Gubernur Khofifah Turun Langsung Droping Air Bersih untuk Warga Blitar Terdampak Kekeringan Ekstrem
On September 06, 2026
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Blitar Rijanto turun langsung dalam kegiatan dropping air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan ekstrem di Kabupaten Blitar, Sabtu (5/9/2026).
BLITAR, Jawa Timur | JNO — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung mendistribusikan bantuan air bersih atau dropping bagi masyarakat terdampak kekeringan ekstrem di wilayah Kabupaten Blitar.
Langkah tersebut menjadi bagian dari percepatan penanganan krisis air bersih yang melanda puluhan daerah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Blitar, akibat musim kemarau panjang.
Gubernur Khofifah mengungkapkan, hingga saat ini telah tercatat sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur yang resmi menerbitkan Surat Keputusan (SK) Tanggap Darurat Bencana Kekeringan.
“Hari ini yang kita lakukan adalah bagian dari upaya penguatan dan substitusi suplai air bersih untuk menyokong langkah yang sudah dilakukan Pak Bupati Blitar dan kepala daerah lainnya. Kekeringan ekstrem dan panjang ini berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar air bersih masyarakat,” ujar Khofifah saat meninjau lokasi dropping air bersih di Blitar, Sabtu (5/9/2026).
Khofifah menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperluas jangkauan distribusi air bersih ke sejumlah titik krisis. Selain penanganan darurat melalui jalur darat, Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah teknis dan mengajak masyarakat melakukan ikhtiar spiritual untuk menghadapi kondisi kekeringan berkepanjangan.
Secara spiritual, Khofifah mengimbau masyarakat bersama pemerintah daerah untuk menggelar Salat Istisqa secara berjamaah. Sementara dari sisi teknis dan ilmiah, Pemprov Jatim telah melakukan koordinasi untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Jika pada musim hujan OMC dilakukan untuk memecah atau mengarahkan awan ke laut, kali ini sebaliknya. Berdasarkan deteksi meteorologi, ada potensi pergerakan awan potensial. Begitu awan terdeteksi masuk wilayah daratan Jatim, kita siapkan OMC agar awan tersebut bisa optimal diturunkan menjadi hujan,” terangnya.
Selain menangani krisis air bersih, Pemprov Jawa Timur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga bekerja ekstra keras menghadapi meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur akibat dampak kemarau ekstrem.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, yang mendampingi Gubernur Khofifah, menyampaikan bahwa operasi pemadaman udara atau water bombing terus dimaksimalkan di sejumlah titik rawan.
Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Gunung Butak, Gunung Semeru, Gunung Arjuno, hingga Gunung Ijen.
“Untuk hari ini fokus water bombing kita alihkan ke Gunung Butak karena cuaca dan angin kencang di Semeru cukup berisiko bagi penerbangan heli. Di Semeru sendiri luasan lahan terbakar sudah mencapai sekitar 1.888 hektare,” ungkap Gatot.
Gatot menambahkan, helikopter water bombing bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga disiagakan untuk merespons permintaan pemadaman di kawasan Gunung Ijen.
Permintaan tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan dari Bupati Banyuwangi, Bupati Bondowoso, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).
Meski demikian, faktor keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan operasi pemadaman dari udara.
“Tantangan utama pemadaman udara adalah angin kencang, jarak pandang pilot yang terbatas akibat kabut awan, serta topografi tebing pegunungan yang sangat curam. Karena itu, pemadaman udara ini terus kita kombinasikan dengan tim pemadaman darat yang melibatkan unsur gabungan TNI, Polri, OPD teknis, dan relawan,” pungkas Gatot.
Penanganan kekeringan ekstrem dan Karhutla tersebut menjadi tantangan besar bagi Jawa Timur di tengah musim kemarau panjang. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota, BPBD, TNI, Polri, serta berbagai unsur relawan terus melakukan langkah terpadu untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan dampak bencana di berbagai wilayah.
JNO | Redaksi
