Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, 1.842 Titik Panas Terdeteksi

By On Agustus 22, 2026

Karhutla Kalimantan dan ribuan titik panas di tengah kemarau 2026

Visual kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dengan asap yang menyelimuti kawasan terdampak akibat meningkatnya titik panas selama musim kemarau 2026. Foto dok. Red. JNO (Source: BMKG, BNPB)

Jakarta — JinNewsOne.com | Sabtu, 22 Agustus 2026 — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan kembali menunjukkan eskalasi serius. Pemantauan satelit mencatat ribuan titik panas (hotspot) yang tersebar di lima provinsi, sementara kondisi kemarau yang mempengaruhi fenomena El Niño sangat meningkatkan risiko kebakaran dan kabut asap.


Berdasarkan data SiPongi yang dipantau melalui satelit NASA-NOAA 20 pada 21 Agustus 2026 pukul 14.14 WIB, tercatat 1.842 titik panas di lima provinsi Kalimantan.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.832 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang (kepercayaan sedang), sedangkan 10 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (kepercayaan tinggi). Data tersebut disampaikan BNPB sebagai salah satu rujukan untuk memadukan perkembangan potensi karhutla dan menentukan kebutuhan penanganan di lapangan.


Kalimantan Tengah Dominasi Titik Panas


Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak.


Data BNPB mencatat:


- Kalimantan Tengah : 976 titik

- Kalimantan Barat: 489 titik

- Kalimantan Timur: 237 titik

- Kalimantan Selatan: 125 titik

- Kalimantan Utara: 15 titik


Dari 976 titik di Kalimantan Tengah, sebanyak 968 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang dan delapan titik pada tingkat kepercayaan tinggi.


Sementara di Kalimantan Barat terdapat 489 titik, terdiri atas 487 titik tingkat kepercayaan sedang dan dua titik tingkat kepercayaan tinggi. Adapun seluruh titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara berada pada tingkat kepercayaan sedang.


Angka tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi titik panas tidak merata. Kalimantan Tengah mencakup lebih dari separuh total titik panas yang terpantau dalam periode tersebut.


Namun hotspot tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan. Data satelit merupakan indikator awal yang perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi dan pemantauan lapangan.


Kalbar Catat 198 Hotspot Kepercayaan Tinggi


Situasi di Kalimantan Barat menjadi perhatian khusus pada 22 Agustus.


Laporan BNPB terdapat 198 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat dalam pemantauan 24 jam terakhir. Angka ini merupakan data periode pemantauan yang berbeda dengan angka 1.842 hotspot pada 21 Agustus, sehingga tidak boleh dijumlahkan.


Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (22/8/2026) juga datang langsung ke Kalimantan Barat dan memimpin rapat terbatas untuk mendapatkan gambaran kondisi karhutla di lapangan. Dalam rapat tersebut, pemerintah memaparkan kondisi terkini titik panas dan langkah penanganannya.


Perkembangan tersebut terlihat bahwa kondisi karhutla dapat berubah dengan cepat dalam hitungan jam. Oleh karena itu, data hotspot harus terus diperbarui dan tidak dibaca sebagai angka statistik.


El Niño Perkuat Kondisi Kering


BMKG menilai kondisi iklim kering akibat El Niño menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap karhutla.


Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan kondisi kering membuat lahan lebih mudah terbakar dan meningkatkan produksi asap ketika terjadi kebakaran.


“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan terbakar dan banyak asap,” kata Ardhasena kepada awak media, Jumat (21/8/2026).


Hasil pemantauan BMKG pada dasarian pertama Agustus menunjukkan nilai SSTA wilayah Nino3.4 mencapai +2,77, meningkat dari +2,20 pada Juli. BMKG menyebut kondisi tersebut menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat.


BMKG juga mencatat sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Di Kalimantan, sejumlah wilayah berada dalam status waspada terhadap kondisi kering dan risiko karhutla.


Risiko Karhutla Memuncak Agustus–September


Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan risiko karhutla diperkirakan meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.


BMKG juga menetapkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebagai wilayah yang memerlukan intensifikasi pemantauan dan pengawasan bersama sejumlah provinsi lainnya.


Faisal menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga ketersediaan udara.


“Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembasahan pada lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar,” ujar Faisal.


Menurut BMKG, langkah mitigasi juga mencakup pemantauan hotspot, patroli terpadu, pembasahan lahan gambut, pembangunan sekat kanal, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.


Pemerintah Perkuat Operasi Darat dan Udara


BNPB memperkuat penanganan karhutla melalui operasi udara dan darat. Operasi darat Ditempatkan untuk memastikan bagian penting untuk api dan bara yang tersisa benar-benar dapat dikendalikan.


Pemerintah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan, yaitu:


1. Kalimantan Barat

2. Kalimantan Tengah

3. Kalimantan Selatan

4. Riau

5. Sumatera Selatan

6. Jambi


Penetapan tersebut didasarkan pada tingginya risiko karhutla. Pemerintah juga memperkirakan periode Agustus–September 2026 menjadi fase dengan risiko karhutla yang tinggi.


BNPB menyebut operasi udara, termasuk dukungan water bombing, berjalan beriringan dengan penguatan operasi darat. Posko dan satuan tugas di daerah diperkuat untuk melakukan pemantauan, pengerahan personel, pengelolaan sumber daya, hingga pemadaman kebakaran.


Kabut Asap Jadi Ancaman bagi Masyarakat


Karhutla tidak hanya berdampak pada kawasan hutan dan lahan yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat menyebar ke kawasan organisasi dan menurunkan kualitas udara.


Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan, transportasi dan kegiatan ekonomi. Di Palangka Raya, misalnya, kabut asap sempat menyebabkan kualitas udara memburuk dengan indeks kualitas udara mencapai kategori berbahaya pada 19 Agustus 2026.


Masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, terutama bagi kelompok rentan.


Titik Panas Harus Menjadi Peringatan Dini


Peningkatan hotspot menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk mempercepat tindakan di lapangan.


Data 1.842 titik panas pada 21 Agustus tidak dapat dihitung sebagai 1.842 lokasi kebakaran yang seluruhnya telah terkonfirmasi. Tingkat kepercayaan hotspot, kondisi lapangan, jenis tutupan lahan, cuaca, serta hasil verifikasi menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu titik benar-benar berkaitan dengan kebakaran.


Oleh karena itu, pemantauan satelit harus diikuti dengan patroli, verifikasi lapangan dan respon cepat.


BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kejadian kebakaran kepada petugas maupun pemerintah daerah.


Ancaman Karhutla Belum Berakhir


Dengan El Niño yang masih kuat dan periode risiko karhutla yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus–September, ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan belum dapat dianggap selesai.


Meningkatnya titik api, kondisi lahan yang semakin kering, serta potensi penyebaran secepatnya membuat pencegahan menjadi sama pentingnya dengan pemadaman kebakaran.


Kalimantan kini menghadapi permasalahan yang tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi dan keselamatan warga.


Selama musim kemarau masih berlangsung, kecepatan mendeteksi, memverifikasi dan menangani titik api menjadi faktor penting untuk mencegah berkembangnya kebakaran menjadi bencana yang lebih luas. *(Red)


(Sumber: BNPB, BMKG)

BMKG Catat 235 Gempa Susulan Pascagempa M 7,7 di NTT, 38 Orang Meninggal

By On Agustus 15, 2026

Gempa M 7,7 di NTT yang diikuti 235 gempa susulan dan menewaskan 38 orang. (15/8/2026|Infografis: Rc)

Jakarta — JinNewsOne.com | Sabtu, 15 Agustus 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 235 aktivitas gempa bumi susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, berdasarkan pemantauan hingga pukul 14.00 WIB, gempa susulan memiliki magnitudo antara 2,5 hingga 6,8. Aktivitas tersebut terutama terjadi di bagian utara Pulau Flores.

“Terhitung jam 14.00 WIB, terdapat 235 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo 2,5 hingga 6,8 magnitudo. Utamanya berada di bagian utara dari Pulau Flores,” kata Faisal dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Faisal, aktivitas gempa susulan pada umumnya akan mengalami peluruhan secara bertahap. Proses tersebut dapat berlangsung selama sekitar dua hingga tiga pekan.

Namun, berdasarkan pemantauan BMKG, aktivitas gempa susulan pascagempa NTT hingga Sabtu siang belum menunjukkan pola peluruhan.

“Dari jam ke jam kita perhatikan, kita amati, hingga saat ini belum mengalami peluruhan,” ujar Faisal.

Ia menjelaskan, pola peluruhan aktivitas gempa susulan umumnya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak masih perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan.

38 Orang Meninggal Dunia

Sementara itu, BNPB mencatat 38 orang meninggal dunia akibat gempa M 7,7 yang mengguncang NTT.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, hingga pukul 15.00 WIB, terdapat dua orang mengalami luka berat dan 11 orang mengalami luka ringan.

“Korban jiwa sampai dengan pukul 15.00 sore ini, terdata ada 38 jiwa yang meninggal dunia,” kata Suharyanto dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Sabtu (15/8/2026).

Selain korban meninggal dan luka-luka, sekitar 2.000 orang mengungsi secara mandiri.

Data korban tersebut masih dapat berubah seiring proses pencarian, evakuasi, dan pendataan di sejumlah wilayah terdampak. Laporan terbaru juga menyebut proses pencarian masih berlangsung di lokasi yang mengalami kerusakan berat.

Pemerintah Kirim 50 Ribu Paket Sembako

Pemerintah menyiapkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak gempa.

Suharyanto mengatakan, Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Sekretariat Negara akan mengirimkan 50 ribu paket sembako ke wilayah terdampak dalam satu hingga dua hari ke depan.

“Dari Bapak Presiden lewat Kementerian Sekretariat Negara juga sudah akan mengirimkan di 1-2 hari ini 50.000 paket sembako,” kata Suharyanto.

Bantuan tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan logistik awal masyarakat yang terdampak bencana.

BNPB bersama Kementerian Sosial juga menyiapkan berbagai kebutuhan dasar lainnya, termasuk makanan, minuman, air bersih, tenda, tempat berlindung, genset, serta kebutuhan darurat lainnya.

“Logistik awal bagi masyarakat terdampak, logistik dasar, makan, minum, air bersih, tenda, tempat berlindung, genset, dan lain sebagainya,” ujar Suharyanto.

Logistik dari Wilayah Sekitar Digeser

Untuk mempercepat distribusi bantuan, pemerintah juga akan menggeser stok logistik dari kabupaten sekitar yang mengalami dampak ringan atau tidak terdampak gempa.

Salah satu sumber logistik berada di Flores Timur. BNPB dan Kementerian Sosial masih memiliki persediaan bantuan di gudang logistik daerah tersebut.

Persediaan itu sebelumnya disiapkan untuk penanganan dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.

“Ini pun untuk sementara kita akan geser ke daerah terdampak bencana gempa bumi ini,” kata Suharyanto.

Gempa M 7,7 tersebut berpusat di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Guncangan berdampak di sejumlah wilayah Flores dan dirasakan hingga wilayah lain di Indonesia bagian timur.

Hingga Sabtu sore, penanganan darurat, pencarian korban, pendataan kerusakan, serta distribusi bantuan masih terus dilakukan oleh pemerintah dan unsur terkait. *(Red)


(Sumber: BMKG)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *