Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
21 Agustus 2026 | 00:00:00

Gen Z di Persimpangan 2045: Jangan Sampai Bonus Demografi Hanya Jadi Slogan


Blitar, Jawa Timur | JNO — Indonesia tengah menyiapkan diri menuju 2045, tetapi pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar berapa banyak generasi muda yang akan mengisi bonus demografi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa siap mereka menghadapi perubahan teknologi, dunia kerja, demokrasi digital, dan persaingan yang semakin ketat?


Persoalan itulah yang mengemuka dalam agenda sosialisasi dewan (sowan) yang menghadirkan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur F-PDI Perjuangan, Guntur Wahono bersama Anggota DPRD Kabupaten Blitar Aryo Nugroho, S.H., serta Muhammad Yahya, Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur, dan Rangga Bisma Aditya, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Blitar pada Minggu, 27 September 2026 di Feeling Cafe, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar


Kegiatan yang turut dihadiri puluhan undangan dari kalangan Generasi Z (Gen Z).


Forum tidak hanya membahas masa depan anak muda, tetapi juga menyoroti sejumlah persoalan yang berada di depan mata: rendahnya keterlibatan generasi muda dalam politik, hasil riset mahasiswa yang belum banyak ditindaklanjuti, tantangan kecerdasan buatan atau AI, literasi digital, kesehatan mental, akses pendidikan dan pekerjaan, hingga kebutuhan menciptakan ruang kolaborasi bagi anak muda.


Bonus Demografi: Peluang atau Sekadar Istilah?


Aryo Nugroho, S.H., mendorong generasi muda agar tidak mengambil posisi sebagai penonton dalam perjalanan pemerintahan dan pembangunan.


Menurutnya, anak muda perlu memiliki sikap kritis terhadap jalannya pemerintahan, sekaligus mampu mengubah kritik menjadi masukan maupun aksi nyata.


Era digital, kata Aryo, membuka ruang yang luas bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan. Namun, ruang tersebut juga membutuhkan kemampuan memilah informasi dan keberanian mengambil peran secara konstruktif.


Ia menilai pemerintah perlu menyediakan wadah yang relevan dengan kebutuhan generasi muda, termasuk pelatihan ekonomi kreatif dan pengembangan kemampuan digital.


Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah cara pandang sebagian Gen Z terhadap politik.


Aryo mendorong agar anak muda tidak melihat politik semata sebagai sesuatu yang negatif, melainkan sebagai salah satu ruang untuk menyampaikan aspirasi dan ikut menentukan arah kebijakan.


Guntur Wahono Soroti Riset yang Berhenti di Perpustakaan


Ia mempertanyakan kondisi ketika hasil penelitian mahasiswa dan akademisi telah menghasilkan berbagai temuan, tetapi sebagian belum berlanjut menjadi kebijakan atau solusi yang dapat dirasakan masyarakat.


Menurut Guntur, pemerintah memiliki kewenangan dalam kebijakan dan anggaran sehingga keberadaan pemerintah dibutuhkan untuk menindaklanjuti hasil riset yang relevan.


Persoalan tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan agenda besar menuju 2045.


Generasi muda, menurutnya, harus dipersiapkan sejak sekarang. Pendidikan tidak semestinya hanya dipandang sebagai proses memperoleh ijazah, tetapi sebagai instrumen untuk membangun kemampuan generasi yang akan menghadapi persaingan masa depan.


Guntur juga menekankan perlunya perhatian khusus terhadap anggaran pendidikan agar benar-benar diarahkan bagi penyiapan generasi emas.


2029 dan Tantangan Keterlibatan Politik Anak Muda


Dalam forum itu, isu politik generasi muda juga mendapat perhatian.


Guntur menyampaikan bahwa menjelang 2029, generasi muda akan menjadi bagian penting dari komposisi pemilih. Karena itu, ia menilai diperlukan upaya untuk membangun pemahaman politik yang lebih konstruktif agar anak muda tidak bersikap apatis.


Politik, dalam pandangan yang disampaikan Guntur, dapat menjadi sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat, mengangkat harkat dan martabat manusia, serta mencerdaskan kehidupan bangsa.


Namun, keterlibatan politik juga menuntut pengetahuan dan wawasan. Bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan apabila kualitas sumber daya manusianya tidak dipersiapkan menghadapi persaingan.


Gen Z Menghadapi AI: Menguasai atau Justru Dikendalikan?


Muhammad Yahya, Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur, membawa persoalan tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian Gen Z: teknologi dan kecerdasan buatan.


Ia menilai banyak generasi muda telah akrab dengan AI, tetapi kedekatan dengan teknologi tidak selalu berarti penguasaan terhadap teknologi.


Tantangannya adalah bagaimana Gen Z tetap menjadi pihak yang menggunakan teknologi secara sadar, bukan justru membiarkan teknologi membentuk pola pikir dan perilakunya.


Literasi digital karena itu menjadi kebutuhan penting.


Yahya juga menyoroti persoalan lain yang berkembang bersamaan dengan masifnya penggunaan media sosial. Perbandingan kehidupan melalui berbagai konten digital dapat memengaruhi cara anak muda melihat dirinya sendiri dan standar keberhasilan dalam kehidupan.


Karena itu, Gen Z didorong mengenali potensi diri, membangun keterampilan sesuai kapasitas, serta memperkuat kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi.


Demokrasi Bergeser ke Ruang Digital


Sementara itu, Rangga Bisma Aditya, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Blitar, mengangkat tantangan demokrasi dalam ruang digital.


Ia menawarkan transformasi gagasan Bung Karno, "To Build the World a New", menjadi semangat "To Build the Democracy a New" dalam menghadapi perubahan zaman.


Demokrasi digital, menurutnya, tidak cukup hanya memberikan ruang kebebasan berekspresi. Kebebasan tersebut harus berjalan bersama tanggung jawab.


Semangat persatuan, optimisme, keberanian menyampaikan pendapat, serta karakter kebangsaan dinilai tetap diperlukan ketika ruang demokrasi semakin banyak berlangsung melalui platform digital.


Rangga juga menyoroti persoalan pendidikan dan pekerjaan yang dihadapi anak muda. Menurutnya, diperlukan ruang kolaborasi agar Gen Z dari berbagai latar belakang dapat bergotong royong mencari jawaban atas tantangan tersebut.


22 Kecamatan dan Gagasan "Red Line"


Dorongan kolaborasi anak muda juga diarahkan untuk menjangkau generasi muda di 22 kecamatan di Kabupaten Blitar.


Dalam forum tersebut turut dibahas "Red Line", wadah perkumpulan anak muda berhaluan nasionalis di Blitar yang diarahkan sebagai ruang untuk mengembangkan ilmu, wawasan, kepemimpinan, serta gagasan progresif.


Guntur Wahono menyebut gagasan tersebut sebagai awal pencanangan yang diharapkan dapat berkembang pada tingkat nasional.


Namun, tantangan terbesar tetap berada pada bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kegiatan dan program yang benar-benar menjawab kebutuhan anak muda.


Sebab, menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya persoalan menunggu datangnya tahun 2045.


Ada satu generasi yang sedang dipersiapkan untuk mengisinya.


Gen Z akan berhadapan dengan dunia yang berbeda: teknologi berkembang cepat, AI mengubah cara bekerja, ruang demokrasi bergeser ke digital, sementara persaingan pendidikan dan pekerjaan semakin terbuka.


Karena itu, forum tersebut menempatkan satu pesan penting sebagai titik tekan: generasi muda tidak cukup hanya dipersiapkan untuk menjadi penonton masa depan. Mereka harus memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, keberanian menyampaikan aspirasi, sekaligus kemampuan bertanggung jawab atas pilihan dan gagasannya.


Dan pada akhirnya, keberhasilan bonus demografi tidak hanya ditentukan oleh jumlah anak muda yang dimiliki Indonesia, tetapi juga oleh seberapa serius negara, masyarakat, dunia pendidikan, dan generasi mudanya sendiri mempersiapkan kualitas manusia yang akan membawa Indonesia menuju 2045. *(Red)

Share X
Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *