Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Bazar UMKM Pandawa IV Sukosewu dan Ujian “Bazar Berdaulat”: Menuju UMKM Naik Kelas

By On September 14, 2026


Bazar UMKM Pandawa IV manfaatkan jalan Pandawa sepanjang 500 meter 

BLITAR, JAWA TIMUR | JNO — Bazar Pandawa IV di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, telah berakhir pada Minggu malam (13/9/2026). Ribuan warga datang, puluhan stan UMKM memenuhi Jalan Pandawa, 16 lembaga pendidikan ikut tampil, dan panggung ditutup dengan campursari Suko Budoyo.


Mengusung tema “Indonesia Adil dan Makmur, Bazar Berdaulat” dengan slogan “Bazar Pandowo... Gak Mampir Rugi!”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang promosi dan pengembangan UMKM sekaligus wadah bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas.


Penutupan Bazar Pandawa IV pada Minggu malam (13/9/2026) dihadiri Bupati Blitar Drs. Rijanto, M.M., Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar yang sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Guntur Wahono, S.E, jajaran Forkopimcam, tokoh masyarakat, Pemerintah Desa Sukosewu, Karang Taruna, pelaku UMKM, serta masyarakat dari berbagai lapisan.


Bazar tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.


Bazar Pandawa IV diikuti peserta dari 16 lembaga pendidikan di Desa Sukosewu. Puluhan stan UMKM dan stan pendidikan memenuhi kawasan bazar sepanjang sekitar 500 meter di Jalan Pandawa. Para peserta memamerkan berbagai produk, kreativitas warga, serta karya peserta didik.


Bupati: Gotong Royong Sukosewu Harus Dipertahankan


Dalam sambutannya, Bupati Blitar Rijanto memberikan apresiasi terhadap semangat gotong royong masyarakat Desa Sukosewu yang dinilainya tetap terjaga.


Ia mengingat kembali keberhasilan Desa Sukosewu meraih penghargaan tingkat Provinsi Jawa Timur dalam kegiatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat, yang menurutnya menjadi salah satu bukti kuat semangat kebersamaan masyarakat desa.


“Dan kenyataannya, suasana gotong royong Desa Sukosewu itu sampai sekarang tetap luar biasa, tetap baik semangatnya,” ujar Rijanto.


Menurutnya, semangat tersebut juga terlihat dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.


Rijanto bahkan menyinggung karakter masyarakat Sukosewu yang mampu tetap meriah tanpa harus mengandalkan hiburan dengan sound horeg.


“Kalau desa lain ada sound horeg, Sukosewu enggak ada sound horeg pun enggak masalah, tetap semangat, tetap luar biasa,” katanya.


Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir.


Rijanto juga menyampaikan bahwa Bazar Pandawa akan terus didorong menjadi kegiatan tahunan. Ia berharap agenda tersebut tetap berjalan meskipun nantinya terjadi pergantian kepemimpinan di tingkat desa.


“Ini nanti akan diadakan setiap tahun. Sampai enggak tahu Pak Mardi Basuki nanti selesai jadi kepala desa pun harus tetap ada,” ujarnya.


UMKM Sepanjang Jalan, Bahkan Stan Disebut Masih Kurang


Menurut Rijanto, salah satu manfaat penting Bazar Pandawa adalah memberikan ruang kepada pelaku UMKM di berbagai wilayah Desa Sukosewu untuk memasarkan produknya.


Ia menyebut keterlibatan UMKM bahkan terlihat hampir di sepanjang Jalan Pandawa.


“UMKM-nya sepanjang jalan ini nampaknya per RT tampil,” kata Rijanto.


Bupati juga menyebut jumlah pelaku UMKM yang ingin berpartisipasi cukup besar. Berdasarkan laporan yang diterimanya, sejumlah pelaku usaha bahkan belum mendapatkan tempat stan.


“Masih kekurangan tempat stan-stannya, masih banyak yang belum kebagian,” ujarnya.


Karena itu, Rijanto meminta kualitas produk UMKM Sukosewu terus ditingkatkan, terutama dari sisi rasa, kemasan, dan packing (pengemasan).


Ia berharap produk-produk lokal tersebut tidak berhenti dikenal di tingkat Kabupaten Blitar, tetapi mampu berkembang hingga pasar nasional.


“Kualitasnya, termasuk kalau enggak salah ini ada batik yang ada dari Sukosewu ini paling bagus. Batik ciri khasnya Kabupaten Blitar, batik Cakra ini dibuat dari Sukosewu juga ada,” ungkapnya.


Menurut Rijanto, keberadaan bazar semacam ini secara langsung ikut mendorong pergerakan ekonomi masyarakat.


“Dengan adanya bazar ini pergerakan ekonomi masyarakat akan semakin baik,” tegasnya.


Panggung Kreativitas Pelajar


Selain UMKM, Bazar Pandawa IV juga memberikan ruang bagi pelajar untuk tampil di hadapan masyarakat.


Pada 11–12 September, panggung utama diisi pentas seni pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, RA, SD, MI hingga MTsN di wilayah Desa Sukosewu.


Beragam tari tradisional dan penampilan religi ditampilkan dalam rangkaian acara tersebut.


Rijanto menilai keterlibatan pelajar memiliki manfaat penting, terutama dalam membangun kepercayaan diri sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat.


“Ini juga memberikan ruang untuk kesempatan anak-anak kita ini tampil, untuk melatih percaya diri dan menyalurkan bakat. Ini sangat bagus sekali,” katanya.


Ia pun menyampaikan apresiasi kepada panitia, Pemerintah Desa Sukosewu, serta seluruh masyarakat yang telah bekerja sama menyukseskan kegiatan tersebut.


Bupati: Bazar Pandawa Harus Terus Digelar


Dalam wawancara seusai acara, Rijanto kembali menegaskan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Bazar Pandawa IV.


“Ya, sangat baik sekali. Ini Bazar Pandawa 4 yang diselenggarakan oleh Desa Sukosewu. Tentunya ini bentuk gotong royong,” ujarnya.


Menurutnya, mempertahankan semangat gotong royong di tengah perkembangan zaman bukan sesuatu yang mudah. Namun, Desa Sukosewu dinilai mampu mempertahankan tradisi tersebut melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.


“Ini mengangkat UMKM, terus kemudian juga memberikan wadah anak-anak sekolah untuk tampil, ini bagus sekali,” katanya.


Rijanto berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun.


“Harapan kami kegiatan semacam ini terus diadakan tiap tahun,” tegasnya.


Guntur Wahono: Pengembangan UMKM Harus Mendapat Dukungan 



Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Guntur Wahono, S.E., yang turut hadir dalam penutupan, juga memberikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat.

Ia menilai Bazar Pandawa IV menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam mengembangkan UMKM.


“Sangat luar biasa. Antusias masyarakat untuk menjajakan UMKM-nya sangat bagus sekali,” kata Guntur.


Menurutnya, konsistensi kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu indikator bergeraknya ekonomi masyarakat desa.


“Kalau ini jalan terus, berarti kesejahteraan masyarakat luar biasa meningkat. Ini yang kita harapkan,” ujarnya.


Sebagai wakil rakyat, Guntur mengatakan pihaknya berkepentingan untuk melihat secara langsung aktivitas ekonomi masyarakat. Jika dalam pengembangan UMKM terdapat kebutuhan fasilitasi melalui APBD Provinsi Jawa Timur, ia menyatakan siap membantu mengkomunikasikannya.


“Manakala nanti di dalam pengembangan UMKM kira-kira perlu sesuatu yang perlu difasilitasi melalui APBD Provinsi Jawa Timur, maka kami akan fasilitasi,” katanya.


Ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi secara langsung agar kebutuhan masyarakat dapat diketahui secara nyata.


“Pentingnya kita sering melakukan komunikasi, koordinasi, dan melihat secara nyata apa yang dilakukan masyarakat, terutama dalam rangka pengembangan ekonomi yang berbasis kerakyatan,” ujar Guntur.


Posko Relawan PDIP Buka Layanan Sosial Gratis


Selain memberikan dukungan terhadap pengembangan UMKM, Posko Relawan PDIP turut membuka layanan sosial selama pelaksanaan Bazar Pandawa IV.


Layanan tersebut meliputi pijat gratis, potong rambut, serta cek kesehatan gratis bagi masyarakat yang hadir.


Menurut Guntur, layanan tersebut merupakan ben tuk perhatian organisasi politik terhadap kebutuhan dasar masyarakat.


“Kami dari PDI Perjuangan DPR Kabupaten Blitar itu membuka posko pengobatan gratis. Ada pijat gratis, pengobatan gratis, tes kesehatan gratis, yang ini dibiayai oleh partai,” ungkapnya.


Guntur menegaskan bahwa organisasi politik tidak seharusnya hanya hadir ketika membutuhkan dukungan masyarakat.


“Inilah kewajiban organisasi politik, tidak hanya mikir cari dukungan pada saat mau maju atau mencalonkan, tetapi pada saat masyarakat berkebutuhan menginginkan sesuatu, ini harus kita pegang,” katanya.


Ia menyebut kesehatan dan pendidikan sebagai bagian dari kebutuhan mendasar masyarakat yang perlu mendapat perhatian.


“Terutama hal-hal yang sifatnya mendasar. Apa itu? Ya kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya,” ujar Guntur.


Ditutup Campursari Suko Budoyo


Setelah dua hari diisi pentas seni pelajar, puncak Bazar Pandawa IV pada Minggu malam ditutup dengan pagelaran seni tradisional campursari oleh grup lokal Suko Budoyo.


Penampilan tersebut menghibur ratusan warga yang memadati kawasan festival hingga penghujung acara.


Kepala Desa Sukosewu sebelumnya menyampaikan apresiasi terhadap seluruh masyarakat dan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Bazar Pandawa IV.


Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata-mata hiburan rakyat, melainkan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui UMKM dan semangat gotong royong.


Ke depan, Pemerintah Desa Sukosewu berkomitmen mempertahankan Bazar Pandawa sebagai agenda tahunan sekaligus terus melakukan inovasi agar manfaatnya semakin luas.


Rijanto maupun Guntur Wahono sama-sama berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang dan menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, UMKM, pendidikan, seni budaya, serta berbagai unsur pembangunan desa.


Bagi Sukosewu, Bazar Pandawa IV bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan tahunan. Festival tersebut menjadi gambaran bagaimana gotong royong, ekonomi kerakyatan, kreativitas generasi muda, dan potensi lokal dapat dipertemukan dalam satu ruang di tengah masyarakat desa.

Merdeka!

*(Red)

Gubernur Khofifah Turun Langsung Droping Air Bersih untuk Warga Blitar Terdampak Kekeringan Ekstrem

By On September 06, 2026



Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Blitar Rijanto turun langsung dalam kegiatan dropping air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan ekstrem di Kabupaten Blitar, Sabtu (5/9/2026).

BLITAR, Jawa Timur | JNO — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung mendistribusikan bantuan air bersih atau dropping bagi masyarakat terdampak kekeringan ekstrem di wilayah Kabupaten Blitar.


Langkah tersebut menjadi bagian dari percepatan penanganan krisis air bersih yang melanda puluhan daerah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Blitar, akibat musim kemarau panjang.


Gubernur Khofifah mengungkapkan, hingga saat ini telah tercatat sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur yang resmi menerbitkan Surat Keputusan (SK) Tanggap Darurat Bencana Kekeringan.


“Hari ini yang kita lakukan adalah bagian dari upaya penguatan dan substitusi suplai air bersih untuk menyokong langkah yang sudah dilakukan Pak Bupati Blitar dan kepala daerah lainnya. Kekeringan ekstrem dan panjang ini berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar air bersih masyarakat,” ujar Khofifah saat meninjau lokasi dropping air bersih di Blitar, Sabtu (5/9/2026).


Khofifah menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperluas jangkauan distribusi air bersih ke sejumlah titik krisis. Selain penanganan darurat melalui jalur darat, Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah teknis dan mengajak masyarakat melakukan ikhtiar spiritual untuk menghadapi kondisi kekeringan berkepanjangan.


Secara spiritual, Khofifah mengimbau masyarakat bersama pemerintah daerah untuk menggelar Salat Istisqa secara berjamaah. Sementara dari sisi teknis dan ilmiah, Pemprov Jatim telah melakukan koordinasi untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).


“Jika pada musim hujan OMC dilakukan untuk memecah atau mengarahkan awan ke laut, kali ini sebaliknya. Berdasarkan deteksi meteorologi, ada potensi pergerakan awan potensial. Begitu awan terdeteksi masuk wilayah daratan Jatim, kita siapkan OMC agar awan tersebut bisa optimal diturunkan menjadi hujan,” terangnya.


Selain menangani krisis air bersih, Pemprov Jawa Timur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga bekerja ekstra keras menghadapi meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur akibat dampak kemarau ekstrem.


Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, yang mendampingi Gubernur Khofifah, menyampaikan bahwa operasi pemadaman udara atau water bombing terus dimaksimalkan di sejumlah titik rawan.


Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Gunung Butak, Gunung Semeru, Gunung Arjuno, hingga Gunung Ijen.


“Untuk hari ini fokus water bombing kita alihkan ke Gunung Butak karena cuaca dan angin kencang di Semeru cukup berisiko bagi penerbangan heli. Di Semeru sendiri luasan lahan terbakar sudah mencapai sekitar 1.888 hektare,” ungkap Gatot.


Gatot menambahkan, helikopter water bombing bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga disiagakan untuk merespons permintaan pemadaman di kawasan Gunung Ijen.


Permintaan tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan dari Bupati Banyuwangi, Bupati Bondowoso, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).


Meski demikian, faktor keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan operasi pemadaman dari udara.


“Tantangan utama pemadaman udara adalah angin kencang, jarak pandang pilot yang terbatas akibat kabut awan, serta topografi tebing pegunungan yang sangat curam. Karena itu, pemadaman udara ini terus kita kombinasikan dengan tim pemadaman darat yang melibatkan unsur gabungan TNI, Polri, OPD teknis, dan relawan,” pungkas Gatot.


Penanganan kekeringan ekstrem dan Karhutla tersebut menjadi tantangan besar bagi Jawa Timur di tengah musim kemarau panjang. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota, BPBD, TNI, Polri, serta berbagai unsur relawan terus melakukan langkah terpadu untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan dampak bencana di berbagai wilayah.


JNO | Redaksi

Kendalikan Inflasi, Pemkab Blitar Gelar Operasi Pasar Murah di Kecamatan Wlingi

By On September 02, 2026


Operasi Pasar Disperindag
Gelaran Operasi Pasar Murah Disperindag Kabupaten Blitar di Halaman Kantor Kecamatan Wlingi, Rabu (2/9/2026).

Blitar, Jawa Timur | JNO — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menggelar kegiatan Operasi Pasar Murah yang dipusatkan di Halaman Kantor Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni Rabu hingga Kamis, 2–3 September 2026 tersebut digelar mulai pukul 08.30 WIB guna menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah tren fluktuasi harga komoditas.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Darmadi, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa operasi pasar ini diselenggarakan sebagai langkah proaktif pemerintah daerah dalam mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergiliran di berbagai kawasan, di mana sebelum menyasar Kecamatan Wlingi, program serupa telah digelar di Kecamatan Srengat.

"Hari ini dari Disperindag Kabupaten Blitar mengadakan kegiatan Operasi Pasar Murah dalam rangka pengendalian inflasi dan stabilisasi harga barang-barang kebutuhan pokok," ujar Darmadi.

Bermitra langsung dengan Perum Bulog dan berbagai penyedia bahan pangan, Disperindag menyalurkan komoditas pangan utama yang dijual sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET):

Beras SPHP (Bulog): Disiapkan sebanyak 2 ton dengan harga Rp58.000 per kemasan 5 kg.

Minyak goreng dalam kemasan: Disiapkan sebanyak 20 karton dengan harga Rp15.700 per liter.

Gula Pasir: Disediakan dengan harga Rp16.000 per kg.

Produk UMKM Lokal: Berbagai produk olahan dari pelaku UMKM di wilayah Kecamatan Wlingi.

Darmadi menjelaskan bahwa pembatasan kuota pembelian diterapkan agar distribusi barang merata ke seluruh masyarakat yang membutuhkan. Pembelian beras dibatasi maksimal 2 pak (10 kg) per warga, sementara Minyak goreng dalam kemasan dibatasi 1 bungkus per pembeli.

Menyinggung kondisi pasar terkini, Darmadi mengungkapkan bahwa kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok pada bulan September merupakan hal yang relatif lumrah terjadi akibat pasokan yang terbatas di tengah tingginya permintaan. Namun, pihak Disperindag memastikan ketersediaan barang di pasaran tetap aman dan rantai distribusi berjalan lancar.

"Secara umum kenaikannya masih terkendali. Kami memastikan semua komoditas sembako seperti beras, minyak, dan gula tersedia di pasar sehingga masyarakat bisa langsung membeli saat membutuhkan. Operasi pasar ini menjadi salah satu bagian dari upaya stabilisasi harga tersebut," jelasnya.

Antusiasme masyarakat menyambut gelaran ini terlihat dari kehadiran para warga setempat. Susi Jayanti, 38 tahun, salah seorang pembeli dari Kampung Baru, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding harga pasaran.

"Harganya lumayan miring. Saya beli minyak sama gula, kalau beras tidak beli karena di rumah masih ada stok," ungkap Susi.

Operasi pasar murah ini terbuka untuk seluruh masyarakat umum dan diharapkan dapat terus menjaga stabilitas pasokan serta harga komoditas pangan di wilayah Kabupaten Blitar. *Red/

Mahasiswa UNISBA Blitar Kembangkan Sayuran Organik, Panen Mulai 25 Hari dan Dipasarkan Lewat Pre-Order

By On September 01, 2026



Mahasiswa UNISBA Blitar merawat bayam, selada, pakcoy, caisim dan kangkung organik di greenhouse kampus.

Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar merawat tanaman sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Blitar, Jawa Timur | JNO – Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar terus mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan melalui produksi berbagai jenis sayuran organik di kawasan greenhouse kampus.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran dan kewirausahaan mahasiswa, khususnya melalui pengelolaan produksi pertanian yang mengedepankan metode budidaya tanpa penggunaan pestisida sintetis.

Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Salva Maynina, mengatakan sejumlah komoditas yang saat ini dibudidayakan di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 antara lain bayam, selada, pakcoy, caisim, serta kangkung.

“Untuk bulan ini, di Greenhouse 1 dan Greenhouse 2 ada bayam, selada, pakcoy, caisim, dan juga kangkung. Semua kita tanam menggunakan metode organik, jadi tanpa pestisida, hanya menggunakan POC,” ujar Salva.

Menurutnya, tanaman sayuran tersebut memiliki masa produksi yang relatif singkat. Dalam kondisi pertumbuhan yang baik, sebagian tanaman sudah dapat mulai dipanen pada usia sekitar 24 hingga 25 hari.

“Kurang lebih 25 sampai 30 hari. Biasanya 24 atau 25 hari sudah mulai kita panen, kemudian kita jual. Paling lambat sekitar 30 hari,” jelasnya.

Tiga Greenhouse dengan Komoditas Berbeda

Lokasi budidaya berada di area selatan Kampus Universitas Islam Balitar. Mahasiswa mengelola sedikitnya tiga greenhouse dengan komoditas yang berbeda.

Dua greenhouse digunakan untuk produksi sayuran organik, sementara Greenhouse 3 dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah dan kacang tanah.

Produksi sayuran tersebut menyasar konsumen yang memiliki perhatian terhadap pola makan sehat dan ingin mengurangi konsumsi produk pertanian yang menggunakan pestisida.

“Biasanya pembeli kami adalah orang-orang yang menyukai sayuran organik dan menghindari pestisida. Ada guru, dosen, dan juga ibu-ibu yang memang memilih sayuran yang menurut mereka lebih sehat,” kata Salva.

Harga Mulai Rp5.000 per Kemasan



Untuk pemasaran, produk sayuran organik dijual dengan harga rata-rata Rp5.000 per kemasan. Setiap kemasan memiliki berat sekitar 200 hingga 250 gram, tergantung jenis dan hasil panen.

Pemesanan dilakukan menggunakan sistem pre-order (PO) menjelang masa panen. Informasi pembukaan pemesanan disebarkan melalui pamflet digital, terutama melalui WhatsApp Story dan media sosial Instagram.

Produk tersebut diperkenalkan melalui akun Instagram @thegrowpreneur.hub, yang menjadi salah satu media promosi kegiatan produksi sayuran mahasiswa.

Sejauh ini, pemasaran masih berfokus di wilayah Blitar, terutama kawasan Kota Blitar. Distribusi ke luar kota belum menjadi prioritas karena karakter sayuran segar yang mudah mengalami penurunan kualitas apabila membutuhkan waktu pengiriman terlalu lama.

“Kalau untuk luar kota masih belum, karena produk pertanian ini mudah busuk. Jadi untuk sementara kami menghindari pengiriman yang terlalu jauh,” ungkapnya.

Sayuran Organik Dinilai Memiliki Karakter Rasa Berbeda

Selain mengedepankan metode budidaya tanpa pestisida, mahasiswa juga menilai sayuran organik memiliki karakter tekstur dan rasa yang berbeda.

Salfa mencontohkan tanaman kangkung yang dibudidayakan secara organik memiliki batang lebih lunak sehingga bagian tanaman dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal saat dikonsumsi.

“Dari testimoni yang kami terima, rasanya juga berbeda. Contohnya kangkung, kalau organik batangnya sampai bagian bawah lebih lunak dan ketika dimasak juga lebih enak,” tuturnya.

Mahasiswa pun mengajak masyarakat, khususnya warga di sekitar kampus dan wilayah Blitar, untuk mengenal pilihan produk pertanian yang dibudidayakan dengan metode lebih ramah lingkungan.

Produk hasil panen dikemas dengan baik sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Limbah Panen Diolah Menjadi Kompos

Tidak hanya berfokus pada produksi dan pemasaran, mahasiswa juga menerapkan pengelolaan sisa hasil pertanian.

Sisa-sisa tanaman dari proses panen dikumpulkan dan ditempatkan di area pengomposan yang berada di sekitar greenhouse.

Material organik tersebut kemudian dibiarkan mengalami proses dekomposisi hingga menjadi kompos yang dapat menyatu dengan tanah dan dimanfaatkan kembali.

“Biasanya ada sisa-sisa dari panen. Itu kita jadikan satu di tempat kompos di sebelah greenhouse. Lama-kelamaan akan menjadi kompos dan berbaur dengan tanah,” jelas Salva.

Kegiatan produksi tersebut mendapat pendampingan akademik, salah satunya oleh Army Dita Serdani, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Balitar.

Pengembangan greenhouse sekaligus menjadi ruang praktik bagi mahasiswa untuk mempelajari proses pertanian secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengelolaan produk, pemasaran, hingga pengolahan limbah organik.

Langkah tersebut sejalan dengan pengembangan pendidikan pertanian berbasis praktik dan jiwa kewirausahaan yang menjadi bagian dari pembelajaran di lingkungan Fakultas Pertanian dan Peternakan UNISBA Blitar. *Red/


Kebersihan Lingkungan MTsN 4 Blitar Disorot Warga, Keluhan Disebut Belum Mendapat Tindak Lanjut

By On Agustus 28, 2026



Lingkungan MTsN 4 Blitar disorot warga karena ketidakpedulian kebersihannya. 28/08/2026.

Blitar, Jawa Timur | JNO — Persoalan kebersihan lingkungan di sekitar MTsN 4 Blitar kembali menjadi perhatian warga. Kondisi sejumlah area di sisi luar sekolah yang berbatasan langsung dengan lingkungan organisasi warga dinilai memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih serius dari pihak sekolah.

Berdasarkan dokumentasi yang diterima JinNewsOne (JNO), terlihat sejumlah titik di sekitar bagian luar lingkungan sekolah masih dipenuhi sampah, terutama daun kering, rumput liar, serta berbagai material dan sampah yang berserakan. Pada salah satu bagian terlihat pula saluran atau area sempit di antara bangunan dan dinding sekolah yang terdapat sampah plastik serta material lainnya.

Warga menyampaikan bahwa persoalan tersebut bukan hal baru yang pertama kali dikeluhkan. Pada tanggal 7 Agustus 2026, warga disebut telah menyampaikan keluhan dan laporan mengenai kondisi kebersihan lingkungan kepada pihak MTsN 4 Blitar. Namun, menurut keterangan warga, hingga berita ini diterbitkan belum terlihat adanya tindakan penanganan yang signifikan terhadap area yang dikeluhkan.

Warga juga menyebut telah berupaya melakukan komunikasi dengan pihak sekolah, termasuk berdiskusi dengan Kepala MTsN 4 Blitar, Tati Farida, S.Pd., M.Si. Namun, saat warga datang, kepala sekolah disebut sedang tidak berada di tempatnya.

Warga Pernah Berswadaya Membersihkan

Kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan sebenarnya telah dilakukan melalui tindakan nyata. Sebelumnya, warga sekitar secara swadaya turut membersihkan bagian lingkungan di sisi utara dinding luar sekolah.

Namun, upaya tersebut dinilai semakin berat karena banyaknya daun kering yang terus berjatuhan dari pohon besar yang berada di lingkungan sekolah. Volume daun yang terus bertambah membuat warga menginginkan apabila harus melakukan pembersihan secara mandiri.

Kondisi ini kemudian memunculkan harapan agar terdapat pembagian tanggung jawab yang jelas antara pihak sekolah dan masyarakat sekitar, mengingat area tersebut berada tepat di sisi lingkungan sekolah sekaligus berdampingan dengan rumah warga.

Sekolah Bukan Hanya Tempat Belajar

Kebersihan pribadi mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi warga, hal tersebut memiliki dimensi yang lebih luas karena lingkungan sekolah merupakan bagian dari ruang pendidikan.

MTsN 4 Blitar sebagai lembaga pendidikan tidak hanya memiliki fungsi memberikan fungsi akademik, tetapi juga menjadi salah satu pembelajaran tempat pembentukan karakter peserta didik. Nilai-nilai kebersihan, kedisiplinan, kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan aslinya dapat tercermin dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Oleh karena itu, warga menilai sangat buruk jika persoalan kebersihan di bagian luar lingkungan sekolah terjadi dengan organisasi yang justru berlarut-larut tanpa penyelesaian yang terlihat.

Semangat membangun generasi muda yang ber-Akhlakul Karimah tentu tidak berhenti pada pembelajaran di kelas. Kepedulian terhadap kebersihan, lingkungan dan kenyamanan masyarakat sekitar juga merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.

Kontrol Sosial, Bukan Sekadar Kritik

JNO memandang persoalan ini sebagai bagian dari kontrol sosial dan kritik yang membangun, bukan untuk menyudutkan pihak sekolah. Keluhan masyarakat patut menjadi ruang evaluasi agar persoalan sederhana tidak berkembang menjadi persoalan hubungan antara lembaga pendidikan dengan lingkungan sekitarnya.

Di sisi lain, pihak MTsN 4 Blitar juga memiliki ruang untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi tersebut, termasuk langkah-langkah yang telah, sedang, atau akan dilakukan untuk menangani kebersihan lingkungan yang dikeluhankan warga.

JNO membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak MTsN 4 Blitar maupun Kepala Sekolah Tati Farida, S.Pd., M.Si., sehingga informasi yang berkembang dapat disampaikan secara berimbang kepada publik.

Sebab, menjaga kebersihan lingkungan sekolah pada akhirnya bukan hanya persoalan estetika. Ia merupakan cermin kepedulian, keteladanan, dan tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan dan masyarakat yang hidup berdampingan di sekitarnya. *(Merah)

Festival Es Campur Indonesia, dari Lomba Kuliner hingga Rencana Bisnis

By On Agustus 25, 2026


Festival Es Campur Indonesia di Istana Gaujari Blitar

Festival Es Campur Indonesia digelar di Aula Gaujari Palace, Desa Kerjen, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Selasa (25/8/2026).

Blitar, Jawa Timur — JinNewsOne.com | Selasa, 25 Agustus 2026 — Festival Es Campur Indonesia yang digelar Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Nurhadi, di Gaujari Palace, Desa Kerjen, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, mengusung konsep lomba “Penyaji Es Campur Terlezat.”

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Puluhan peserta mengikuti kompetisi dengan menghadirkan berbagai racikan es campur yang dinilai dari aspek rasa, penampilan, dan kreativitas.

Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat umum. Sejumlah media awak juga ikut ambil bagian dalam kompetisi, sehingga suasana festival berlangsung semakin meriah dan interaktif.

Nurhadi saat memberikan apresiasi kepada pemenang lomba. Foto dok. *Red.

Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat umum. Sejumlah media awak juga ikut ambil bagian dalam kompetisi, sehingga suasana festival berlangsung semakin meriah dan interaktif.

Di balik kegiatan yang bernuansa hiburan tersebut, terdapat pula rencana pengembangan bisnis kuliner. Nurhadi menyampaikan bahwa festival menjadi salah satu sarana untuk melihat secara langsung kreativitas peserta sekaligus mendapatkan inspirasi bagi rencana usaha resto es campur yang akan dikembangkan.

“Festival ini dalam ikut rangka memeriahkan HUT RI. Di samping itu, saya juga punya niat membuka usaha resto es campur, dengan rencana launching pertama di Kediri,” kata Nurhadi.

Menurut Nurhadi, berbagai racikan yang disajikan peserta berpotensi memberikan inspirasi terhadap pengembangan menu. Bahkan, ia membuka kemungkinan resep dari peserta dapat menjadi bagian dari menu resto yang direncanakannya.

Selain potensi pengembangan resep, festival tersebut juga membuka peluang bagi peserta yang memenuhi kriteria untuk terlibat dalam usaha kuliner tersebut. Mereka berpeluang direkrut sebagai pramusaji maupun tenaga pembuat es campur ketika resto mulai beroperasi.

Dengan demikian, Festival Es Campur Indonesia tidak sekadar menjadi lomba kuliner dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan kreativitas masyarakat, potensi kuliner, dan peluang pengembangan usaha.

Rencana tersebut sekaligus memberikan dimensi berbeda pada festival yang digelar di Istana Gaujari. Dari sebuah kompetisi penyajian es campur, kegiatan ini diarahkan untuk menggali ide, menemukan potensi sumber daya manusia, serta melihat peluang bisnis kuliner yang dapat dikembangkan lebih lanjut. *(Red)


Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat Diikuti Sekitar 5.000 Peserta

By On Agustus 23, 2026


Peserta Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat melepas burung merpati di Blitar Antusiasme peserta mengikuti Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat Blitar, Minggu (23/8/2026).

Blitar, Jawa Timur | JNO  — Ribuan masyarakat mengikuti Jalan Sehat dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-12 Kampung Coklat, Minggu (23/8/2026). Kegiatan yang terbuka untuk masyarakat umum tersebut mengusung tema “Sehatkan Raga, Cerahkan Rasa” dan dipusatkan di kawasan Wisata Edukasi Kampung Coklat, Kabupaten Blitar.


Jalan sehat dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dengan rute sejauh kurang lebih 2 kilometer. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Harlah ke-12 sekaligus menjadi sarana olahraga, rekreasi, dan silaturahmi masyarakat.


Kampung Coklat, Destinasi Wisata Keluarga dari Blitar untuk Indonesia


Kampung Coklat bukan sekadar lokasi penyelenggaraan kegiatan Harlah. Kawasan ini telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di Kabupaten Blitar yang dikenal dengan konsep wisata berbasis kakao, rekreasi keluarga, kuliner, serta edukasi pengolahan cokelat.


Konsep tersebut membuat Kampung Coklat menjadi tujuan wisata bagi masyarakat dari berbagai daerah, tidak hanya dari Blitar. Pemerintah Kabupaten Blitar sebelumnya juga mencatat bahwa pengunjung Kampung Coklat datang tidak hanya dari masyarakat setempat, tetapi juga dari luar daerah.


Popularitasnya sebagai destinasi wisata keluarga juga didukung oleh beragam fasilitas yang tersedia di dalam kawasan, mulai dari paket wisata edukasi, wahana permainan, area kuliner, galeri produk cokelat, area wisata, hingga fasilitas untuk berbagai kegiatan dan acara.


Melalui paket wisata edukasi, pengunjung tidak hanya menikmati suasana rekreasi, tetapi juga dapat mengenal tanaman kakao serta proses pengolahan cokelat dari hulu hingga hilir. Konsep inilah yang menjadikan Kampung Coklat memiliki daya tarik tersendiri bagi wisata keluarga maupun kegiatan edukasi.


Kampung Coklat berlokasi di Jl. Banteng–Blorok No. 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur 66161.


Dengan konsep wisata yang memadukan edukasi, rekreasi, kuliner, dan produk olahan cokelat, Kampung Coklat terus menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Pada sejumlah periode liburan, kawasan ini juga dikenal ramai dikunjungi wisatawan dan pemudik yang datang ke Blitar.


Jalan Sehat Diikuti Sekitar 5.000 Peserta


Ketua Pelaksana Harlah ke-12 Kampung Coklat, Abdul Haris Fauzan, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Berdasarkan jumlah kupon yang terjual hingga sehari sebelum pelaksanaan, peserta yang mengikuti jalan sehat diperkirakan mencapai sekitar 5.000 orang.


“Alhamdulillah sudah ada 5.000 peserta terdaftar untuk melaksanakan bersama-sama agenda jalan sehat hari ini,” kata Abdul Haris.


Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan memberikan manfaat dan keberkahan bagi Kampung Coklat serta menjadi momentum untuk mengapresiasi masyarakat yang telah ikut menyukseskan seluruh rangkaian Harlah ke-12.


Selain berolahraga bersama, peserta juga mendapatkan kesempatan memenangkan berbagai hadiah. Hadiah utama yang disiapkan panitia berupa satu unit sepeda motor Honda Beat, dengan pajak hadiah ditanggung oleh pihak penyelenggara.


Selain sepeda motor, panitia juga menyediakan sepeda gunung, mesin cuci, serta puluhan hadiah lainnya.


Abdul Haris menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, termasuk sejumlah sponsor dari sektor perbankan dan pihak lainnya.


“Hadiah utama ada motor Beat, ada sepeda gunung, ada mesin cuci, dan juga ada puluhan hadiah lainnya,” ujarnya.


Tiket Rp5.000, Peserta Dapat Kupon Berhadiah


Dari sisi biaya, peserta cukup membayar Rp5.000 untuk mendapatkan kupon jalan sehat berhadiah. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya yang mencapai Rp10.000.


“Untuk tiket sangat terjangkau, malah turun harga. Tahun lalu Rp10.000, hari ini tiketnya cukup dengan Rp5.000 saja. Peserta sudah mendapatkan kupon jalan sehat berhadiah,” jelas Abdul Haris.


Ia menambahkan, rute jalan sehat yang ditempuh relatif ringan, yakni sekitar 2 kilometer atau kurang lebih 4.000 langkah. Jarak tersebut dipilih agar kegiatan dapat diikuti masyarakat dari berbagai kelompok usia.


“Yang penting peserta berjalan sehat, kira-kira ada 4.000 langkah dan itu sesuai kriteria untuk menyehatkan kita sehari-hari,” katanya.


Peserta: Bisa Olahraga, Berkumpul, Sekaligus Berpeluang Mendapat Hadiah


Antusiasme juga dirasakan langsung oleh peserta. Salah satunya Muji Cahyono, 49 tahun, warga Desa Plosorejo yang mengikuti jalan sehat bersama masyarakat lainnya.


Muji mengaku kegiatan tersebut menarik karena tidak hanya menjadi kesempatan untuk berolahraga, tetapi juga menjadi ajang berkumpul bersama masyarakat.


“Bagus sekali. Bagusnya itu kita bisa kumpul, bisa olahraga bersama, terus siapa tahu dapat hadiah,” ujarnya.


Pada pelaksanaan tahun ini, Muji membeli delapan kupon, masing-masing seharga Rp5.000. Ia juga mengaku sebelumnya pernah mengikuti kegiatan serupa pada perayaan Harlah Kampung Coklat tahun lalu dan sempat mendapatkan hadiah doorprize, meskipun bukan hadiah utama.


Bagi Muji, keberadaan hadiah menjadi salah satu daya tarik tambahan bagi masyarakat untuk berpartisipasi. Ia berharap jumlah hadiah pada kegiatan serupa ke depan dapat semakin banyak sehingga lebih banyak peserta berkesempatan mendapatkannya.


Jalan Sehat Harlah ke-12 Kampung Coklat pun tidak hanya menjadi agenda olahraga bersama. Kegiatan tersebut sekaligus menghadirkan ruang interaksi masyarakat dalam suasana perayaan, mempererat kebersamaan, serta memperkuat posisi Kampung Coklat sebagai destinasi wisata edukasi dan rekreasi keluarga yang menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Blitar. *(Red)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *