasiswa juga menilai sayuran organik memiliki karakter tekstur dan rasa yang berbeda.

Salfa mencontohkan tanaman kangkung yang dibudidayakan secara organik memiliki batang lebih lunak sehingga bagian tanaman dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal saat dikonsumsi.

“Dari testimoni yang kami terima, rasanya juga berbeda. Contohnya kangkung, kalau organik batangnya sampai bagian bawah lebih lunak dan ketika dimasak juga lebih enak,” tuturnya.

Mahasiswa pun mengajak masyarakat, khususnya warga di sekitar kampus dan wilayah Blitar, untuk mengenal pilihan produk pertanian yang dibudidayakan dengan metode lebih ramah lingkungan.

Produk hasil panen dikemas dengan baik sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Limbah Panen Diolah Menjadi Kompos

Tidak hanya berfokus pada produksi dan pemasaran, mahasiswa juga menerapkan pengelolaan sisa hasil pertanian.

Sisa-sisa tanaman dari proses panen dikumpulkan dan ditempatkan di area pengomposan yang berada di sekitar greenhouse.

Material organik tersebut kemudian dibiarkan mengalami proses dekomposisi hingga menjadi kompos yang dapat menyatu dengan tanah dan dimanfaatkan kembali.

“Biasanya ada sisa-sisa dari panen. Itu kita jadikan satu di tempat kompos di sebelah greenhouse. Lama-kelamaan akan menjadi kompos dan berbaur dengan tanah,” jelas Salva.

Kegiatan produksi tersebut mendapat pendampingan akademik, salah satunya oleh Army Dita Serdani, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar.

Pengembangan greenhouse sekaligus menjadi ruang praktik bagi mahasiswa untuk mempelajari proses pertanian secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengelolaan produk, pemasaran, hingga pengolahan limbah organik.

Langkah tersebut sejalan dengan pengembangan pendidikan pertanian berbasis praktik dan jiwa kewirausahaan yang menjadi bagian dari pembelajaran di lingkungan Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar. *Red/


Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *