Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

Labels

Topik

Terpopuler

Trending

🔴 BREAKING
Memuat berita terbaru...
Dana Desa Terpangkas 70 Persen, Kades di Blitar Hadapi Tekanan Pembangunan dan Pilkades

By On Oktober 01, 2026


Kepala desa Kabupaten Blitar dalam sosialisasi membahas Dana Desa dan Pilkades 2027

Blitar, Jawa Timur — Pemerintah desa di Kabupaten Blitar menghadapi tantangan berlapis menjelang 2027. Selain harus mempertahankan keberlanjutan pembangunan di tengah pemotongan Dana Desa, pemerintah desa juga bersiap menghadapi pergantian Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pemilihan kepala desa, hingga kewajiban memenuhi hak purna tugas.


Persoalan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi dewan (Sowan) yang dihadiri lebih dari 100 kepala desa. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur F-PDIP, Guntur Wahono, menyoroti pemotongan Dana Desa hingga 70 persen yang dinilai berdampak langsung terhadap kemampuan desa menjalankan pembangunan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.


Menurut Guntur, ketika anggaran Dana Desa masih tersedia secara penuh saja, sejumlah sektor kebutuhan masyarakat belum seluruhnya dapat terdanai. Karena itu, pengurangan anggaran hingga 70 persen menjadi tantangan serius bagi pemerintah desa.


“Dengan anggaran yang sebelumnya 100 persen cair saja masih banyak sektor masyarakat yang belum terdanai,” ujar Guntur.


Ia menjelaskan, kebijakan tersebut berkaitan dengan sejumlah program strategis pemerintah pusat, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, diperlukan alternatif sumber pembiayaan agar pelaksanaan program strategis nasional tidak semakin membebani Dana Desa.


Hadapi Pilkades dan Beban Desa 2027


Selain persoalan anggaran, tahun 2027 juga diperkirakan menjadi periode penuh tantangan bagi pemerintah desa.


Guntur menyebut adanya agenda pergantian BPD, pemilihan kepala desa, kewajiban pemberian pesangon bagi kepala desa yang purna tugas, serta kebutuhan melanjutkan pembangunan desa.


Dalam kondisi tersebut, sejumlah kepala desa disebut mulai melihat sumber pembiayaan alternatif, termasuk melalui dana aspirasi anggota DPRD, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.


Namun, Guntur mengakui bahwa efisiensi anggaran dari pemerintah pusat turut membatasi kemampuan anggota dewan dalam merealisasikan seluruh usulan aspirasi masyarakat yang telah ditampung.


PKDI Dorong Petahana Tetap Bijak


Sementara itu, Rudi Purwono, S.Sos., M.AP., Kepala Desa Karanggondang, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Blitar, menyampaikan bahwa organisasi PKDI terus melakukan persiapan menghadapi pemilihan kepala desa serentak.


Menurutnya, organisasi memberikan masukan dan motivasi kepada para kepala desa petahana yang kembali mencalonkan diri. Pesan yang diberikan adalah agar para incumbent memahami bahwa mempertahankan jabatan bukan perkara mudah.


“Melakukan sesuatu harus dengan kearifan. Yang negatif diubah menjadi positif,” ujarnya.


Dari 30 desa yang mengikuti pemilihan tahun ini, tercatat 16 desa di antaranya diikuti oleh petahana.


PKDI, lanjut Rudi, berkomitmen menjaga situasi tetap kondusif sekaligus mendorong netralitas kepala desa. Koordinasi lintas sektor, termasuk dengan kepolisian, juga disiapkan untuk memastikan proses pemilihan berlangsung secara aman dan adil.


PKDI bahkan berencana menggelar kegiatan bersama para calon kepala desa sebagai bagian dari upaya menjaga suasana demokrasi tetap sehat.


Prinsip yang dikedepankan sederhana: yang menang tidak jumawa, sementara yang kalah tidak dikuyo-kuyo.


Kepala Desa Antusias Sampaikan Aspirasi


Rudi juga mengapresiasi kegiatan sosialisasi yang dinilainya memberikan manfaat besar bagi pemerintah desa. Ia menyebut Guntur Wahono sebagai salah satu tokoh yang selama ini dinilai memiliki perhatian terhadap persoalan pemerintahan desa.


Antusiasme terlihat dari jumlah peserta yang hadir. Lebih dari 100 kepala desa mengikuti kegiatan tersebut, bahkan jumlahnya melampaui kuota yang sebelumnya disiapkan.


Menurut Rudi, kondisi internal PKDI sendiri relatif solid. Tidak terdapat persoalan berarti di tubuh organisasi, sementara kepala desa yang belum bergabung disebut mulai menunjukkan ketertarikan untuk ikut menjadi bagian dari organisasi.


Bagi Guntur, tingginya kehadiran kepala desa menunjukkan pentingnya ruang dialog antara pemerintah desa dan wakil rakyat.


Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sehingga kepala desa memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan, persoalan, sekaligus harapan terkait pembangunan dan pemerintahan desa.


Di tengah tekanan anggaran dan agenda politik desa yang semakin kompleks, komunikasi lintas pemerintahan dinilai menjadi bagian penting agar persoalan desa tidak berhenti sebagai daftar aspirasi, tetapi dapat diperjuangkan sesuai kewenangan dan kemampuan anggaran yang tersedia. *(Red)

Pendidikan Generasi Muda di Era Digital Jadi Sorotan, Bullying hingga Karakter Pancasila Dibahas

By On September 27, 2026


Blitar, Jawa Timur | JNO — Pendidikan generasi muda dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Di tengah perkembangan teknologi digital, penguatan karakter, keterampilan, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta pencegahan perundungan menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi masa depan.


Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Pendidikan Generasi Muda untuk Menghadapi Tantangan Zaman di Esteje Cafe, Desa Tulungrejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Sabtu (26/9/2026).


Kegiatan menghadirkan Guntur Wahono, S.E., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan, Rangga Bisma Aditya, S.Sosio., Ketua KPU Kota Blitar, Muhammad Yahya, Sekretaris PW IPNU Jawa Timur, serta Muhammad Miftahu Surur, Ketua PC IPNU Kabupaten Blitar, dengan puluhan peserta dari kalangan Gen Z.


Tantangan Pendidikan di Era Digital


Rangga Bisma Aditya menyoroti perubahan pendidikan di tengah peradaban digital. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai Pancasila agar karakter kebangsaan tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan.


Ia juga menilai sistem pendidikan perlu terus disesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk penguatan pendidikan keluarga, parenting, serta penanganan bullying dan cyberbullying yang kini dapat terjadi di ruang digital.


Peran komite sekolah, menurutnya, juga perlu diperluas. Tidak hanya menangani persoalan fasilitas maupun kebutuhan sekolah, tetapi turut menjadi bagian dari edukasi pengasuhan, pendidikan karakter dan pencegahan perundungan.


Aspirasi Pelajar: Bullying hingga Guru Honorer


Ketua PC IPNU Kabupaten Blitar Muhammad Miftahu Surur menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.


Sejumlah isu yang disampaikan antara lain perundungan di kalangan pelajar, akses dan fasilitas pendidikan, serta kesejahteraan guru honorer.


Ia berharap forum serupa tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat memberikan dampak lebih luas bagi pelajar di Kabupaten Blitar.


Sementara Muhammad Yahya menilai diskusi yang mempertemukan pelajar, praktisi pendidikan dan aktivis perlu terus digalakkan.


Ia juga mendorong agar aspirasi generasi muda dapat dikemas melalui ruang digital. Pelatihan pembuatan konten video di berbagai platform media sosial dinilai dapat menjadi sarana menyampaikan pesan moral dan gagasan anak muda secara kreatif.


Guntur Wahono: Perlu Tindak Lanjut

Guntur Wahono menegaskan, persoalan anak muda dan perundungan tidak cukup dibahas dalam satu pertemuan. Menurutnya, perlu ada forum lanjutan dengan melibatkan pemerintah daerah, dinas terkait dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan.


Aspirasi pelajar, kata Guntur, perlu diakomodasi agar dapat menjadi bahan dalam penyusunan kebijakan.


Ia juga mendorong pertemuan yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak kelompok pelajar dan organisasi kepemudaan. Menurutnya, sinergi antara kelompok nasionalis dan religius juga penting untuk membangun masyarakat yang maju, berwawasan dan memiliki kepedulian sosial.


Dalam forum tersebut, Guntur turut menyampaikan pandangan mengenai pentingnya generasi muda memahami kehidupan politik dan kebangsaan.


Pendidikan, Karakter dan Masa Depan Generasi Muda


Sosialisasi tersebut menjadi ruang dialog antara pelajar, organisasi kepemudaan, penyelenggara pemilu dan wakil rakyat. Berbagai persoalan mulai pendidikan karakter, transformasi digital, parenting, bullying, cyberbullying, fasilitas pendidikan hingga kesejahteraan guru honorer menjadi bagian dari pembahasan.


Forum tersebut menegaskan pentingnya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga berkarakter, kreatif, adaptif dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.


Aspirasi generasi muda pun diharapkan tidak berhenti di ruang diskusi, melainkan dapat diteruskan menjadi perhatian dan bahan pertimbangan dalam  Dari kebijakan pendidikan dan pembangunan daerah. *(Red)







Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *