Blitar Drum/Percussion Night - Minus-One: Panggung Drummer, Talenta Lokal dan UMKM
On September 28, 2026
Blitar, Jawa Timur | JNO — Ketika panggung musik biasanya didominasi vokalis dan grup band, Kota Blitar justru membuka ruang berbeda. Blitar Drum/Percussion Night menghadirkan sekitar 15 drummer dalam pertunjukan drum minus-one di area parkir Pasar Wage, Jalan Mastrip, Kota Blitar, Minggu malam (27/9/2026).
Konsep tersebut menempatkan permainan drum sebagai pusat pertunjukan. Para drummer tampil secara langsung dengan format play along, sementara instrumen musik lainnya menggunakan rekaman minus-one. Masing-masing drummer sedikitnya memainkan dua judul lagu.
Menurut Tito, Penasehat Blitar Drum/Percussion Night, konsep pertunjukan tersebut diklaim sebagai format yang baru pertama kali digelar di Indonesia, dengan Kota Blitar sebagai pencetus sekaligus pelaksana.
“Ini baru pertama kali digelar di Indonesia, tepatnya di Kota Blitar,” ujar Tito.
Klaim tersebut menjadi bagian dari semangat penyelenggara untuk membawa kegiatan musik berbasis komunitas menjadi agenda yang lebih berkelanjutan.
Sembilan Tahun Bergerak Secara Swadaya
Tito mengatakan, kegiatan ini tidak lahir secara tiba-tiba. Komunitas drum di Blitar telah menjalankan parade drum dan berbagai kegiatan selama sekitar sembilan tahun.
Namun, menurut dia, kegiatan tersebut selama ini lebih banyak berjalan secara mandiri.
Pendanaan Blitar Drum/Percussion Night perdana juga berasal dari swadaya dan iuran sukarela atau sambatan dari para pendukung kegiatan.
Di sisi lain, antusiasme penonton, musisi, drummer serta pelaku UMKM disebut cukup positif.
Tito berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi event yang lebih besar dan memiliki jangkauan nasional.
Penyelenggara bahkan merencanakan Blitar Drum/Percussion Night digelar setiap tiga bulan sekali.
Dari sekitar 15 drummer yang tampil, sembilan berasal dari Kota Blitar dan enam lainnya dari Kabupaten Blitar.
Bukan Sekadar Parade
Tito juga menyoroti karakter yang ingin dibangun dari kegiatan drum di Blitar.
Menurutnya, parade di sejumlah daerah sering menggunakan konsep cover lagu dengan jumlah pemain yang sangat besar. Blitar mencoba mengambil pendekatan berbeda dengan mengembangkan konsep sendiri yang belum ada di Indonesia, yaitu full ekspose drummer.
Bagi penyelenggara, kreativitas tersebut merupakan bagian dari upaya membangun identitas pertunjukan musik lokal yang berpotensi viral secara nasional.
Tito juga mengingat tradisi berkumpulnya para musisi lintas generasi pada momentum tertentu, termasuk Malam Takbir.
Menurut dia, kerinduan untuk kembali berkumpul dan bermain musik menjadi salah satu latar belakang kuat berkembangnya kegiatan tersebut.
DPRD Soroti Talenta Musisi Blitar
Anggota DPRD Kota Blitar, Yasa Kurniawanto, Johan Marihot, Purwanto hadiri Blitar Drum/Percussion Night, 27/09/2026. (ki-ka).
Pertunjukan tersebut mendapat perhatian Yasa Kurniawanto, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Blitar yang hadir bersama rekan Anggota DPRD Kota Blitar Komisi lainnya.
Yasa mengatakan Blitar Raya memiliki banyak musisi dengan kemampuan di bidang masing-masing.
Ia melihat pertunjukan drummer malam itu juga menunjukkan adanya regenerasi karena pemain yang tampil berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, anak muda hingga dewasa.
“Di Blitar Raya ini saya yakini dan saya ketahui sendiri tidak kurang musisi-musisi yang hebat di bidangnya masing-masing,” kata Yasa.
Menurutnya, dukungan terhadap kegiatan semacam ini juga dapat dikaitkan dengan pengembangan talenta generasi muda.
Ia mengapresiasi kegiatan yang masih dilakukan secara swadaya serta kehadiran para pihak yang memberikan dukungan.
Musik dan UMKM Bisa Berjalan Bersama
Sementara itu, Purwanto, Anggota Komisi III DPRD Kota Blitar, menilai kegiatan tersebut memiliki potensi tidak hanya sebagai ruang kreativitas musisi, tetapi juga sebagai penggerak aktivitas UMKM.
Ia mendorong agar event serupa terus dikembangkan dan dilaksanakan pada akhir pekan sehingga lebih mudah diakses masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.
“Kalau bisa diadakan malam Minggu atau hari Minggu,” ujar Purwanto.
Menurutnya, kegiatan musik yang menghadirkan masyarakat dalam jumlah besar dapat menciptakan aktivitas ekonomi bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi.
Ia juga berharap para pencinta musik dan band terus memperoleh ruang untuk berkreativitas.
Gagasan Kawasan Kreatif Jalan Mastrip-TGP
Purwanto bahkan melihat kegiatan seni dan UMKM dapat dikembangkan lebih jauh sebagai bagian dari aktivitas kawasan.
Ia menyampaikan gagasan agar kawasan Jalan Mastrip hingga TGP secara bertahap dapat berkembang menjadi kawasan yang ramai oleh kegiatan masyarakat dan ekonomi kreatif.
“Dengan berjalannya waktu, kita berharap Jalan Mastrip sampai TGP bisa seperti Malioboro,” ungkapnya.
Purwanto juga menyebut dirinya tergabung dalam perkumpulan musik keroncong. Kondisi tersebut membuka peluang kolaborasi antara berbagai komunitas musik di Kota Blitar.
Akan Dibawa ke Forum DPRD
Dukungan, menurut Purwanto, diharapkan tidak berhenti pada kehadiran di lokasi acara.
Ia menyampaikan rencana untuk mengagendakan pembahasan kegiatan tersebut bersama Ketua DPRD Kota Blitar, agar dapat dibicarakan lebih lanjut dalam forum DPRD.
Salah satu gagasan yang muncul adalah membuka lebih banyak ruang pertunjukan bagi musisi sekaligus menghubungkannya dengan penguatan UMKM.
Bagi para penyelenggara, Blitar Drum/Percussion Night menjadi pembuktian bahwa event musik dapat lahir dari inisiatif komunitas dengan dukungan swadaya.
Namun, perjalanan berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan menjaga konsistensi event, memperluas partisipasi musisi, serta membangun kolaborasi antara komunitas, UMKM dan pemerintah.
Dari panggung drum di Pasar Wage, sebuah ruang baru bagi musisi Blitar mulai diketuk. Pertanyaannya kini bukan sekadar seberapa keras suara drum terdengar, tetapi seberapa jauh ruang kreativitas itu dapat bertahan dan berkembang menjadi ekosistem musik serta ekonomi kreatif di Kota Blitar.
Apa Itu Drum Minus-One?
Drum minus-one atau drum play-along merupakan format pertunjukan ketika drummer memainkan drum secara langsung, sedangkan instrumen musik lainnya menggunakan rekaman.
Format ini memberikan ruang bagi drummer untuk menampilkan teknik, musikalitas, interpretasi dan kreativitas permainan secara lebih menonjol. *(Red)

